Kesetiaan dan Pengorbanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

 Kesetiaan dan Pengorbanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar As-Shiddiq

SEJARAH ISLAM tidak akan pernah utuh tanpa menyebut nama besar yang selalu bersanding di samping Rasulullah Saw, baik dalam suka maupun duka.

Beliau adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sosoknya bukan sekadar sahabat, melainkan pilar utama yang menopang dakwah Islam di masa-masa paling kritis.

Mengkaji kehidupan Abu Bakar adalah mengkaji tentang ketulusan yang melampaui logika dan pengorbanan yang tak menyisakan apa pun bagi diri sendiri.

Mengenal Sosok Sang Pembela Kebenaran

Abu Bakar lahir di Mekkah sekitar dua tahun beberapa bulan setelah tahun Gajah. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Quhafah (Utsman) bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab.

Garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah Saw pada kakeknya yang bernama Murrah bin Ka’ab (Ash-Shalabi, 2013). Beliau berasal dari suku Bani Taim, sebuah kabilah yang terpandang di kalangan Quraisy karena kejujuran dan kecerdasan dalam urusan perdagangan serta nasab.

Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar dikenal sebagai pribadi yang tenang, berwibawa, dan sangat menjauhi tradisi jahiliyah yang merendahkan martabat, seperti meminum khamr. Karena sifatnya yang tulus dan jujur, Rasulullah Saw memberikan gelar Ash-Shiddiq setelah peristiwa Isra Mi’raj, di mana Abu Bakar tanpa ragu sedikit pun membenarkan perjalanan Rasulullah saat banyak orang lain mendustakannya (As-Suyuti, 2015).

Garis Keturunan dan Keluarga yang Berkah

Pendidikan dan karakter Abu Bakar terpancar jelas pada keturunannya. Di antara anak-anak beliau yang paling menonjol dalam sejarah Islam adalah:

  • Aisyah binti Abu Bakar: Ibunda kaum mukminin (Ummul Mukminin) yang merupakan istri tercinta Rasulullah Saw. Beliau adalah salah satu perawi hadis terbanyak dan rujukan utama para sahabat dalam masalah fikih dan hukum Islam (Ibnu Katsir, 2018).
  • Abdullah bin Abu Bakar: Sosok pemuda cerdas yang memainkan peran krusial saat peristiwa hijrah. Abdullah bertugas mencari informasi di Mekkah pada siang hari dan menyampaikannya kepada Rasulullah dan ayahnya di Gua Tsaur pada malam hari (Ash-Shalabi, 2013).
  • Asma binti Abu Bakar: Dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang), yang dengan keberaniannya mengantar makanan ke Gua Tsaur meski dalam kondisi hamil tua.

Keluarga Abu Bakar adalah teladan sebuah rumah tangga yang seluruh anggotanya mendedikasikan hidup untuk perjuangan risalah nubuwah.

Sahabat Karib Sekaligus Mertua Rasulullah

Kedekatan Abu Bakar dengan Rasulullah Saw memiliki dimensi yang sangat unik. Beliau adalah sahabat paling awal dari kalangan laki-laki dewasa yang menerima Islam tanpa keraguan sedikit pun. Hubungan ini kemudian dipererat dengan ikatan kekeluargaan melalui pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah binti Abu Bakar.

Sebagai mertua, Abu Bakar tidak pernah merasa lebih tinggi. Sebaliknya, rasa hormatnya kepada sang menantu yang merupakan utusan Allah justru semakin dalam. Dalam pandangan Ibnu Katsir, kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah adalah seperti pendengaran dan penglihatan bagi tubuh (Ibnu Katsir, 2018). Beliau selalu hadir sebagai penenang di saat Rasulullah mengalami kesulitan dan menjadi orang pertama yang membela kehormatan Nabi di hadapan kaum kafir Quraisy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × one =