Ibnu Sina, Sang Guru Besar Kedokteran dan Peletak Dasar Anestesi Modern

 Ibnu Sina, Sang Guru Besar Kedokteran dan Peletak Dasar Anestesi Modern

Ilustrasi: Ibnu Sina [AI]

IBNU SINA lahir di kota Bukhara pada tahun 370 Hijriah dan menghabiskan masa awal hidupnya di sana. Pada masa itu, Bukhara menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dan sastrawan sekaligus memiliki banyak perpustakaan besar.

Atmosfer ilmiah tersebut sangat mendukung Ibnu Sina dalam menuntut ilmu. Ayahnya pun memfasilitasinya dengan mendatangkan banyak guru terbaik.

Ibnu Sina berhasil menghafal Al-Qur’an serta menguasai ilmu bahasa dan sastra sebelum usianya menginjak sepuluh tahun. Setelah itu, ia mulai tertarik mempelajari berbagai macam kitab peninggalan Yunani.

Ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat ahli dalam ilmu kedokteran sejak usia dini. Bahkan, para dokter senior pun mulai datang kepadanya untuk mempelajari ilmu tersebut.

Para pasien dari berbagai penjuru daerah juga berdatangan demi mendapatkan kesembuhan darinya. Keahlian ini mendekatkan Ibnu Sina dengan para penguasa, yang kemudian membuka akses perpustakaan pribadi mereka untuk membantu studinya.

Ibnu Sina menekuni bidang matematika, astronomi, fisika, filsafat, musik, kedokteran, hingga logika. Ia menulis banyak karya ilmiah berharga yang membuktikan kejeniusannya di bidang-bidang tersebut.

Karya-karyanya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan ini memberikan dampak yang sangat besar bagi era Kebangkitan (Renaissance) Eropa modern.

Saat berusia 22 tahun, Ibnu Sina menulis sebuah kitab kedokteran monumental yang berjudul al-Qanun. Kitab ini menjadi rujukan utama dunia medis dan telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing.

Kitab al-Qanun dicetak ulang sebanyak 16 kali dalam bahasa Latin pada abad ke-15 Masehi dan 20 kali pada abad ke-16 Masehi. Kitab ini terus diajarkan di berbagai universitas Eropa hingga akhir abad ke-15 Masehi.

Ibnu Sina merupakan dokter pertama yang menggunakan metode anestesi dalam dunia bedah. Ia juga menjadi penemu pertama parasit pada manusia yang kini dikenal sebagai cacing tambang (Ancylostoma).

Selain itu, ia melakukan riset mendalam mengenai tukak lambung, kanker, diabetes, serta sirkulasi darah dari ibu ke janin. Ia juga menulis karya di bidang farmasi, obat-obatan, anatomi, hingga nutrisi.

Dedikasinya tidak terbatas pada dunia medis, ia juga menulis karya tentang filsafat, logika, sastra, astronomi, fisika, kimia, zoologi, botani, hingga musik. Ibnu Sina sering berpindah-pindah ke berbagai wilayah Islam, yang kian memperkaya pengalaman dan pengetahuannya.

Ia juga aktif dalam dunia politik dan sempat menduduki jabatan menteri sebanyak dua kali. Namun, kehidupan politiknya penuh dengan rintangan karena ia pernah dipenjara hingga diancam akan dibunuh.

Setiap kali menghadapi jalan buntu dalam masalah ilmiah, Ibnu Sina akan segera pergi ke masjid. Ia mendirikan salat untuk memohon kepada Allah agar memberikan kemudahan atas kesulitan yang dihadapinya.

Ibnu Sina bukanlah seorang yang pesimistis, melainkan sosok yang selalu optimistis dan rida dalam menjalani kehidupan. Di tengah berbagai kesulitan hidup dan mobilitasnya yang tinggi, ia tetap produktif melahirkan banyak karya berharga.

Dedikasi ini membuat George Sarton dan para ilmuwan Barat lainnya menempatkan Ibnu Sina sebagai tokoh sains dunia dan filosof besar dari Timur. Sebagian filsuf Barat bahkan menjulukinya sebagai Aristoteles dan Hipokrates dari dunia Islam.

Ia diakui sebagai salah satu ilmuwan global yang menguasai banyak cabang ilmu dan seni. Jumlah karya tulis dan hasil riset yang telah dihasilkannya diperkirakan mencapai 276 kitab.

Salah satu karya paling penting yang pernah ditulisnya adalah kitab asy-Syifa. Kitab yang terdiri atas 18 jilid ini memuat pembahasan mendalam mengenai logika dan ilmu alam. []

Sumber: Al Arabiyatu Lin Nasyiin Jilid 6 (dengan penyesuaian). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 8 =