Dikira Mulia, Tapi Celaka
Ilustrasi
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar [39] : 53).
Sejatinya, jin dan manusia diciptakan untuk beribadah semata kepada Allah SWT. (QS. Adz-Dzariayaat [51]: 56). Selain itu, manusia juga mengemban amanah kepemimpinan, baik terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa maupun negera (QS. Al-Baqarah[2]: 30). Tiada lain, untuk mendatangkan kemakmuran hidup manusia dengan melestraikan lingkungan dan mengelola kakayaan alam dengan baik. Tanggung jawab kepemimpinan pula mencegah segala bentuk perusakan alam (eksploitasi) seperti penambangan dan penebangan liar, pembakaran hutan, pencemaran air dan udara (QS. Hud[11]: 61).
Dampak dan kerugian akibat perusakan alam tersebut tidak terhitung harganya, bukan hanya pepohonan dan tanaman yang hangus, flora dan fauna yang mati, manusia yang kehilangan harta dan jiwa, tetapi juga eksosistem alam yang rusak, asapnya menimbulkan penyakit pernafasan akut serta aktifitas ekonomi dan perdagangan yang lumpuh. Itulah ulah tangan manusia serakah dan biadab yang merusak alam untuk kepentingan duniawi (QS. Ar-Ruum [30]: 41). Sayangnya, pemerintah tidak mampu mencegah dan mengawasi, sebab pelakunya adalah oligarki yang memperalat rakyat jelata yang ingin bertahan hidup.
Itulah tindakan dzalim yang dilakukan manusia pintar namun tak beradab (kepada diri, orang lain dan alam), yang berakibat bukan hanya kepada pelakukanya (boleh jadinya pemilik atau pengelola lahan tidak terkena karena mereka entah dimana), akan tetapi dampaknya menimpa masyarakat luas. Kedzaliman besar tidak pernah dilakukan seorang diri, akan tetapi hasil persekongkolan beberapa pihak dengan menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, Islam menekankan agar waspada dan menjauhi segalam bentuk kedzaliman yang menimbulkan derita masyarakat luas, sebab akan diminta pertanggungan jawab kelak di hadapan Ilahi Rabbi (QS. Al-Anfal [8]: 25).
Guru kehidupan kita, KH Didin Hafidhuddin pada kajian Tafsir Jalalain surat Az-Zumar ayat 53-54, menekankan pentingnya kesadaran manusia agar menjauhi segala macam perusakan (dosa) terhadap manusia dan alam semesta, meskipun Allah SWT. Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Beliau mengutip sebuah ungkapan masyhur dari Imam Al-Gazali rh. dalam Kitab ”Ihya ’Ulumuddin” (Juz 9, hal. 9)). ”Sungguh semua manusia akan celaka kecuali orang-orang berilmu (al-’aalimuun). Orang-orang berilmu pun akan celaka kecuali orang-orang yang beramal (al-‘aamiluun). Orang-orang beramal pun akan celaka kecuali orang -orang yang tulus (al-mukhlishuun). Dan, orang-orang yang tulus pun akan menghadapi bahaya (godaan) yang besar”.
Petuah Hujjatul Islam tersebut menegaskan bahwa tidak ada yang akan lepas dari celaka (binasa) walaupun memiliki perangkat ilmu dan amal dalam meraih kemuliaan.
Pertama, al-’aalimuun (orang-orang berilmu). Kenapa mereka bisa celaka, sebab penyakit oang berilmu tinggi adalah bersikap sombong yakni menolak kebenaran dari luar dirinya dan meremahkan orang lain. Padahal, capaian ilmu pengetahuan dan teknologi bukan puncak dari kejayaan, akan tetapi sarana (wasilah) untuk meningkatkan kontribusi dan mencari solusi bagi masalah kehidupan manusia. Ilmu bisa mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi juga bisa menjauhkan diri dari Allah dan rasul-Nya, bahkan menipu dan menyengsarakan manusia.
