Bedah Buku ‘Jangan Asal Tuduh Kafir!’ Dorong Literasi Keagamaan yang Moderat dan Kritis

 Bedah Buku ‘Jangan Asal Tuduh Kafir!’ Dorong Literasi Keagamaan yang Moderat dan Kritis

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat.

Jakarta (Mediaislam.id)–Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Islamic Literacy Space bertema “Bedah Buku Jangan Asal Tuduh Kafir: Kritik Pemikiran Kaum Takfiri di Indonesia”. Kegiatan itu berlangsung secara daring, Jumat (26/6/2026).Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin Islamic Literacy Space yang digagas Subdirektorat Kepustakaan Islam sebagai upaya memperkuat literasi keagamaan yang moderat dan kritis di tengah masyarakat.Acara diawali dengan keynote speech Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat. Dalam paparannya, Arsad mengingatkan agar masyarakat, termasuk aparatur Kementerian Agama, tidak lengah terhadap ancaman radikalisme meski isu tersebut tidak lagi menjadi sorotan utama media.

Ia menegaskan pentingnya meningkatkan literasi keagamaan, memperkuat kewaspadaan terhadap penyebaran paham ekstrem, serta menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Menurutnya, penguatan literasi keagamaan sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa agama harus menjadi sumber kasih sayang, persaudaraan, dan pemersatu bangsa, bukan dijadikan alasan untuk menyebarkan kebencian, saling mengafirkan, atau membenarkan tindakan ekstrem.

Arsad juga menegaskan bahwa Islamic Literacy Space merupakan komitmen Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah dalam menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang mendorong penguatan literasi keagamaan, memperkokoh moderasi beragama, serta membangun budaya dialog yang sehat dan konstruktif. “Forum seperti ini penting untuk melahirkan pemahaman keagamaan yang lebih kritis, inklusif, dan mampu menjawab tantangan kehidupan beragama di era digital,” katanya.

Pada sesi bedah buku, Muhammad Masrur Irsyadi, sebagai penulis menjelaskan bahwa buku Jangan Asal Tuduh Kafir: Kritik Pemikiran Kaum Takfiri di Indonesia disusun dalam dua babak. Babak pertama mengulas sejarah berkembangnya pemikiran takfir di Indonesia beserta dinamika yang melatarbelakanginya. Sementara babak kedua membahas gagasan-gagasan kaum takfiri sekaligus menyajikan kritik terhadap pemikiran tersebut berdasarkan kajian keislaman yang komprehensif.

Menurut Masrur, buku tersebut tidak hanya memotret perkembangan pemikiran takfiri di Indonesia, tetapi juga menghadirkan argumentasi ilmiah yang dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk memahami persoalan tersebut secara lebih utuh. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak pada cara pandang yang sempit maupun sikap saling menghakimi dalam menyikapi perbedaan.

Selanjutnya, Syafi’i, selaku pembanding memberikan apresiasi atas hadirnya buku ini sebagai kontra narasi terhadap ekstremisme di ruang publik, terlebih di tengah derasnya arus informasi di era digital. Menurutnya, buku tersebut memberikan kontribusi penting dalam memperkaya literasi keislaman yang moderat sekaligus mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam memahami persoalan takfiri.

Meski demikian, Syafi’i yang juga dosen UIN Jakarta menyampaikan catatan kritis terkait pembahasan perseteruan di Tanah Minang. Menurutnya, konflik tersebut bukan merupakan fenomena takfiri, melainkan perseteruan antara kelompok pembaharu (kaum muda) dengan kelompok pendukung adat (kaum tua) yang berkembang pada masa itu. Catatan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan dalam kajian-kajian selanjutnya.

“Berikutnya nanti kita akan menghadirkan tema diskusi yang lebih menarik lagi,” pungkas Arsad.

Sebagai informasi, buku yang dibedah merupakan salah satu dari 29 karya pemenang Lomba Sayembara Penulisan Buku Umum Keagamaan Islam Tahun 2024 yang dihelat Subdirektorat Kepustakaan Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Kementerian Agama untuk memperkuat tradisi literasi keagamaan yang moderat, inklusif, dan berbasis kajian ilmiah.*

Sumber: Bimas Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =