Pasca 7 Oktober 2023, Palestina Jadi Pusat Perhatian Dunia
Aksi Bela Palestina di Belanda. (foto: aljazeera)
Gaza (Mediaislam.id) – Tiga tahun setelah 7 Oktober 2023, operasi yang dilancarkan dari Gaza bukan sekadar peristiwa militer, tetapi menjadi titik balik yang mengguncang asumsi lama Israel mengenai keamanan, daya tangkal, dan perbatasan yang diperkuat.
Pada dini hari tersebut, Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Gerakan Hamas, mengumumkan dimulainya “Operasi Badai Al-Aqsa”, yang disertai serangan terkoordinasi terhadap sejumlah situs militer dan permukiman Israel di dekat perbatasan Gaza. Menurut keterangan dari pihak Palestina, sekitar 3.000 pejuang terlibat dalam serangan dan operasi pendukung, sementara tembakan roket dalam jumlah besar ditujukan untuk mengganggu sistem respons Israel dan menunda datangnya bala bantuan.
Signifikansi operasi tersebut bukan hanya terletak pada skalanya, tetapi juga pada kemampuannya menembus wilayah yang selama ini diklaim Israel terlindungi oleh tembok canggih, sensor, sistem pengawasan, dan teknologi intelijen.
Keterangan dan hasil investigasi dari pihak Israel kemudian menunjukkan adanya sejumlah kegagalan besar, termasuk berkurangnya pengerahan pasukan di sepanjang perbatasan Gaza, ketergantungan berlebihan pada teknologi, serta ketidakmampuan menafsirkan secara tepat informasi yang tersedia mengenai persiapan perlawanan Palestina.
Bagi para analis, 7 Oktober mengungkap kegagalan intelijen yang lebih mendalam. Israel bukan berarti tidak memiliki informasi, tetapi gagal menghubungkan informasi tersebut menjadi penilaian yang akurat. Amin al-Hajj, seorang pakar urusan Israel, mengatakan bahwa kelompok perlawanan berhasil menjaga kerahasiaan operasi, waktu pelaksanaan, dan sifat operasi tersebut hingga saat-saat terakhir.
Namun, dampak 7 Oktober tidak berhenti di medan perang. Perang yang terjadi setelahnya menjadikan Gaza sebagai pusat bencana kemanusiaan berkepanjangan, dengan pengungsian massal, kehancuran, kehilangan anggota keluarga, serta perjuangan sehari-hari untuk mendapatkan air, makanan, dan tempat berlindung.
Pada saat yang sama, Palestina juga menghadapi pertarungan politik dan perundingan. Pakar hukum internasional Anis al-Qasim mengatakan tantangannya adalah membedakan antara perundingan yang bertujuan menghentikan serangan dan melindungi rakyat Palestina dengan kesepakatan yang dapat memaksakan konsesi jangka panjang atau menciptakan realitas politik dan keamanan baru di Gaza.
Peringatan tersebut juga kembali menghidupkan ingatan warga Palestina terhadap desa-desa di luar pagar Gaza, termasuk Damra, Simsim, Burayr, Deir Suneid, al-Muharraqa, Najd dan Huj. Bagi warga Palestina, nama-nama tersebut tetap terkait erat dengan Nakba, pengusiran, serta hak untuk kembali.
Secara politik, 7 Oktober kembali menempatkan Palestina di garis depan perhatian dunia setelah bertahun-tahun isu tersebut berupaya dikesampingkan melalui normalisasi dan berbagai aliansi regional. Perang yang kemudian terjadi kembali menarik perhatian global terhadap persoalan pendudukan, pengepungan, pengusiran, dan hak menentukan nasib sendiri. Pada saat yang sama, aksi pro-Palestina menyebar di jalan-jalan, kampus-kampus, dan ruang publik di berbagai penjuru dunia.
Tiga tahun kemudian, Gaza masih menanggung beban berat akibat perang. Namun, konstelasi yang lebih luas telah berubah: citra keamanan Israel terguncang, masa depan Gaza tetap menjadi persoalan politik utama, dan Palestina kembali berada di jantung perdebatan regional maupun internasional.
sumber: infopalestina