Imam Hasan al-Bashri mengatakan, ”Barang siapa yang bertambah ilmu tapi tidak bertambah hidayah, sungguh tidak ada yang bertambah baginya kecuali tambah jauh dari Allah SWT.). Pepatah Arab mengatakan, ”al-’ilmu bilaa ’amalin ka asy-syajarin bilaa tsamarin (ilmu yang tak diamalkan bagai pohon tak berbuah). Orang berlimu sebenarnya juga akan celaka bukan karena tidak diamalkan, tetapi juga jika tidak didasari iman kepada kepada Allah SWT (QS. Al-Mujadalah[58]: 11).
Kedua, al-‘aamiluun (orang-orang yang beramal). Ilmu hanya bisa diraih dengan belajar penuh kesungguhan dan kesabaran. Karenanya, ia memiliki kedudukan tinggi dan orang berilmu akan diangkat derejatnya, baik dihadapan manusia maupun Allah SWT. Namun, baru dikatakan ilmu sejati jika didasari iman dan diwujudkan dalam tindakan, baik bersifat individual (mahdhah) maupun sosial (ghairu mahdhoh) yang disebut amal saleh. Jika amal dilakukan tanpa dasar ilmu akan salah dan tidak akan diterima di sisi Allah SWT.
Amal saleh tidak hanya dilandasi ilmu, akan tetapi juga ketulusan hati semata karena mengharap Ridha Allah SWT. (ikhlas). Berbuat baik bukan karena ingin dilihat (riya’) dan didengar (sum’ah) sehingga mendapat sanjungan dan keuntungan dari manusia (HR. Bukhari). Orang yang beramal pun akan celaka dan rugi jika dilakukan untuk pencitraan di hadapan manusia, walaupun viral dengan komentar pujian yang luas, sehingga amal baik tersebut bagai perut busung yang berisi angin (QS. Al-Kahfi [15]: 103-104.).
Ketiga, al-mukhlishuun (orang-orang yang tulus). Meskipun seorang sudah tulus dan berilmu dalam beramal, ternyata belum tentu selamat dari celaka. Sebab, ia telah sampai pada kedudukan tinggi yang mengundang perhatian orang-orang yang dengki atau rayuan dan jebakan halus setan (QS. An-Naas [114]: 5-6).
Al-Quran menyebutkan dua macam orang tulus yakni al-mukhlishiin dan al-mukhlashiin. Orang pertama adalah isim fa’il yaitu orang Ikhlas yang masih mungkin digoda setan, sebab itu ia terus berjuang membersihkan diri (QS. Az-Zumar [39):2-3).
Sementara orang kedua adalah isim maf’ul yakni orang yang dibersihkan atau dicerahkan hati dan pikirannya oleh Allah SWT. atas kesungguhannya dalam ibadah, sehingga iblis pun tak sanggup merayunya (QS. Al-Hijr [15]: 39-40). Tentu, hanya para Auliya, Nabi dan Rasul yang sampai pada kedudukan mulia ini, sementara kebanyakna orang hanya sampai pada al-mukhlisiin yang bersifat kondisional dan temporal (sesuai kekuatan iman).
Setiap muslim mestinya memegang prinsip dalam menuntut ilmu yakni belajar sepanjang hayat, dari buaian sampai ke liang lahad. Lalu, ketika meraih suatu ilmu wajib diamalkan bukan untuk disombongkan atau mengelabui, sebab itu tindakan yang dibenci Allah SWT dan Rasul-Nya. Lalu, ketika ilmu bebuah amal dan dilakukan dengan kosisten, maka akan muncul godaan setan, baik untuk meninggalkan atau merasa suci dan lebih baik dari orang lain (sombong).
Walhasil, ilmu itu penting tapi percuma saja jika tidak diamalkan. Amal saleh pun penting, sebab akan memberi dampak positif bagi kemajuan umat, namun sia-sia jika tidak didasari ilmu dan keikhlasan. Ketika seorang sampai pada maqam ikhlas, ia pun masih bisa terjerumus ke jurang keangkuhan. Oleh karena itu, hanya dengan pertolongan Allah SWT. saja, manusia bisa selamat dari godaan setan yang terkutuk. Na’udzubillahi min asy-syaithaan ar-rajiim. Allahu a’lam bish-shawab.
Hasan Basri Tanjung
Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor-Ketua Yayasan Dinamika Umat
