Keistimewaan Umar bin al-Khathab
Umar bin Khatab ra
Perang Total terhadap KKN
Umar adalah anti-tesis dari nepotisme. Prinsipnya jelas: yang terbaik untuk umat, bukan untuk keluarga atau suku. Ia pernah menolak permintaan kerabatnya untuk menduduki suatu jabatan, dengan mengatakan bahwa ia tak ingin menanggung beban dosa mereka di akhirat.
Ia sangat ketat dalam audit kekayaan pejabat. Saat gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqqash – seorang sahabat besar dan pahlawan perang – dituduh hidup bermewah-mewah, Umar segera memberhentikannya untuk diselidiki, meski akhirnya Sa’ad terbukti bersih.
Ia juga melarang keras para pejabat berbisnis atau menerima hadiah, karena itu adalah pintu korupsi (suht). Dalam Kebijakan Ekonomi Umar bin Khatab, dicatat bahwa sistem transparansi dan akuntabilitas yang ia bangun menjadi kunci sukses stabilitas ekonomi negara yang wilayahnya membentang dari Persia hingga Mesir.
Teladan Sepanjang Zaman
Umar bin al-Khathab wafat sebagai syahid ditikam oleh Abu Lu’luah, seorang budak Majusi, saat memimpin shalat Subuh.
Ia meninggalkan warisan yang tidak ternilai: sebuah model kepemimpinan yang mengutamakan keadilan, ketakwaan, kerendahan hati, dan keberpihakan pada kaum lemah.
Ketegasannya bukanlah kekasaran, melainkan manifestasi dari rasa tanggung jawab yang mendalam terhadap Allah dan rakyatnya. Inisiatifnya dalam kodifikasi Al-Qur’an, pembangunan institusi negara, dan penegakan hukum yang setara di depan semua orang menjadikannya salah satu negarawan terbesar dalam sejarah manusia.
Kisah hidupnya, seperti tertuang dalam referensi-referensi otoritatif seperti Siyar A’lam an-Nubala dan Tarikh al-Khulafa, tetap menjadi sumber inspirasi tak kering bagi siapapun yang mendambakan pemerintahan yang bersih, adil, dan penuh amanah. “Salam atasmu, wahai Al-Faruq, pembeda antara yang haq dan yang bathil.”[MSR]
