JIC Libatkan 1.000 Pelajar dari 75 Sekolah dalam Training Birrul Walidain

 JIC Libatkan 1.000 Pelajar dari 75 Sekolah dalam Training Birrul Walidain

JAKARTA (Mediaislam.id)–Jakarta Islamic Centre (JIC) melalui Sub Divisi Birena menyelenggarakan Training Birrul Walidain bertema “Sejuta Cinta untuk Ayah dan Bunda” pada Senin, 19 Oktober 2026, di Gedung Convention Hall Jakarta Islamic Centre. Kegiatan ini diikuti oleh 1.000 siswa perwakilan dari 75 sekolah tingkat SMP sederajat dan SMA sederajat, dengan dua guru pendamping dari masing-masing sekolah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Jakarta Islamic Centre dalam menanamkan nilai-nilai birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua di kalangan generasi muda. Melalui pendekatan edukatif, inspiratif, dan komunikatif, para peserta diajak memahami pentingnya menghormati, menyayangi, menghargai pengorbanan, serta membangun hubungan yang baik dengan ayah dan bunda.

Training ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan keislaman, tetapi juga momentum refleksi bagi para pelajar agar semakin menyadari besarnya peran orang tua dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat tumbuh menjadi karakter yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Divisi Takmir Jakarta Islamic Centre, KH. Ibnu Abidin, Lc. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif penyelenggaraan kegiatan yang memberikan ruang bagi para pelajar untuk memperkuat karakter, akhlak, dan nilai-nilai keislaman, khususnya dalam hubungan dengan orang tua.

KH Ibnu Abidin

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki adab, kepedulian, dan rasa tanggung jawab. Kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berilmu sekaligus mampu menghargai orang-orang di sekitarnya.

“Inisiatif Jakarta Islamic Centre melalui kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pembinaan generasi muda. Kami berharap para pelajar tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga semakin menyadari besarnya pengorbanan orang tua dan terdorong untuk menunjukkan rasa cinta melalui sikap, perkataan, serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap KH. Ibnu Abidin, Lc.

Ia berharap Training Birrul Walidain dapat memberikan dampak positif bagi para peserta, terutama dalam membangun kesadaran bahwa berbakti kepada orang tua merupakan bagian penting dari pengamalan ajaran Islam sekaligus fondasi pembentukan generasi yang berakhlak mulia.

 

Hadirkan Empat Narasumber Inspiratif

Training Birrul Walidain ini menghadirkan empat narasumber dengan latar belakang dan pendekatan yang beragam untuk memberikan pengalaman belajar yang menarik dan mudah diterima oleh para pelajar.

Narasumber pertama, Dr. Mustaqim Muhammad, M.Pd., yang dikenal sebagai motivator pendidikan dan keluarga sakinah, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun kesadaran tentang peran keluarga serta menumbuhkan kecintaan kepada kedua orang tua sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Narasumber kedua, Riswanto, M.M., seorang praktisi pendidikan, turut memberikan perspektif mengenai pembentukan sikap, tanggung jawab, dan penerapan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya berkaitan dengan proses belajar di sekolah, tetapi juga pembiasaan perilaku baik yang membentuk kepribadian.

Selanjutnya, Kak Izul, yang aktif sebagai pendongeng nasional, menghadirkan pendekatan bercerita yang menghibur sekaligus sarat pesan moral. Melalui gaya penyampaian yang komunikatif, peserta diajak memahami nilai kasih sayang dan pengorbanan orang tua dengan cara yang dekat dengan dunia remaja.

Sementara itu, narasumber keempat, Ramdhani, yang dikenal sebagai figur publik dengan nama Bang Madit, turut memberikan warna tersendiri melalui pendekatan yang menarik bagi kalangan generasi muda.

Kehadiran keempat narasumber tersebut menjadikan kegiatan ini tidak sekadar sebagai forum penyampaian materi, tetapi juga ruang refleksi untuk memahami makna berbakti kepada orang tua dari berbagai sudut pandang.

