Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

 Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

Ilustrasi: Imam Malik bin Anas [AI]

Malik selalu memberikan nasihat yang tulus kepada para penguasa, dan mereka pun kerap meminta pandangannya. Beliau sangat mengkhawatirkan para penguasa terjerumus ke dalam pujian palsu dari orang-orang di sekitar mereka, sebab pujian tersebut dapat memutarbalikkan amalan buruk terkesan menjadi baik.

Kecerdasan, kejeniusan hafalan, dan kesabaran Malik senantiasa beriringan dengan keikhlasan yang memancar terang. Beliau sangat ikhlas dalam mencari kebenaran dan menuntut ilmu.

Karena keikhlasannya, beliau tidak menyukai ketergesaan dalam memberikan fatwa dan lebih mengutamakan sikap berhati-hati. Beliau terkadang berkata kepada penanya, “Pulanglah dahulu sampai aku mengkaji masalah ini.”

Demi menjaga keikhlasannya terhadap kitabullah dan sunah serta karena takut terjatuh dalam kesalahan, beliau enggan berkata, “Ini halal dan ini haram,” jika perkara tersebut murni bersandar pada opini dan ijtihad. Malik sangat membenci perdebatan.

Beliau hidup pada masa ketika perdebatan dan adu argumen antarkelompok sekte agama sedang marak terjadi. Malik ingin menjauhkan ilmu fikih dan hadis dari wilayah perdebatan karena keduanya merupakan ilmu tentang halal dan haram yang membutuhkan sudut pandang komprehensif, bukan parsial.

Beliau memandang bahwa perdebatan hanya akan memenangkan orang yang paling pandai bersilat lidah, bukan yang paling benar. Allah Swt. mengistimewakan Malik dengan satu sifat yang selalu melekat pada dirinya, yaitu kewibawaan yang besar.

Para penguasa merasa segan kepadanya dan merasa kecil saat berada di hadapannya. Kewibawaannya mencapai tingkat yang bahkan tidak dimiliki oleh para raja dan khalifah, sehingga beliau menjadi sosok yang disegani meskipun tanpa memegang takhta kekuasaan.

Malik hidup dengan menjaga harga dirinya dan senantiasa dimuliakan oleh masyarakat hingga ajalnya tiba pada tahun 179 Hijriah. Cahaya fisiknya memang telah padam, tetapi cahaya ilmunya tidak akan pernah redup karena beliau meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.[]

Syekh Muhammad Abu Zahrah – dengan beberapa penyesuaian, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6.