Kecerdasan Ali bin Abi Thalib
Kaligrafi Ali bin Abi Thalib di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.
Kecerdasan Ali juga diuji ketika sepuluh orang Khawarij mencoba memojokkannya dengan satu pertanyaan yang sama secara bergantian: “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?” Ali memberikan sepuluh jawaban berbeda yang semuanya sangat logis. Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber literatur hikmah, beberapa jawaban Ali antara lain:
Ilmu lebih utama karena ia warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Firaun dan Qarun.
Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta justru kamulah yang harus menjaganya.
Ilmu tidak akan berkurang jika dibagikan, sedangkan harta akan berkurang jika dibelanjakan.
Pemilik ilmu akan dipanggil dengan sebutan kemuliaan, sedangkan pemilik harta sering kali dipanggil dengan sebutan kebakhilan.
Jawaban-jawaban ini membuktikan bahwa Ali memiliki kedalaman kognitif yang mampu melihat satu persoalan dari berbagai dimensi yang berbeda.
Kedalaman Ijtihad dan Kedudukan di Mata Sahabat
Ketajaman rasio Ali menjadikannya rujukan utama bagi para Khalifah sebelumnya. Imam As-Suyuthi dalam “Tarikh Khulafa” meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab sering kali meminta bantuan Ali dalam kasus-kasus hukum yang buntu. Umar pernah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari masalah yang tidak ada Abu Hasan (Ali) di dalamnya.”
Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan Ali diakui secara konsensus (ijma’) oleh para sahabat Nabi. Ia tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami maqashid (tujuan) dari setiap hukum yang turun. Kecerdasan integratif inilah yang membuatnya mampu memberikan solusi yang adil bagi masyarakat Madinah yang semakin heterogen saat itu. [MSR]
