IPB University Perkuat Sosialisasi ke Pesantren Melalui Program Dospulkam

 IPB University Perkuat Sosialisasi ke Pesantren Melalui Program Dospulkam

Selama satu dekade terakhir, model CIBEST paling banyak diaplikasikan untuk mengevaluasi program zakat produktif pada sektor usaha mikro. Kegiatan aktualnya meliputi pembiayaan modal usaha, pendampingan bisnis, pelatihan kewirausahaan, serta program khusus seperti Z-Mart, gerobak usaha, dan mitra mandiri. Pada ranah wakaf, kajian satu dekade terakhir menunjukkan bahwa meskipun penggunaan CIBEST secara eksplisit lebih dominan di zakat. Kegiatan aktual wakaf produktif yang tercatat antara lain pembangunan dan pengelolaan sekolah dan pesantren, klinik dan rumah sakit, program modal usaha dan pelatihan bagi masyarakat sekitar aset wakaf, serta pengembangan model indeks wakaf nasional

Model CIBEST telah berkembang dari sekadar alat ukur akademik menjadi infrastruktur penting dalam tata kelola terkhusus zakat dan wakaf di Indonesia. Model yang menjembatani antara prinsip maqashid syariah dengan kebutuhan praktis. Kedepannya, pengoptimalan dan penyempurnaan model seperti CIBEST sangat mungkin menjadi kunci agar zakat dan wakaf tidak hanya sekadar data nominal angka, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam mengangkat martabat hidup umat manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Meskipun model CIBEST telah banyak digunakan, model ini tetap perlu disosialisasikan kepada segmen-segmen lain agar dampaknya menjadi lebih luas lagi. Salah satu segmen yang disasar adalah pondok pesantren. Sosialisasi model CIBEST ke pondok pesantren telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa diantaranya yaitu Pondok Pesantren Nurul Hakim, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2024 dan Pondok Pesantren Al-Ghozali, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2025.

Kegiatan tersebut diketuai langsung oleh Irfan Syauqi Beik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Kepala dan sekretaris CIBEST IPB serta Ketua Program Studi S2 Ekonomi Syariah, Laily Dwi Arsyianti, Rahmat Yanuar, dan Resfa Fitri juga turut hadir dalam sosialisasi. Kehadiran tim CIBEST di pesantren disambut hangat oleh para santri dan pengelola pesantren. Mereka menilai model ini memberikan perspektif baru dalam memahami masalah ekonomi umat, termasuk bagaimana pesantren dapat mengambil peran strategis dalam mengentaskan kemiskinan. Pengelola Pesantren Al-Ghozali, Gus Qoyyum mengapresiasi, memberikan apresiasinya terhadap program sosialisasi edukasi model CIBEST ini.

“Kami sangat mengapresiasi program dospulkam yang diinisiasi oleh IPB, program ini sangat inovatif dan merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi model CIBEST kepada pesantren ini difasilitasi Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) yang diselenggarakan oleh IPB University. Salah satu tujuan program ini adalah mendiseminasikan segala terobosan dan inovasi yang telah disusun oleh dosen IPB. Dengan model yang semakin dikenal luas, pesantren diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam penerapan CIBEST bukan hanya sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai model pembinaan dan intervensi sosial.

“Saya disini bersyukur bawa model CIBEST ini telah digunakan secara masif di dunia zakat dan wakaf dalam 1 dekade terakhir. Ini menunjukkan bahwa fungsi kampus yaitu melahirkan produk yang dapat digunakan oleh masyarakat, semua komponen, termasuk pondok pesantren agar bisa mengetahui dan memahami model CIBEST,” ungkap Irfan Syauqi Beik.

Momentum 1 dekade model CIBEST menjadi penanda penting bagi perkembangan model ini di Indonesia. Dengan semakin kuatnya sosialisasi ke pesantren, CIBEST tidak lagi hanya menjadi konsep akademik, tetapi juga alat perubahan sosial yang nyata. Hal ini membuka peluang bagi terwujudnya ekosistem kesejahteraan berbasis syariah yang lebih adil, komprehensif, dan berkelanjutan.

“CIBEST bisa menjadi pendekatan baru yang menjadi alternatif pendekatan yang konvensional. Pendekatan konvensional terlalu memfokuskan pada aspek material dan cenderung mengabaikan aspek spiritual. Padahal spiritual itu penting untuk membangun mentalitas, mentalitas itu untuk penting untuk pembangunan,” tandas Laily Dwi Arsyianti. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =