Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap

 Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap

Ilustrasi: Mushaf Al-Qur’an cetakan UPQ Kemenag.

e. Penegasan Mukjizat dari Sisi Konsistensi Teks

Logika manusia mengatakan bahwa sesuatu yang dibuat dalam jangka waktu 23 tahun dalam kondisi emosional dan lingkungan yang berubah-ubah (perang, damai, miskin, kaya) pasti akan mengalami inkonsistensi gaya bahasa atau kontradiksi makna. Namun, Al-Qur’an mematahkan logika itu.

Subhi as-Shalih berargumen bahwa keselarasan antara ayat yang turun di awal periode Mekkah dengan ayat yang turun di akhir periode Madinah adalah bukti bahwa Al-Qur’an bukan karya manusia (As-Shalih, 1988: 62). Struktur bahasanya tetap kokoh, maknanya saling menguatkan, dan tidak ada satu pun ayat yang membatalkan kebenaran ayat lainnya dalam hal prinsip. Ini adalah tantangan bagi akal manusia untuk menyadari bahwa sumbernya adalah Zat Yang Maha Esa.

Refleksi bagi Akademisi dan Dai

Hikmah penurunan Al-Qur’an secara bertahap mengajarkan kita tentang pentingnya “proses” dan “konteks”. Sebagai pendidik dan akademisi di bidang Al-Qur’an dan Tafsir, kita belajar bahwa dalam mendidik umat, kita tidak bisa hanya menyuapkan teks tanpa mempertimbangkan kesiapan mental dan realitas sosial audiens.

Al-Qur’an telah memberikan blueprint bahwa transformasi peradaban dimulai dari penanaman akidah yang kokoh (periode Mekkah), baru kemudian diikuti dengan penataan syariat (periode Madinah). Pendekatan yang bijak, bertahap, dan solutif adalah kunci sukses dakwah Rasulullah Saw yang harus kita teladani di era modern ini. [MSR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 5 =