Khutbah Jumat: Mengelola Perbedaan di Tengah Badai Geopolitik

 Khutbah Jumat: Mengelola Perbedaan di Tengah Badai Geopolitik

Oleh:

Dr. Salahuddin El Ayyubi, Lc., M.A.

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِهِ جَمِيعًا، وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالِاخْتِلَافِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

(آل عمران: 103)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari-hari ini, mata dan telinga kita disuguhkan pada eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah. Tensi antara Iran dengan hegemoni Amerika dan sekutunya, Israel, berada di titik didih. Perang rudal, ancaman militer, dan unjuk kekuatan menghiasi lini masa kita.

Namun, yang lebih menyayat hati bukanlah dentuman rudal di langit sana, melainkan “ledakan” perpecahan yang terjadi di akar rumput umat Islam itu sendiri. Hari ini, umat seolah dipaksa terbelah menjadi dua kubu ekstrem.

Kubu pertama bersorak mendukung Iran karena menganggap mereka sebagai satu-satunya entitas yang hari ini bernyali menantang arogansi Amerika dan Israel, di saat negara-negara mayoritas Muslim lainnya memilih bungkam. Sementara kubu kedua menolak mentah-mentah dukungan tersebut dengan alasan sejarah teologis dan perbedaan akidah, mengingat Iran adalah representasi Syiah.

Dilema ini memicu debat kusir yang tak berkesudahan. Saudara saling mencaci dengan saudara. Masjid dan majelis ilmu menjadi arena permusuhan.

Jamaah sekalian,

Tidakkah kita sadar? Saat kita sibuk merobek ukhuwah kita sendiri, di seberang sana musuh utama kemanusiaan sedang tertawa. Inilah skenario klasik divide et impera—pecah belah dan kuasai. Mereka mengeksploitasi retakan kecil di rumah kita agar kita hancur dari dalam.

Maka, melalui mimbar Jumat yang mulia ini, mari kita gunakan kacamata kedewasaan, kacamata Fiqh al-Muwazanat (fikih prioritas), untuk mendudukkan persoalan ini secara proporsional.

Pertama: Bersikap Proporsional

Saudaraku, dalam menyikapi konflik ini, umat tidak perlu menjadi pendukung fanatik, tidak pula menjadi pembenci yang buta. Gunakan akal sehat dan prinsip keadilan yang diajarkan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Mari kita membuka lembaran Surah Ar-Rum. Ketika Romawi (Ahlul Kitab) menang melawan Persia (musyrik), umat Islam di Makkah bergembira, dan Al-Qur’an mengabadikan kegembiraan itu. Apakah karena mereka membenarkan akidah Trinitas Romawi? Tentu tidak. Mereka bergembira karena kekalahan pihak yang lebih zalim.

Logikanya sederhana. Bayangkan umat ini berada di atas sebuah kapal besar. Tiba-tiba, ada musuh penjajah Zionis yang mengebor dasar kapal untuk menenggelamkan semuanya. Di saat dunia terdiam, tiba-tiba ada penumpang lain—yang mungkin berbeda akidah dan mazhab dengan kita—maju dan menghentikan tangan musuh tersebut.

Apakah dalam kondisi genting itu kita akan berkata, “Jangan selamatkan kapal ini karena akidahmu berbeda”? Tentu tidak bijak. Kita wajib mengapresiasi siapa pun yang secara nyata menghentikan kezaliman. Namun, mengapresiasi tindakan tidak berarti menggadaikan akidah Ahlussunnah. Ruang debat teologi adalah di ranah akademik, bukan saat umat berada di ambang kehancuran.

Di sisi lain, bagi yang mendukung perlawanan tersebut, jangan terjebak pada euforia berlebihan. Kita harus cerdas membaca peta geopolitik. Setiap negara bergerak dengan agenda dan kepentingannya masing-masing.

Jangan sampai kita menjadi suporter fanatik yang kehilangan nalar. Ketergantungan berlebihan kepada pihak lain justru menjadi salah satu sebab kelemahan umat.

Maka, sikap terbaik adalah proporsional: mendukung perlawanan terhadap kezaliman, menjaga kemurnian akidah, serta menyadari bahwa nasib umat tidak boleh digantungkan kepada siapa pun selain kepada Allah SWT.

Kedua: Kembalikan Kompas Umat

Alih-alih menjadi “suporter fanatik” suatu negara, mari kita kembalikan fokus kepada kiblat perjuangan umat yang sejati. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 75:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ…

“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas…”

Jamaah sekalian, tangisan anak-anak Gaza adalah kompas kita. Isu utamanya bukan siapa pahlawannya, melainkan bagaimana kezaliman itu dihentikan.

Jika umat sibuk saling mencabik, lalu siapa yang akan menjawab doa para mustadh’afin di Palestina?

Ketiga: Berhenti Menjadi Penonton

Mari kita lakukan otokritik. Mengapa umat selalu terjebak pada dilema “mendukung siapa”?

Jawabannya: karena kita belum memiliki kekuatan sendiri. Kita kehilangan bargaining power dan dipaksa menjadi pion dalam permainan pihak lain.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 60:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

(HR. Muslim)

Kekuatan hari ini bukan hanya fisik, tetapi juga teknologi, ekonomi, dan kemandirian pangan.

Dilema geopolitik ini harus menjadi cambuk bagi kita. Ini adalah panggilan untuk melahirkan generasi kuat: ilmuwan, teknokrat, ekonom, dan pemimpin yang membangun kemandirian umat.

Musuh terbesar umat bukan perbedaan, melainkan kegagalan mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Semoga Allah menyatukan hati kita dan menjadikan kita umat yang kembali memimpin peradaban dengan keadilan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di penghujung khutbah ini, mari kita menundukkan jiwa, menyatukan niat, dan menengadahkan tangan memohon kepada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Ya Allah, satukanlah hati umat ini dalam ukhuwah Islamiyah. Jauhkan kami dari perpecahan, kebencian, dan sikap merasa paling benar sendiri.

Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepada saudara-saudara kami di Palestina dan seluruh negeri yang tertindas. Berikan mereka kesabaran dan kemenangan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kedewasaan berpikir dan kekuatan. Bangkitkan generasi yang mampu membawa umat ini menuju kemandirian dan kemuliaan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ…

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + nine =