Kecerdasan Ali bin Abi Thalib
Kaligrafi Ali bin Abi Thalib di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.
DALAM lembaran sejarah Islam, nama Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah bukan sekadar simbol keberanian di medan perang (syaja’ah), melainkan juga mercusuar intelektualitas yang menerangi peradaban.
Jika Rasulullah Saw adalah “Kota Ilmu”, maka Ali adalah gerbangnya. Gelar ini bukan sekadar pujian kosong, melainkan pengakuan atas kapasitas akal Ali yang melampaui zamannya.
Keutamaan Ali dalam Lisan Nubuwah
Kecerdasan Ali bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari didikan langsung Rasulullah Saw. Sejak kecil, Ali berada di bawah asuhan wahyu, yang membentuk pola pikirnya menjadi sangat sistematis.
Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, “Biografi Ali bin Abi Thalib”, menjelaskan bahwa Ali memiliki keistimewaan berupa pemahaman yang mendalam terhadap esensi ajaran Islam dibandingkan sahabat lainnya karena kedekatannya dengan Nabi.
Dalam literatur klasik, Imam As-Suyuthi melalui karyanya, “Tarikh Khulafa”, mencatat berbagai hadits yang mengukuhkan posisi intelektual Ali. Salah satu yang paling masyhur adalah sabda Rasulullah Saw, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menginginkan ilmu, maka hendaklah ia mendatangi pintunya” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, disitir oleh As-Suyuthi dalam “Tarikh Khulafa”).
Lebih lanjut, Rasulullah Saw juga memberikan testimoni terhadap kemampuan yudisial Ali. Beliau bersabda, “Orang yang paling ahli dalam memutuskan perkara (aqdhahum) di antara kalian adalah Ali” (HR. Ibnu Majah, sebagaimana dikutip dalam “Tarikh Khulafa”). Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan Ali tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis dalam menyelesaikan konflik sosial.
Sang Arsitek Ilmu Nahwu dan Logika Matematika
Kecerdasan Ali bin Abi Thalib melintasi batas-batas ilmu agama tradisional; ia juga menyentuh aspek linguistik dan sains. Ash-Shalabi dalam “Biografi Ali bin Abi Thalib” memaparkan bagaimana Ali menjadi peletak dasar ilmu Nahwu. Beliau adalah orang yang pertama kali membagi kategori kata dalam bahasa Arab menjadi tiga: isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf. Langkah ini diambil Ali untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dari kesalahan pengucapan seiring meluasnya wilayah Islam ke negeri-negeri non-Arab.
Di bidang matematika, kecerdasan Ali sering kali dianggap mendahului zamannya. Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan Nihayah” mencatat kecemerlangan Ali dalam menyelesaikan masalah waris yang rumit secara spontan. Salah satunya adalah “Masalah Minbariyyah”, di mana ia mampu menghitung pembagian harta waris yang pecahannya sangat kompleks saat ia sedang berdiri memberikan khutbah di atas mimbar tanpa sedikit pun keraguan atau jeda untuk menghitung secara manual.
Saat Kecerdasan Diuji oleh Kaum Khawarij
Momen yang paling menunjukkan ketajaman dialektika Ali adalah interaksinya dengan kaum Khawarij. Setelah peristiwa Tahkim, kaum Khawarij muncul dengan argumen tekstualis yang kaku: “La hukma illa lillah” (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).
Menanggapi hal ini, Ali menunjukkan kecerdasan retorika yang luar biasa. Sebagaimana dicatat oleh Ash-Shalabi dalam “Biografi Ali bin Abi Thalib”, Ali membalas: “Kalimatun haqqin urida bihal bathil” (Itu adalah kalimat yang benar, namun digunakan untuk tujuan yang batil). Ali membedah bahwa meskipun otoritas hukum tertinggi ada pada Allah, namun manusia tetap memerlukan pemimpin (imarah) untuk menjalankan hukum tersebut secara terorganisir di dunia.