Perpaduan motivasi, perspektif pendidikan, dongeng, dan komunikasi publik membuat pesan tentang cinta kepada ayah dan bunda disampaikan melalui pendekatan yang beragam, sehingga lebih mudah diterima dan dihubungkan dengan pengalaman kehidupan para pelajar.

Ketua Pelaksana kegiatan, Arif Syukur, yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Divisi Birena Jakarta Islamic Centre, menegaskan bahwa Training Birrul Walidain memiliki arti penting dalam membangun kesadaran generasi muda tentang posisi orang tua dalam perjalanan hidup mereka.

Menurutnya, para pelajar saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi, arus informasi, dan perubahan gaya hidup yang begitu cepat. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan nilai agama, akhlak, dan karakter agar mereka memiliki pijakan moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Melalui tema ‘Sejuta Cinta untuk Ayah dan Bunda’, kami ingin mengajak para pelajar menyadari bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban yang disampaikan dalam nasihat agama. Birrul walidain harus hadir dalam perilaku nyata, mulai dari tutur kata yang santun, kesediaan membantu, menghargai nasihat, hingga kesungguhan belajar dan menjaga kepercayaan orang tua,” ujar Arif Syukur.

Ia menambahkan, pemilihan peserta dari jenjang SMP sederajat dan SMA sederajat merupakan langkah strategis karena masa remaja menjadi periode penting dalam pembentukan identitas, kepribadian, dan pola hubungan dengan keluarga.

Arif berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi para pelajar untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua, menumbuhkan empati, serta memahami bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kualitas akhlak dan kemampuan menghargai orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan mereka.

 

Pesan Kunci dari Empat Narasumber: Cinta Harus Dibuktikan, Bukan Sekadar Diucapkan

Merangkum pesan dari seluruh rangkaian materi, Arif Syukur menekankan bahwa esensi Training Birrul Walidain bukan sekadar mengajak para pelajar memahami pentingnya berbakti kepada orang tua, melainkan mendorong mereka melakukan perubahan nyata dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Menurut Arif, materi yang disampaikan keempat narasumber memberikan perspektif yang saling melengkapi, mulai dari motivasi pendidikan dan keluarga, pembentukan karakter, pesan moral melalui dongeng, hingga pendekatan komunikasi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Dari keseluruhan materi tersebut, terdapat satu pesan utama yang ingin ditanamkan kepada para peserta: birrul walidain dimulai dari kesadaran hati, diwujudkan melalui adab, dan dibuktikan dengan tindakan nyata.

“Kalau kita merangkum seluruh materi hari ini, ada satu pesan penting yang ingin kita bawa pulang: jangan sampai kita pandai berbicara tentang cinta kepada ayah dan bunda, tetapi lupa membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada orang tua harus terlihat dari cara kita berbicara, sikap kita ketika dinasihati, kesungguhan kita belajar, kesediaan membantu di rumah, dan kemampuan kita menjaga kepercayaan mereka,” ungkap Arif.

Ia menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua tidak harus menunggu seseorang menjadi sukses, memiliki pekerjaan, atau mampu memberikan hadiah mahal. Pada usia pelajar, bakti dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengucapkan salam, menjawab panggilan dengan santun, meminta izin, mendengarkan nasihat, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta mengambil bagian dalam membantu pekerjaan di rumah.

Arif juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki perjalanan dan kondisi keluarga yang berbeda. Karena itu, menumbuhkan birrul walidain perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyentuh hati, membangun kesadaran, dan mengajak anak untuk terus memperbaiki diri.

“Anak-anak tidak harus menjadi sempurna untuk membahagiakan orang tuanya. Namun, mereka perlu terus belajar menjadi lebih baik. Jika hari ini masih sering membantah, belajarlah berbicara lebih santun. Jika selama ini jarang membantu, mulailah mengambil peran di rumah. Jika pernah mengecewakan orang tua, beranilah meminta maaf dan memperbaiki diri. Perubahan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi bentuk cinta yang sangat berarti,” tambahnya.

Lebih jauh, Arif menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor, prestasi, atau banyaknya pengetahuan yang dikuasai. Pendidikan juga harus melahirkan generasi yang memiliki adab, mampu menghargai pengorbanan orang lain, bertanggung jawab atas pilihannya, dan tidak melupakan keluarga ketika meraih keberhasilan.

