Kemenag Luncurkan Program Pesantren Bebas Tuberkulosis
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i. (Foto: Dok. Kemenag)
DELI SERDANG (Mediaislam.id)–Pemerintah meluncurkan Program Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) secara nasional untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan penyakit tuberkulosis di lingkungan pesantren. Program ini sekaligus bertujuan memastikan para santri memperoleh akses pelayanan kesehatan yang layak dan memadai.
Peluncuran program tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.
Wamenag Romo Muhammad Syafi’i mengatakan, program Pesantren Bebas TB merupakan bentuk sinergi pemerintah untuk memperluas deteksi dini, pencegahan, dan penanganan tuberkulosis di lingkungan pesantren.
“Ada empat puluh ribu lebih pesantren dengan jutaan santri di seluruh Indonesia. Santri juga memiliki hak yang sama dalam kesehatan. Ini sejalan dengan cita-cita mulia Presiden Prabowo melalui Asta Cita keempat, yaitu pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Romo Syafi’i.
Menurut dia, keberadaan lebih dari 40 ribu pesantren dengan jutaan santri membutuhkan perhatian serius, terutama dalam pemenuhan hak kesehatan. Karena itu, program tersebut diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar pemeriksaan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak warga pesantren.
Romo Syafi’i menegaskan, keberhasilan program pemerintah membutuhkan kerja sama lintas kementerian. Tidak ada satu kementerian pun yang dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan pesantren yang sehat.
“Tidak ada keberhasilan yang dicapai sendiri-sendiri. Tidak boleh ada kementerian yang bekerja sendiri-sendiri. Kita ini satu tim. Tidak ada keberhasilan individual, yang ada adalah keberhasilan bersama,” tegasnya.
Dia menjelaskan, Kementerian Agama berperan dalam pembinaan pesantren. Sementara itu, dukungan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan tenaga ahli melibatkan Kementerian Kesehatan serta kementerian terkait lainnya.
Wamenag juga menyampaikan, setelah peluncuran di Sumatera Utara, gerakan Pesantren Bebas TB direncanakan berlanjut ke sejumlah daerah, antara lain Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga DKI Jakarta.
Dukungan terhadap program tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus. Dia menyatakan kesiapan Kementerian Kesehatan untuk mendukung pelaksanaan program, termasuk pemeriksaan, deteksi dini, dan penanganan tuberkulosis bagi para santri.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus mengajak pemerintah daerah berperan aktif menyukseskan program tersebut. Menurut dia, koordinasi pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar upaya pencegahan dan penanggulangan TB di pesantren berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Pesantren merupakan lingkungan pendidikan sekaligus tempat tinggal bagi banyak santri. Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan berkala, dan penanganan yang tepat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat,” ujar Akhmad Wiyagus.
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengungkapkan, kesehatan masih menjadi tantangan kompleks di lingkungan pesantren. Dari sekitar 40 ribu pesantren di Indonesia, belum banyak yang memiliki klinik atau poliklinik dengan dukungan tenaga medis profesional.
Karena itu, dia mendorong kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat fasilitas kesehatan, mengadakan penyuluhan rutin dengan melibatkan puskesmas, serta memastikan santri memperoleh pelayanan medis tanpa terkendala persoalan domisili.
Basnang berharap Program Pesantren Bebas TB tidak berhenti pada kegiatan peluncuran, tetapi menjadi awal gerakan yang lebih luas untuk membangun ekosistem kesehatan pesantren.
“Dari Pondok Pesantren Mawaridussalam ini kita memulai ikhtiar yang bermakna bagi masa depan pesantren. Semoga semangat dan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pesantren yang sehat dan bebas tuberkulosis dapat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara,” pungkasnya.*
