Dimensi Spiritual dan Sosial Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw
Ilustrasi
Kritik Sosial melalui Penglihatan Ghaib
Selama perjalanan, Nabi Saw diperlihatkan berbagai perumpamaan tentang kondisi umat manusia. Al-Mubarokfury merinci berbagai pemandangan yang disaksikan Nabi, seperti orang-orang yang memakan daging busuk sementara daging segar tersedia, atau mereka yang lidahnya dipotong dengan gunting api (Al-Mubarokfury, 2021).
Rawwas Qal’Ah Jie menganalisis bahwa penglihatan-penglihatan ini adalah bentuk kritik sosial terhadap penyakit masyarakat yang merusak tatanan peradaban, seperti riba, zina, dan fitnah (Qal’ah Jie, 2005).
Dimensi sosial Isra Mikraj mengajarkan bahwa kesalehan individu (spiritual) harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Seorang yang rajin shalat (mikraj) seharusnya adalah orang yang paling depan dalam menentang ketidakadilan sosial di bumi.
Ujian Rasionalitas dan Integritas
Ketika Nabi Saw kembali dan menceritakan perjalanannya, masyarakat Makkah gempar. Di sinilah dimensi sosial dalam bentuk integritas komunitas diuji. Al-Mubarokfury mencatat bagaimana kaum musyrikin menggunakan logika materialistik untuk meruntuhkan kredibilitas Nabi (Al-Mubarokfury, 2021).
Namun, Abu Bakar as-Siddiq memberikan respons yang legendaris: “Jika ia (Muhammad) yang mengatakannya, maka itu benar.” Sikap Abu Bakar ini, menurut Al-Buthi, bukan sekadar kepercayaan buta, melainkan hasil dari pengenalan mendalam terhadap integritas pribadi Rasulullah (Al-Buthi, 2010).
Dalam konteks sosial modern, peristiwa ini mengajarkan pentingnya tabayyun dan kepercayaan terhadap kebenaran di tengah banjir disinformasi. [MSR]
