Innalillahi, Badai Musim Dingin Akibatkan 14 Orang di Gaza Meninggal

 Innalillahi, Badai Musim Dingin Akibatkan 14 Orang di Gaza Meninggal

Ilustrasi: Kondisi tenda warga Gaza di tengah cuaca ekstrem dan badai musim dingin. [Xinhua]

Gaza (Mediaislam.id) – Badai musim dingin dan cuaca dingin ekstrem yang melanda Jalur Gaza, Palestina, mengakibatkan 14 warga Palestina meninggal dunia dalam waktu kurang dari 24 jam.

Selain itu badai juga memicu runtuhnya beberapa bangunan, demikian dilaporkan kantor berita resmi Palestina, WAFA, pada Jumat (12/12/2025).

Hujan deras dan angin kencang menerpa tempat-tempat penampungan sementara berupa tenda dan terpal, sehingga menempatkan keluarga yang sudah rentan dalam risiko yang lebih besar, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di antara 14 korban tewas dalam sehari terakhir terdapat tiga anak yang meninggal akibat hipotermia.

Hadapi Krisis Kemanusiaan Memilukan

Selain menghadapi badai musim dingin, Jalur Gaza juga mengalami krisis kemanusiaan yang terus menunjukkan dampak yang memilukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.092 pasien meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis dalam periode Juli 2024 hingga 28 November 2025.

Angka tersebut diungkapkan oleh perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Rik Peeperkorn, dalam konferensi pers di markas besar PBB, New York.

Menurut Peeperkorn, jumlah tersebut kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan karena hanya didasarkan pada laporan kematian yang berhasil dihimpun otoritas kesehatan setempat. Banyak pasien lain diduga meninggal tanpa sempat tercatat secara resmi.

Di tengah keterbatasan layanan kesehatan, WHO mendesak komunitas internasional untuk membuka pintu lebih luas bagi pasien Gaza yang membutuhkan perawatan lanjutan. Selain itu, WHO juga menyerukan pemulihan jalur evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, demi menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Situasi fasilitas kesehatan di Gaza sendiri masih jauh dari kata pulih. Dari total rumah sakit yang ada, hanya 18 dari 36 rumah sakit yang masih beroperasi sebagian, sementara 43 persen pusat layanan kesehatan primer masih berfungsi dengan kapasitas terbatas. Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan obat-obatan esensial dan peralatan medis, termasuk untuk penanganan penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − fifteen =