‘Abu Ubaidah’ Tidak Meninggal!
Jubir Brigade Al-Qassam Abu Ubaida
Senin 9 Rajab 1447H/29 Desember 2025 H ini kita dikejutkan oleh ramainya pemberitaan yang menyebar sangat cepat dan menjadi tagar paling tren di Palestina dan Dunia Arab: Abu Ubaidah syahid…
Setelah berbulan-bulan berita tentang meninggalnya Abu Ubaidah simpang siur di media sosial. Israel menyatakan bahwa mereka berhasil membunuhnya, sementara berita yang lain memberi harapan bahwa Abu Ubaidah hanya terluka berat dan masih dalam keadaan hidup. Tapi jubir Al Qassam yang sudah bertugas selama dua Dekade tersebut hari ini resmi diumumkan syahid oleh jubir Al Qassam yang baru.
Sebenarnya yang diumumkan syahid bukan hanya Abu Ubaidah. Bahkan pemimpin militer Al Qassam tertinggi pun diumumkan syahid. Beliau adalah Muhammad Sinwar Abu Ibrahim (saudaranya Yahya Sinwar yang sudah syahid lebih dahulu). Muhammad Sinwar adalah Panglima militer Al Qassam tertinggi yang menggantikan panglima sebelumnya Muhammad Dheif yang mengumumkan permulaan Thufan Al Aqsha dan juga telah syahid.
Muhammad Sinwar disebut sebagai akal besar yang bukan saja mendesain pertempuran tetapi juga mendesain kehebatan terowongan bawah tanah Gaza.
Di antara yang diumumkan syahid juga: Muhammad Syabanah Abu Anas. Beliau adalah panglima Brigade Al Qassam Rafah. Disebutkan bahwa beliau syahid saat mengawal Muhammad Sinwar dalam tugas militernya terutama di bagian selatan Gaza. Hakam Al Isa Abu Umar juga ada di antara daftar para pemimpin Al Qassam yang syahid, yang selama ini bertugas mempelajari berbagai strategi militer dan kemudian bertanggung jawab terhadap pelatihan strategi pertempuran.
Panglima pemimpin di bidang produksi dan pengembangan persenjataan Al Qassam: Raid Saad Abu Muadz juga termasuk yang syahid. Dari pembuatan peluru, senjata sampai drone yang berhasil diproduksi selama masa blokade terhadap Gaza.
Muhammad Syabanah, Hakam Al Isa, Raid Saad. (Dari kiri ke kanan) Dan dari sekian panglima Al Qassam yang paling ditunggu beritanya di seluruh dunia adalah berita Abu Ubaidah. Dan telah dinyatakan resmi bahwa Abu Ubaidah pun telah syahid. Bahkan dibukalah Kafeyah yang selama ini menjaga keikhlasan jihadnya berikut disebutkan nama dan kun-yah aslinya: Hudzaifah Samir Abdullah Al Kahlut Abu Ibrahim.
Diberitakan bahwa yang syahid bukan saja Abu Ubaidah, tapi berikut istri dan anak-anaknya. Hanya anak pertamanya: Ibrahim yang disebutkan selamat tetapi dengan luka parah.
Abu Ubaidah menjadi sangat terkenal karena penjelasanpenjelasan yang tak hanya melaporkan angka hasil pertempuran. Tetapi selalu menyirami informasinya dengan ayat dan ruh yang membakar semangat para
mujahid, masyarakat Gaza, Palestina, Arab dan dunia Islam.
Saat media mainstream banyak dikuasai sumber informasinya oleh media Israel, Abu Ubaidah selalu menampilkan berita dengan kacamata para mujahid. Karenanya selalu membangkitkan berita gembira dan harapan. Tak heran sebagian orang menyebutnya sebagai menteri kebahagiaan.
Abu Ubaidah yang baru tampil kali pertama mengumumkan syahid para panglima. Dia tampil dengan penampilan yang sama dengan Abu Ubaidah Al Kahlut. Tegas suara dan getar imannya terasa sama. Tegap badannya pun sama. Pilihan katanya yang lugas tapi sarat makna juga sama. Isi ayat, data, salam hormat pada pengorbanan dan kesabaran rakyat Gaza, ucapan terimakasih kepada siapapun yang membantu, kutukan dan ancaman kehancuran bagi Israel dan pendukungnya; semuanya sama persis.
Dari berita tentang Abu Ubaidah, kita mendapatkan nama dan panggilan yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah murni sebuah nama jihad media Al Qassam. “Kami mewarisi dari Hudzaifah Al Kahlut panggilan: Abu Ubaidah,” kata jubir baru yang juga menggunakan nama yang sama: Abu Ubaidah.
Perisitiwa di depan mata kita ini semestinya membangunkan tidur panjang, kelesuan dan pergerakan sporadis tanpa kejelasan arah. Semestinya…
Pengumuman syahidnya para panglima tinggi di berbagai bidang memastikan bahwa pergerakan para mujahid bukan sebuah pergerakan asal-asalan. Tapi ia adalah kebenaran yang ada dalam desain rapi dalam satu komando.
Kerapian kerasahasiaan juga merupakan pukulan kasar di kepala kita yang selalu ingin menampilkan apa saja di medsos. Sampai syahidnya Abu Ubaidah kita tidak tahu siapa nama sebenarnya. Sampai syahidnya para panglima, baru kita tahu apa tugas mereka masing-masing.
Puncaknya tentang kaderisasi. Ya, kaderisasi adalah nyawa yang memastikan pergerakan ini tidak akan mati. Tapi masalahnya kaderisasi memang kerja berat, melelahkan dan jauh dari gebyar ketenaran. Tapi tanpanya, syahidnya Muhammad Dheif adalah kehancuran Al Qassam. Nyatanya, muncul Muhammad Sinwar dengan kualitas sama.
Kini walau kita tidak tahu siapa pengganti untuk tugas kepanglimaan para mujahid, kini pasti sudah yakin para panglima berikutnya dengan kualitas yang sama hebatnya telah disiapkan.
Apalagi Abu Ubaidah baru telah berjanji kepada Abu Ubaidah Al Kahlut: “Kami berjanji akan melanjutkan pergerakan ini!”
Derajat paling mulia, Surga paling tinggi, nama paling harum, pahala yang tak berhenti; untukmu para panglima kami.
Entah apa karya kami, yang pasti kami punya cinta tulus kepada kalian dengan harapan kalimat Rasul kita:
أنت مع من أحببت (Engkau bersama yang kau cintai) Termasuk tulisan ini: Ya Robb, jadikan ini saksi…
Pelataran Masjidil Haram, Mekah Al Mukarramah
Menara jam menunjukkan pukul 22.10
Budi Ashari
