Bencana Alam, Kebutuhan Pokok Melambung Tinggi, Hingga Meningkatnya Kriminalitas Bukan Peristiwa Kebetulan
Ustaz M. Kamal Akraman, S.Pd
Aceh Besar. Mediaislam.id–Rentetan bencana alam, fenomena harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, hingga meningkatnya angka kriminalitas yang terjadi belakangan ini bukanlah sekadar peristiwa kebetulan.
Pengajar di Pondok Pesantren Imam Syafi’i Sibreh, Ustaz M. Kamal Akraman, S.Pd menegaskan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar, 2 Januari 2026 bertepatan dengan 13 Rajab 1447 H.
Dalam khutbah tersebut, Ustaz Kamal mengajak jamaah merenungi hikmah di balik setiap kesulitan hidup. Ia menekankan, seorang mukmin harus mampu melihat keterkaitan antara perilaku manusia dengan kondisi alam dan lingkungan.
Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96, Ustaz Kamal menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi sangat bergantung pada keimanan dan ketakwaan penduduk suatu negeri. Penderitaan dan kesempitan hidup sering kali merupakan buah dari pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, terutama dosa syirik.
“Jangan sampai kita seperti orang munafik yang tak tahu mengapa ia terjegal dan tertahan. Jika kesialan dan kesulitan menghadapi kita hingga terasa tiada jalan keluar, khutbah ini mengajak kita menemukan sumber masalahnya. Jika sumbernya diketahui, maka jalan keluarnya akan lebih mudah ditemukan,” ujarnya.
Ustaz Kamal juga menyoroti kerusakan di darat dan laut yang kian nyata. Mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, ia mengingatkan bahwa alam yang “mengamuk” adalah respons atas kezaliman dan keserakahan manusia. Manusia yang seharusnya menjadi khalifah untuk memakmurkan bumi, justru sering kali merusaknya dengan kemaksiatan.
Ia memberikan ilustrasi yang mendalam mengenai dampak perilaku manusia terhadap semesta: “Kematian pelaku dosa merupakan ketenangan bagi alam semesta. Sebaliknya, jika seorang hamba beriman wafat, ia sejatinya beristirahat dari kepayahan dunia menuju rahmat Allah.”
Di akhir khutbahnya, Ustaz Kamal berpesan agar masyarakat tidak menganggap remeh dosa, meskipun dosa kecil yang telah menggunung. Ia mengajak seluruh jamaah untuk memutus rantai “kesialan” dengan cara bertaubat dan meningkatkan ketakwaan.
“Mari menjaga diri dan keluarga dari perbuatan yang menjerumuskan ke api neraka, sebagaimana perintah Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 6. Mari kita tinggalkan kezaliman agar bumi kembali dipenuhi kedamaian, kesejahteraan, dan keberkahan,” pungkasnya.* (Sayed M. Husen)
