Abu Mohammed al-Jawlani, Pemimpin Operasi Militer Oposisi Suriah yang Runtuhkan Rezim Baath
Pemimpin HTS Abu Mohammed Al Jawlani
Al-Jawlani lantas menjadi komandan kelompok bersenjata Nusra atau Jabhat al-Nusra. Kelompok tersebut diketahui meraih banyak kemenangan dalam pertempuran.
Pada 2013, al-Jawlani memutuskan hubungan kelompok Nusra dari ISIS dan menempatkan kelompok tersebut di bawah komando al-Qaeda.
Akan tetapi, pada 2016, al-Jawlani mengumumkan pemutusan hubungan Nusra dengan al-Qaeda.
Pada 2017, al-Jawlani mengatakan kelompoknya telah bergabung dengan kelompok lain di Suriah untuk membentuk Hayat Tahrir-Al Sham dan dirinya menjadi pemimpin gabungan kelompok-kelompok milisi tersebut.
Di bawah pimpinan al-Jawlani, HTS menjadi kelompok dominan di wilayah Idlib dan wilayah-wilayah sekitarnya yang terletak di bagian barat laut Suriah.
Sebelum masa peperangan, sekitar 2,7 juta warga tinggal di wilayah itu. Sejumlah pihak memperkirakan penduduk di daerah tersebut bertambah menjadi sekitar empat juta jiwa lantaran arus masuk pengungsi.
Kelompok al-Jawlani menguasai “Pemerintahan Keselamatan” yang bertindak layaknya otoritas lokal di Provinsi Idlib dengan memberikan layanan kesehatan, pendidikan, serta keamanan.
Pada 2021, al-Jawlani berkata media PBS bahwa pihaknya tidak mengikuti strategi jihad global ala al-Qaeda, melainkan fokus pada upaya menjungkalkan Presiden al-Assad. AS dan negara-negara Barat pun memiliki tujuan yang sama dengan dirinya.
“Wilayah ini tidak merepresentasikan ancaman keamanan kepada Eropa dan Amerika,” katanya.
Pada 2020, HTS menutup basis al-Qaeda di Idlib, merebut persenjataan, dan memenjarakan sejumlah pemimpinnya. Kelompok tersebut juga menghancurkan operasi ISIS di Idlib.
HTS diketahui menegakkan hukum Islam di wilayah kendalinya, tetapi dengan cara yang lebih longgar dibanding kelompok-kelompok jihad lainnya.
