Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

 Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

Ilustrasi: Imam Malik bin Anas [AI]

Inilah lingkungan tempat Malik menjalani kehidupan, dan itulah keluarganya. Kedua faktor tersebut terus memotivasi dirinya untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Ada pula faktor ketiga yang tidak kalah penting, yaitu ibundanya. Sang ibu mengawasi langsung arah pendidikan Malik, memilihkan guru-guru terbaik, serta membimbingnya dalam menyerap sari pati ilmu yang paling berharga dari setiap guru.

Malik pun melangkah untuk menuntut ilmu dengan kepribadian yang dikenal penuh wibawa dan ketenangan. Ketika masih kecil, beliau pernah berjalan melewati salah seorang gurunya yang sedang menyampaikan pelajaran hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena kondisi tempat belajar saat itu sangat sempit, beliau memilih untuk tidak duduk dan tidak menyimak pelajaran tersebut. Ketika sang guru menemuinya di kemudian hari, guru tersebut menegurnya, “Apa yang menghalangimu duduk di majelisku?”

Malik menjawab, “Tempatnya sangat sempit, dan saya tidak suka menulis hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam posisi berdiri.” Beliau kemudian menimba ilmu dari banyak guru, termasuk dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah menguasai ilmu-ilmu yang ada pada zamannya dan merasa mantap dengan kapasitas keilmuannya, beliau mulai mengajar. Beliau membagi majelisnya menjadi dua sesi, yaitu sesi periwayatan hadis dan sesi fikih yang beliau sebut sebagai pembahasan masalah-masalah hukum (al-masa’il).

Dalam mengajar, beliau selalu menjauhkan diri dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw). Sebagian muridnya menceritakan bahwa ketika Imam Malik duduk bersama mereka, beliau tampak bersahaja seperti orang biasa dan mengalir dalam obrolan umum.

Namun, ketika beliau mulai menyampaikan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para murid langsung merasa segan dan takjub, seolah-olah mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya. Ketika hendak menyampaikan hadis, beliau selalu berwudu dan mengenakan pakaian terbaiknya.

Saat beliau jatuh sakit, majelis keilmuannya dipindahkan ke rumah pribadinya. Dedikasi beliau dalam mengajar ini berlangsung selama kurang lebih lima puluh tahun.

Malik hidup pada masa yang penuh dengan fitnah dan pergolakan politik. Beliau memilih untuk mengasingkan diri dari para pelaku fitnah dan tidak melibatkan diri di dalamnya.

Beliau memandang fitnah-fitnah tersebut bagaikan serpihan malam yang gelap gulita. Beliau menyadari bahwa sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin dalam kondisi penuh fitnah adalah mengambil pedangnya, menghancurkannya, lalu beralih profesi menjadi petani atau peternak domba.

Jika tidak memiliki lahan pertanian atau hewan ternak, seorang mukmin hendaknya mengungsi ke puncak-puncak gunung demi menyelamatkan agamanya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malik benar-benar menjauhkan diri dari pusaran konflik tersebut.

Beliau konsisten menyuarakan kebenaran agama tanpa terpengaruh oleh opini penguasa maupun kelompok yang menentangnya. Sikap teguh ini bahkan sempat menyebabkannya dijatuhi hukuman cambuk, meskipun saat itu beliau telah menjadi seorang syekh yang dihormati.