Ketum Muhammadiyah: Pendidikan Kunci Membangun Persatuan dan Peradaban Bangsa

 Ketum Muhammadiyah: Pendidikan Kunci Membangun Persatuan dan Peradaban Bangsa

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat meresmikan gedung lantai 6 SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman Sidoarjo atau SD Mumtaz pada Sabtu (10/10). [foto: muhammaadiyah.or.id

Muhammadiyah Hadirkan Pendidikan untuk Semua

Haedar menekankan bahwa layanan pendidikan Muhammadiyah harus bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan (SARA).

Prinsip inklusivitas tersebut menjadi landasan Muhammadiyah dalam mengembangkan institusi pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kawasan Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua, hingga kawasan 3T (terdepan, terluar, dan terpencil).

Haedar menyadari bahwa upaya mencerdaskan bangsa masih memerlukan proses panjang, terutama dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter manusia.

“Saya yakin 30–50 tahun ke depan, kita harus jadi bangsa yang maju karena pendidikannya maju,” tuturnya.

Ia menilai bahwa pembangunan bangsa tidak boleh hanya bertumpu pada aktivitas politik semata. Pembangunan nasional membutuhkan penguatan yang seimbang di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

“Politik penting, tentu menjadi porsinya partai politik, tapi kita terus membangun pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, budaya, dan kecerdasan masyarakat,” ungkapnya.

Haedar meyakini bahwa keberhasilan di sektor pendidikan secara langsung akan menopang peningkatan kualitas kehidupan politik dan kemasyarakatan. Oleh karena itu, energi kolektif bangsa sepatutnya diarahkan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara luas.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan setiap persoalan bangsa secara konstruktif, terbuka, dan demokratis sesuai porsinya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak membesar-besarkan masalah kecil sambil mengabaikan persoalan-persoalan besar yang jauh lebih mendesak.

Sikap kritis, menurut Haedar, harus selalu dibersamai dengan pencarian solusi nyata dan kemauan untuk menyelesaikan masalah secara bergotong royong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =