Belajar dari Qadhi Iyas bin Muawiyah
Ilustrasi: Qadhi Iyas bin Muawiyah. [AI]
IYAS bin Muawiyah adalah seorang hakim (qadhi) yang cerdas, ia telah menyelesaikan banyak masalah dengan metode yang sederhana dan terkenal karena hal tersebut.
Dan pada suatu hari datanglah seorang pria kepadanya mengadukan salah seorang pedagang sambil berkata: “Wahai tuanku Hakim, sesungguhnya aku telah menitipkan harta yang banyak kepada orang ini dan aku telah pergi dalam suatu perjalananku, kemudian ketika aku kembali ia mengingkari bahwa ia telah mengambil harta ini, maka lihatlah apa yang engkau pandang.”
Iyas berkata kepada sang pengadu: “Dan di mana kalian berdua berada ketika engkau memberikan harta itu kepadanya?” Sang pengadu menjawab: “Kami berada di dekat sebuah pohon di padang pasir.”
Iyas bertanya kepada sang pedagang: “Apakah benar apa yang dikatakan pria ini?” Ia menjawab: “Tidak, wahai tuanku Hakim, aku tidak mengambil harta darinya dan aku tidak pernah melihat pohon ini seumur hidupku.”
Iyas berkata kepada sang pengadu: “Pergilah ke pohon ini, maka barangkali Allah memperjelas hakmu di sana. Karena boleh jadi engkau tidak mengatakan kebenaran, atau boleh jadi engkau telah mengubur hartamu di dekat pohon itu lalu engkau lupa.”
Sang pengadu pun keluar, lalu Iyas berkata kepada sang pedagang: “Duduklah di sini sampai rekanmu kembali, maka barangkali ia menemukan hartanya sehingga aku bisa memutuskan hukum bebas untukmu.” Pria itu pun duduk, dan Iyas mulai memeriksa perkara-perkara orang lain seolah-olah ia telah melupakan seluruh kasus tersebut.
Hingga ketika telah berlalu beberapa waktu, ia menoleh kepada sang pedagang secara tiba-tiba dan berkata kepadanya: “Apakah engkau melihat rekanmu itu sudah sampai ke pohon sekarang?” Pria itu menjawab: “Belum, sesungguhnya pohon itu jauh.”
Maka Iyas langsung menegaskan: “Wahai musuh Allah, engkau adalah seorang pengkhianat, dan pria itu telah menitipkan harta kepadamu di dekat pohon tersebut!” Pria itu menjadi gugup dan berkata: “Benar, sesungguhnya aku bersalah, akan tetapi jagalah rahasiaku niscaya Allah akan menjagamu.”
Iyas memberi isyarat kepada para petugas kepolisiannya, dan memerintahkan mereka untuk menangkap sang pedagang serta tidak membiarkannya meninggalkan tempatnya. Dan ia melanjutkan menyelesaikan urusan-urusan peradilan lainnya.
Dan setelah waktu yang lama, pria (sang pengadu) itu kembali dalam kondisi yang letih dan lelah. Maka Iyas bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah menemukan hartamu?”
Pria itu menjawab: “Tidak, wahai tuanku, saya telah pergi ke tempat pohon itu lalu saya teringat bahwa saya memang telah memberikan harta saya kepada orang ini, tidak ada keraguan dalam hal itu.” Maka Iyas berkata: “Engkau benar, dan pedagang ini pun telah mengakui kesalahannya maka ambillah hakmu darinya.”
Dan hukuman pun resmi dijatuhkan kepadanya dalam perkara tersebut. Akhirnya, sang pedagang itu mengembalikan harta tersebut.[]
Sumber: “Hikayat-Hikayat Arab” oleh Mahmud Salim.
