Kembali Menuju Fitrah
Oleh:
Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A.
SETELAH menyelesaikan puasa Ramadan sebulan penuh, disertai dengan pelaksanaan ibadah dan amal saleh, insan muslim kembali kepada fitrah. Fitrah berarti kesucian dasar manusia. Idulfitri yang baru dirayakan dan dihayati oleh setiap muslim merupakan manifestasi rasa syukur setiap pribadi beriman kepada Khaliknya.
Idulfitri memiliki dua makna atau pengertian. Pertama, Idulfitri berarti kembali berbuka. Maksudnya, setelah umat Islam melaksanakan puasa sebulan penuh, mereka kembali berbuka (tidak berpuasa pada hari raya Idulfitri, yaitu tanggal 1 Syawal). Dengan demikian, arti pertama Idulfitri adalah berbuka.
Makna kedua diambil dari kata fitrah (dari akar kata yang sama), yaitu kembali kepada kesucian. Hal ini dipahami karena orang-orang yang berpuasa Ramadan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah serta menunaikan zakat fitrah akan kembali bersih dari dosa-dosanya.
Idulfitri yang berarti kembali kepada fitrah mengandung maksud kembali kepada asal penciptaan manusia yang suci serta kembali kepada agama yang benar. Kembali kepada kesucian berarti kembali pada keadaan bersih, terlepas dari noda dan dosa. Keadaan ini dapat mengantarkan setiap pribadi muslim pada sikap taat dan patuh kepada Allah Swt. dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan sunah.
Dengan penuh keikhlasan dan sesuai tuntunan Rasulullah saw., manusia akan terbebas dari dosa-dosanya dan kembali suci. Kesucian itu hendaknya terus dipertahankan pada bulan-bulan berikutnya dengan meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt. Kita harus senantiasa berusaha bertakarub (mendekatkan diri) kepada-Nya dalam seluruh aspek kehidupan dengan tunduk dan patuh.
Pemahaman kedua tentang kembali kepada fitrah, sebagaimana disebutkan di atas, ditegaskan dalam hadis Nabi saw.: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan dengan keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosa masa lalunya” (HR Bukhari No. 37 dan Muslim No. 1266). Hadis selanjutnya menjelaskan: “Barang siapa yang melaksanakan salat qiyam Ramadan atau salat tarawih, maka diampuni dosa-dosa masa lalunya” (HR Bukhari No. 36 dan Muslim No. 1267).
Fitrah yang berarti kembali pada asal kejadian mengandung makna bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, karena diciptakan dalam fitrah Allah. Fitrah tersebut tidak akan berubah selamanya. Allah telah menetapkannya sebagai dasar penciptaan manusia yang menjadi landasan kebahagiaan dan kesuksesan, baik di masa kini maupun masa yang akan datang.
“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).*
