Kesabaran Abu Bakar As-Shiddiq
Abu Bakar As-Shiddiq
Mereka pun menegur Abu Bakar agar tidak memikirkan orang lain terlebih dahulu. Kemudian mereka berkata kepada ibu Abu Bakar, yaitu Ummu Al-Khair, “Uruslah dia dengan memberinya makan atau memberinya minum.”
Ketika ibunya sudah sendirian dengan Abu Bakar, sang ibu ini pun membujuknya makan. Namun Abu Bakar bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Ibunya menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu tentang sahabatmu itu.” Abu Bakar berkata, “Pergilah menemui Ummu Jamil binti Al-Khathab. Tanyakanlah keadaan beliau kepadanya.”
Ibunya lalu pergi untuk menemui Ummu Jamil. Ibu Abu Bakar berkata, “Abu Bakar bertanya kepadamu tentang keadaan Muhammad bin Abdullah.” Ummu Jamil menjawab, “Aku tidak tahu keadaan Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah. Apakah kamu ingin aku pergi bersamamu menemui putramu?” Sang ibu menjawab, “Ya.”
Lalu keduanya pun beranjak menunju rumah Abu Bakar, dan ketika sampai, keduanya mendapati Abu Bakar sedang tidak sadar. Ummu Jamil mendekat dan menampakkan suaranya. Ia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya orang-orang yang telah melakukan ini kepadamu adalah orang-orang fasik dan kafir. Aku berharap semoga Allah membalaskan mereka demi kamu.”
Tiba-tiba Abu Bakar bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Ummu Jamil menjawab, “Ini ibumu mendengarkan.”
Abu Bakar berkata, “Janganlah kamu takut dari ibuku.” Ummu Jamil menjawab, “Muhammad selamat dan baik-baik saja.”
Abu Bakar bertanya, “Di manakah dia?” Ummu Jamil menjawab, “Di rumah Ibnu Al-Arqam.” Abu Bakar berkata, “Aku berjanji kepada Allah tidak akan makan dan tidak akan minum sebelum aku mendatangi Rasulullah.”
Maka keduanya pun diam sejenak menunggu perkembangan kesehatan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar merasa agak baik dan orang-orang telah tenang, keduanya keluar dengan memapah Abu Bakar bersandar kepada keduanya.
Setelah keduanya masuk menemui Rasulullah, beliau memeluk dan menciumnya. Dan kaum muslimin pun ikut memeluknya. Dan Rasulullah mengelus-elus Abu Bakar dengan sangat halus.
Abu Bakar berkata, “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, aku tidak apa-apa kecuali apa yang dilakukan oleh orang-orang fasik terhadap wajahku.”
Abu Bakar sejatinya bisa saja menghindari cobaan ini semua. Namun, karena demi berdakwah kepada kebenaran, ia lebih memilih bersabar dan berani menanggung beban. []