Ia berharap 1.000 pelajar yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi pembawa pesan kebaikan di lingkungan sekolah dan keluarga masing-masing. Pengalaman yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan mengikuti sebuah acara, tetapi diteruskan melalui kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, Arif mengajak para peserta untuk membawa pulang satu komitmen sederhana, yaitu melakukan satu kebaikan nyata untuk ayah dan bunda setiap hari, tanpa harus menunggu diminta atau menunggu momentum tertentu.

“Jangan biarkan hari ini hanya menjadi hari ketika kita mendengar banyak nasihat tentang orang tua. Jadikan hari ini sebagai awal perubahan. Ketika pulang nanti, sapa ayah dan bunda dengan lebih hangat, dengarkan cerita mereka, bantu apa yang bisa dibantu, dan sampaikan rasa sayang yang mungkin selama ini jarang kita ungkapkan. Sebab, sejuta cinta untuk ayah dan bunda akan memiliki makna ketika satu per satu cinta itu benar-benar kita hadirkan dalam tindakan,” tutup Arif Syukur.

 

Antusiasme Tinggi, Peserta Aktif Mengikuti Seluruh Rangkaian Acara

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para siswa mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir dengan penuh perhatian dan keterlibatan aktif.

Materi yang disampaikan keempat narasumber mendapatkan respons positif dari peserta. Perpaduan pendekatan motivasi, pendidikan, dongeng, dan komunikasi publik membuat suasana kegiatan terasa dinamis, interaktif, serta sesuai dengan karakteristik pelajar usia remaja.

Para peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat secara proaktif dalam mengikuti setiap sesi. Pendekatan penyampaian yang komunikatif membantu pesan-pesan tentang cinta, penghormatan, dan pengabdian kepada orang tua disampaikan secara lebih dekat dengan pengalaman kehidupan sehari-hari para siswa.

Keterlibatan aktif tersebut menjadi salah satu hal yang menonjol dalam pelaksanaan Training Birrul Walidain. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dikemas secara menarik tanpa kehilangan kedalaman pesan dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan.

Dengan suasana yang inspiratif dan melibatkan peserta, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pengalaman yang membekas sekaligus mendorong para pelajar untuk merefleksikan kembali hubungan mereka dengan ayah dan bunda.

 

Menumbuhkan Generasi yang Berakhlak dan Mencintai Orang Tua

Melalui Training Birrul Walidain “Sejuta Cinta untuk Ayah dan Bunda”, Jakarta Islamic Centre berharap nilai-nilai berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti sebagai pemahaman yang diperoleh selama kegiatan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan karakter yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta kepada orang tua tidak selalu harus diungkapkan melalui kata-kata besar atau hadiah istimewa. Cinta dapat diwujudkan melalui sikap sederhana, seperti berbicara dengan lembut, membantu pekerjaan di rumah, mendengarkan nasihat, menjaga perilaku, serta berusaha menjadi pribadi yang membanggakan tanpa melupakan adab dan kerendahan hati.

Penyelenggaraan kegiatan oleh Sub Divisi Birena ini sekaligus mempertegas peran Jakarta Islamic Centre sebagai lembaga yang turut berkontribusi dalam pembinaan generasi muda melalui penguatan nilai-nilai keislaman, pendidikan karakter, dan pengembangan akhlak.

Dengan melibatkan 1.000 pelajar dari 75 sekolah di Jakarta, kegiatan ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang lebih luas, tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi lingkungan keluarga dan sekolah masing-masing.

Harapannya, para pelajar dapat meneruskan pesan kegiatan ini kepada teman-teman dan keluarga mereka, sehingga nilai birrul walidain tumbuh sebagai budaya kebaikan yang diterapkan secara nyata.

Sebab, sejuta cinta untuk ayah dan bunda bukan sekadar tema sebuah kegiatan, melainkan komitmen untuk menghadirkan rasa hormat, kasih sayang, dan bakti kepada orang tua dalam setiap langkah kehidupan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + seventeen =