Kesetiaan dan Pengorbanan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar As-Shiddiq
Totalitas Pengorbanan: Dari Mekkah hingga Gua Tsaur
Pengorbanan Abu Bakar tidak dimulai saat beliau menjabat sebagai Khalifah, melainkan sejak hari pertama beliau bersyahadat. Di Mekkah, saat dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, Abu Bakar sering menjadi “perisai hidup” bagi Rasulullah.
Suatu ketika, saat Rasulullah Saw sedang shalat di Ka’bah dan kaum Quraisy mencoba mencekik beliau, Abu Bakar datang menghalau mereka sambil berteriak, “Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia berkata Tuhanku adalah Allah?” (As-Suyuti, 2015). Akibat tindakan ini, Abu Bakar dipukuli hingga pingsan dan wajahnya sulit dikenali.
Puncak dari kesetiaan ini adalah saat Hijrah. Abu Bakar tidak hanya menemani perjalanan fisik, tetapi memberikan perlindungan emosional dan keamanan. Saat berada di Gua Tsaur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada ular atau kalajengking yang membahayakan Rasulullah. Beliau menutup lubang-lubang di dinding gua dengan sobekan pakaiannya sendiri (Ash-Shalabi, 2013).
Jihad dengan Harta: Menyisakan Allah dan Rasul-Nya
Jika bicara soal kedermawanan, Abu Bakar adalah tolok ukur tertinggi. Beliau dikenal sebagai sahabat yang membebaskan Bilal bin Rabah dan budak-budak lain yang disiksa majikannya dengan harga yang sangat mahal. Namun, momen yang paling mengharukan adalah saat persiapan Perang Tabuk.
Ketika Rasulullah Saw meminta sumbangan dari para sahabat, Umar bin Khattab membawa setengah hartanya dengan harapan bisa mengungguli Abu Bakar. Namun, Abu Bakar datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika Rasulullah bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab dengan tenang, “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya” (As-Suyuti, 2015).
Kekayaan bagi Abu Bakar hanyalah sarana. Beliau mengerti bahwa harta yang sesungguhnya adalah harta yang diinfakkan di jalan Allah. Catatan dalam Al-Bidayah wa Nihayah menegaskan bahwa tidak ada harta sahabat lain yang memberikan manfaat bagi dakwah Islam sebesar harta Abu Bakar (Ibnu Katsir, 2018).
Khalifah Pertama: Penyelamat Umat di Tengah Badai
Wafatnya Rasulullah Saw adalah guncangan terbesar bagi umat Islam. Di saat para sahabat besar seperti Umar bin Khattab tenggelam dalam kesedihan yang mendalam, Abu Bakar tampil dengan ketegaran luar biasa. Beliau berpidato, “Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati” (Ash-Shalabi, 2013).
Setelah dibaiat di Saqifah Bani Sa’idah, Abu Bakar menghadapi tantangan yang sangat berat: munculnya nabi-nabi palsu (seperti Musailamah al-Kadzdzab) dan fenomena kemurtadan massa serta penolakan membayar zakat. Dengan ketegasan yang tak terduga dari pribadinya yang lembut, beliau mencetuskan Perang Riddah.
Beliau berkata, “Demi Allah, jika mereka menolak membayarkan seekor tali unta yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka” (As-Suyuti, 2015). Keputusan ini menyelamatkan eksistensi Islam dan menjaga kemurnian syariat dari upaya distorsi pasca-kenabian.
Keistimewaan Kepribadian di Sisi Rasulullah
Apa yang membuat Abu Bakar begitu spesial? Selain keimanannya yang jika ditimbang akan lebih berat dari iman seluruh penduduk bumi, beliau memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Namun, di balik kelembutan itu terdapat keberanian baja.
Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa semua pintu rumah yang menghadap ke masjid harus ditutup, kecuali pintu Abu Bakar (Khuhaikhah Abu Bakar). Ini merupakan isyarat kuat dari Nabi mengenai kedudukan istimewa beliau (Ibnu Katsir, 2018). Beliau adalah satu-satunya sahabat yang dipilih untuk mengimami shalat saat Rasulullah sedang sakit menjelang wafatnya.
Keistimewaan Abu Bakar terletak pada kesesuaian antara hati, lisan, dan perbuatan. Beliau tidak pernah mencari popularitas. Orientasi hidupnya hanya satu: ridha Allah dan keselamatan Rasul-Nya.[MSR]
