Ustaz Zaitun Rasmin di Silatnas PAJIM: Berbeda Pandangan, Tetap Bersaudara
Jakarta (Mediaislam.id)–Beragam latar belakang organisasi dan perbedaan pandangan tidak menghalangi para alumni Universitas Islam Madinah untuk duduk bersama. Dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) IV Perkumpulan Alumni Jami’ah Islamiyah Madinah (PAJIM), Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin mengajak para alumni merawat persaudaraan dan memperluas kerja sama dengan bertumpu pada banyaknya persamaan.
Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang juga Ketua MUI Bidang Ukhuwah tersebut menegaskan, perbedaan tidak harus membuat para alumni berjalan sendiri-sendiri dalam menjawab kebutuhan umat.
“Kita menemukan bahwa lebih banyak persamaan daripada perbedaan,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam Silatnas IV PAJIM di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, pada 31 Oktober–1 November 2026.
PAJIM merupakan wadah berhimpun alumni Universitas Islam Madinah. Pertemuan nasional ini menjadi ruang silaturahmi bagi para alumni yang memiliki beragam kiprah di lembaga pendidikan, organisasi dakwah, dan kehidupan masyarakat.
Menurut Ustaz Zaitun, kesediaan untuk bertemu dan saling mendengarkan merupakan modal penting dalam memperkuat persatuan. Ia menggambarkannya melalui tiga bentuk keterhubungan, yakni shilatul abdan atau pertemuan fisik, shilatul qulub atau kedekatan hati, serta shilatul afkar atau pertautan pemikiran.
Pertemuan, jabat tangan, dan senyuman membuka jalan bagi kedekatan hati. Sementara itu, paparan para pembicara memperlihatkan banyaknya titik temu dalam pemikiran mereka.
“Ini membuat kita lebih optimistis ke depan untuk kekuatan persatuan alumni Madinah, atau persatuan kita di PAJIM ini,” tuturnya.
Memegang Prinsip, Menjaga Persaudaraan
Dalam paparannya, Ustaz Zaitun menekankan bahwa keteguhan dalam memegang prinsip dapat berjalan beriringan dengan keluwesan dalam berinteraksi. Ia mengajak para alumni meneladani adab ulama dalam menyikapi perbedaan.
Ia mengingatkan pesan Imam Syafi’i kepada Yunus ash-Shadafi tentang pentingnya tetap bersaudara meskipun berbeda pandangan dalam suatu persoalan. Semangat tersebut, menurutnya, perlu dihidupkan melalui dialog yang tenang dan saling menghormati.
Ustaz Zaitun juga mengusulkan agar PAJIM memfasilitasi hiwar hadi’, yakni dialog yang tenang, dalam kelompok terbatas untuk membahas persoalan-persoalan yang diperselisihkan. Dialog tersebut diharapkan dapat membuka pemahaman terhadap dasar pandangan masing-masing.
“Kita akan ketemu paling minimal dalam pemahaman, artinya saling memahami. Walaupun berbeda, tapi saya paham apa dasarnya,” jelasnya.
Ia turut menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan dua ulama yang memiliki pandangan berbeda mengenai foto. Perbedaan tersebut tidak menghalangi keduanya untuk menjalin persahabatan yang akrab, bahkan saling bercanda.
Pengalaman itu disampaikan sebagai contoh bahwa perbedaan pandangan dapat disikapi tanpa mengorbankan kehangatan hubungan persaudaraan.
Dari Silaturahmi Menuju Kerja Bersama
Ajakan persatuan Ustaz Zaitun juga diarahkan pada langkah nyata. Ia mendorong agar kedekatan antaralumni berkembang menjadi kerja sama yang bermanfaat bagi lembaga dakwah, umat, dan bangsa.
Menurutnya, para alumni dapat memulai dari persoalan yang berkaitan erat dengan tugas keilmuan dan dakwah mereka, memiliki titik kesepakatan yang luas, serta sangat dibutuhkan masyarakat.
Salah satu contoh yang ditekankannya ialah pembelaan terhadap Palestina. Para alumni mungkin memiliki perbedaan dalam bentuk penyampaian dan cara berkontribusi, tetapi tetap dapat bergerak di atas kepedulian yang sama.
“Saya kira semua sepakat masalah Palestina ini masalah umat, dan kita wajib untuk melakukan pembelaan. Tidak masalah bisa berbeda ekspresi,” tegasnya.
Ia mengapresiasi kiprah sejumlah alumni dalam membela Palestina. Ia juga mendorong agar kontribusi bersama melalui PAJIM semakin terlihat.
Melalui forum tersebut, Ustaz Zaitun kembali menekankan pentingnya merawat persatuan, yakni dengan saling memahami ketika berbeda, menjaga persaudaraan, dan mengubah banyaknya persamaan menjadi kerja nyata bagi umat.*
