Gaza Masih Bersimbah Darah

 Gaza Masih Bersimbah Darah

Gaza (Mediaislam.id) – Di tengah klaim gencatan senjata yang seharusnya melindungi warga sipil, Jalur Gaza kembali bersimbah darah. Pada Jumat, tiga warga Palestina—dua di antaranya anak-anak—tewas akibat serangan pasukan pendudukan Israel yang terus melanggar perjanjian gencatan senjata secara terbuka dan berulang.

Sumber medis mengonfirmasi kematian Mohammed Raed al-Barawi (16) pada Jumat malam setelah ditembak di kepala oleh pasukan Israel di Beit Lahia, Jalur Gaza utara. Remaja itu mengembuskan napas terakhirnya di tengah keterbatasan fasilitas medis dan kepungan yang belum juga berakhir.

Beberapa jam sebelumnya, seorang anak lainnya tewas ketika drone quadcopter Israel menjatuhkan bom di sebuah tempat perlindungan warga sipil di wilayah yang sama. Serangan itu menambah panjang daftar korban anak-anak Palestina yang gugur, bahkan ketika dunia mengklaim perang telah mereda.

Di selatan Gaza, kekerasan tak kalah brutal. Seorang nelayan Palestina terluka akibat tembakan artileri angkatan laut Israel di lepas pantai Khan Younis, wilayah yang seharusnya berada dalam perlindungan gencatan senjata. Laut yang menjadi sumber penghidupan berubah menjadi zona tembak mematikan.

Pada Jumat pagi, seorang perempuan Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka setelah pasukan Israel melepaskan tembakan langsung di kawasan Khan Younis. Koresponden kami melaporkan bahwa korban tewas adalah Sabah Ahmed Ali Abu Jameh (62), yang meninggal ketika kendaraan militer Israel menembak secara membabi buta ke arah tenda-tenda pengungsi di sebelah barat kota tersebut.

Tangisan keluarga dan jeritan korban kembali bergema di kamp-kamp darurat—simbol rapuhnya klaim perlindungan sipil di Gaza.

Serangan Udara dan Artileri Berlanjut

Koresponden kami juga mencatat bahwa pasukan pendudukan Israel terus melakukan penembakan artileri di selatan Khan Younis serta tembakan senjata berat di utara Rafah. Pada Kamis malam, sejumlah warga Palestina tewas dan lainnya terluka dalam rangkaian serangan udara Israel yang menargetkan berbagai wilayah Gaza.

Serangan tersebut termasuk pemboman sebuah bangunan tempat tinggal di Kamp Pengungsi Nuseirat serta pos pemeriksaan polisi di Kota Gaza. Sumber medis di rumah sakit Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 10 warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel di seluruh Jalur Gaza sejak Kamis pagi.

Di Nuseirat, tiga warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka setelah rumah keluarga Khatib menjadi sasaran serangan udara. Dua korban diidentifikasi sebagai Ashraf Khatib dan istrinya. Tim pertahanan sipil dan ambulans mengevakuasi jenazah dan korban luka ke Rumah Sakit Al-Awda dan Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa.

Serangan terpisah juga menewaskan tiga warga Palestina lainnya setelah pos pemeriksaan polisi di Persimpangan Nabulsi, barat daya Kota Gaza, dihantam bom Israel. Sementara itu, dua jenazah ditemukan di halaman rumah keluarga Jarrou di sebelah barat Deir al-Balah, menyusul pemboman Israel sebelumnya.

1.244 Pelanggaran Gencatan Senjata

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 hingga Kamis pagi, 15 Januari 2026—selama 95 hari—Israel telah melakukan pelanggaran serius dan sistematis terhadap perjanjian tersebut. Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan hukum humaniter internasional serta perusakan disengaja terhadap esensi gencatan senjata dan protokol kemanusiaan yang menyertainya.

Dalam pernyataan resminya, kantor tersebut mengungkap bahwa lembaga pemerintah terkait telah mendokumentasikan 1.244 pelanggaran, dengan rincian:

– 402 insiden penembakan langsung terhadap warga sipil
– 66 penyerbuan kendaraan militer ke kawasan permukiman
– 581 pemboman dan serangan yang menargetkan warga sipil tak bersenjata dan rumah mereka
– 195 pemboman dan penghancuran rumah, institusi, dan bangunan sipil

Pelanggaran sistematis tersebut mengakibatkan 449 warga Palestina tewas setelah dirawat di rumah sakit, 1.246 orang terluka, serta 50 penangkapan ilegal oleh pasukan pendudukan Israel.

Korban Terus Bertambah, Dunia Dikecam

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, jumlah korban tewas telah mencapai 451 orang hingga Kamis, dengan 1.251 korban luka, serta 710 jenazah yang berhasil ditemukan dari reruntuhan.

Adapun sejak awal agresi Israel pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas kumulatif mencapai 71.441 orang, sementara 171.329 lainnya mengalami luka-luka—angka yang mencerminkan skala kehancuran kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di tengah statistik yang terus bertambah, kecaman internasional semakin menguat. Organisasi hak asasi manusia dan pakar hukum internasional menilai bahwa pembunuhan warga sipil, penargetan anak-anak, serta serangan terhadap pengungsi dan rumah tinggal merupakan kejahatan perang dan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa.

Namun, bagi keluarga korban di Gaza, kecaman itu terasa hampa. Di balik angka dan pernyataan diplomatik, mereka hanya melihat satu kenyataan: gencatan senjata yang tak pernah benar-benar menghentikan kematian, dan dunia yang terus membiarkan penderitaan mereka berlangsung.

sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + sixteen =