Jangan Terkecoh ‘Quotes’ Islami
Ilustrasi
DI ERA media sosial saat ini, _quotes_ Islami bertebaran di mana-mana. Desainnya cantik, pesannya menyentuh hati. Tapi apakah semua yang terlihat Islami itu benar-benar bersumber dari ajaran Islam yang sahih?
Fenomena “Hadis Palsu” di Medsos
Pernahkah Anda melihat quotes seperti “Tersenyumlah, sesungguhnya senyummu adalah sedekah” atau “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin”?
Memang ada hadis tentang senyuman sebagai sedekah, tapi banyak juga quotes yang terdengar Islami padahal tidak memiliki sanad yang shahih, bahkan ada yang tidak pernah disabdakan oleh Nabi Saw.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kita menisbahkan sesuatu kepada Nabi Muhammad Saw tanpa rujukan yang jelas. Ini bukan hanya soal ketidaktelitian, tapi masalah keagamaan yang serius. Rasulullah Saw sendiri bersabda bahwa barangsiapa yang berdusta atas namanya, maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka.
Hikmah Boleh, Asal Jangan Diklaim sebagai Sunnah
Tidak ada yang salah dengan membagikan kata-kata bijak atau hikmah kehidupan. Yang penting adalah kejujuran dalam atribusi. Jika itu ucapan Imam Syafi’i, sebutkan dari Imam Syafi’i. Jika itu renungan pribadi, tidak perlu dipaksakan menjadi hadis. Kebenaran tidak memerlukan kebohongan sebagai penyangganya.
Tanggung Jawab di Era Digital
Sebagai muslim di era digital, kita punya tanggung jawab ganda. Sebelum menekan tombol “share”, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah saya cek kebenarannya? Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebar informasi yang menyesatkan, meskipun niatnya baik.
Kesimpulan
Islam adalah agama yang menghargai ilmu dan kebenaran. Kita diajarkan untuk tabayun—mengklarifikasi setiap informasi sebelum mempercayainya. Quotes yang indah memang menyejukkan hati, tapi quotes yang benar dan valid akan lebih berkah di hadapan Allah.
Jadi, lain kali ketika menemukan quotes Islami yang menyentuh, berhentilah sejenak. Cek sumbernya, verifikasi kesahihannya, dan bagikan dengan penuh tanggung jawab. Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang amal yang membawa manfaat, bukan sumber fitnah umat.[]
Arifah Nurakhlina Zataisma, Mahasiswi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
