Mantan Menag Ajak Umat Kembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban

 Mantan Menag Ajak Umat Kembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban

Prof. Said Agil Husin Al Munawar bersama jamaah usai memberikan ceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhmmad saw di Masjid Birru Al Furqon Perumahan Citra Raya Tangerang. [ANTARA]

Tangerang (Mediaislam.id) — Mantan Menteri Agama Prof. Said Agil Husin Al Munawar mengatakan, masjid dalam Islam bukan tempat pelaksanaan shalat semata. Masjid merupakan institusi multidimensional yang mencakup fungsi ibadah, pendidikan, dakwah, sosial, kepemimpinan, keadilan, ekonomi, dan pembinaan spiritual.

“Seluruh fungsi tersebut berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, menjadikan masjid sebagai jantung kehidupan umat Islam dan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berkeadaban,” kata Prof. Said Agil dalam keterangannya usai menghadiri peringatan Maulid Nabi di Masjid Birru Al Furqon, Grand Catania Citra Raya, Tangerang, Senin (28/9/2026).

Dikutip dari Kantor Berita Antara, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menjelaskan kaitan antara peringatan maulid, rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw, dan pemakmuran masjid. Menurutnya, momentum peringatan Maulid Nabi bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sarana menerjemahkan akhlak, ajaran, dan keteladanan Rasulullah saw dalam kehidupan nyata melalui ekspresi cinta yang substantif.

Selain itu, peringatan maulid juga berfungsi menghidupkan fungsi sosial dan ilmu di masjid melalui penguatan moral, solidaritas sosial, serta kerja sama umat untuk membangun masyarakat yang damai dan beradab.

Pada masa Rasulullah saw, Masjid Nabawi berdiri sebagai titik sentral peradaban. Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, penyelesaian masalah umat, dan perekat persaudaraan (ukhuwah).

Masjid Nabawi menjadi pusat belajar agama dan pengetahuan umum melalui majelis atau halaqah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw. Tempat tersebut juga berfungsi sebagai penampungan dan perlindungan bagi fakir miskin maupun kaum Muhajirin yang belum memiliki tempat tinggal.

Selain itu, Masjid Nabawi dijadikan tempat bermusyawarah untuk mendiskusikan urusan harian umat Islam, mulai dari masalah kemasyarakatan, penentuan kebijakan publik, urusan sosial, hingga strategi pertahanan.

“Oleh karena itu, momentum Maulid harus mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban. Pada zaman Rasulullah saw, masjid memiliki banyak peran strategis untuk mengurus kebutuhan umat,” ujar Prof. Said Agil pada Senin (28/9/2026).

Ketua DKM Masjid Birru Al Furqon, Mujianto, menyampaikan bahwa untuk mendidik anak-anak dan remaja mencintai masjid, pihaknya menggelar Lomba Cinta Nabi dan Rindu Masjid bersama anak-anak TPA serta Nongki Islami Remaja se-Citra Raya.

“Kegiatan ini diikuti oleh remaja di lingkungan sekolah maupun Ikatan Remaja Masjid (Irmas) di kawasan Citra Raya. Kita ingin menguatkan nilai keagamaan melalui pemanfaatan masjid sebagai pusat peradaban,” kata Mujianto pada Senin (28/9/2026).

Ketua Forum DKM Se-Citra Raya, Ustaz Agus Kuswanto Maarif, mengapresiasi upaya memakmurkan masjid dengan menguatkan nilai-nilai kemasjidan sebagai pusat pembinaan peradaban umat.

“Peringatan maulid menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dengan menggerakkan dan mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan peradaban umat,” tuturnya pada Senin (28/9/2026).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =