Indonesia Fundraising Award 2026 Dorong Filantropi Indonesia Lebih Tangguh

 Indonesia Fundraising Award 2026 Dorong Filantropi Indonesia Lebih Tangguh

Jakarta (Mediaislam.id)–Institut Fundraising Indonesia (IFI) kembali menggelar Indonesia Fundraising Award(IFA) 2026. Ajang apresiasi bagi para penggerak fundraising dan filantropi Indonesia tersebut memasuki kick off penyelenggaraan pada Selasa (15/9/2026).

Direktur IFI Sri Sugiyanti mengatakan, IFA 2026 mengusung tema “Resilient Giving”. Tema tersebut menekankan pentingnya gerakan kedermawanan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas memberi, tetapi juga mampu bertahan, beradaptasi, membangun kepercayaan, memperkuat kapasitas masyarakat, dan menciptakan dampak berkelanjutan.

Sri menjelaskan, IFI merupakan lembaga pelatihan dan konsultasi yang berfokus pada pengembangan fundraising. IFI juga mendorong peningkatan kapasitas dan kelembagaan, termasuk penguatan tata kelola lembaga agar tetap dipercaya masyarakat, profesional, dan mampu membangun sinergi.

“Jadi kita berfokus pada peningkatan kapasitas, peningkatan kelembagaan, tata kelola. Bagaimana menjaga tata kelola lembaga-lembaga di Indonesia agar tetap dapat dipercaya, profesional dan bisa saling bersinergi dan bersaing sehat,” ujar Sri kepada wartawan di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, persaingan yang sehat tetap diperlukan dalam ekosistem fundraising. Persaingan mendorong lembaga untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas pengelolaan.

“Kenapa tetap bersaing? Karena memang kita harus bertumbuh. Kalau kita tidak bersaing, nanti kita tidak bertumbuh,” katanya.

Sri mengatakan, IFI telah berkiprah selama lebih dari 13 tahun dan pada 2026 memasuki tahun ke-14. IFI didirikan sebagai lembaga yang secara khusus berfokus pada bidang fundraising.

Ia menyebut fundraising sebelumnya belum banyak dikenal sebagai bidang yang memiliki ruang pembelajaran tersendiri. IFI kemudian hadir untuk memelopori pengembangan kapasitas fundraising di Indonesia.

“Di tahun 2012 fundraising itu belum dikenal, tapi hari ini ketika ada digital marketing dibalut menjadi digital fundraising dan banyak sekali influencer yang akhirnya berkiprah menjadi fundraiser,” ujarnya.

IFI didirikan oleh Arifin Purwakananta dan almarhumah Arlina Fauziah Saliman. Saat ini, Arifin Purwakananta menjabat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan berperan sebagai pembina IFI. Sementara jajaran eksekutif IFI antara lain Sri Sugiyanti sebagai direktur, Yons Achmad sebagai Direktur Komunikasi, dan Kholid Abdillah sebagai GM IFI.

Sementara itu, IFA pada 2026 memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya. Ajang tersebut pertama kali digelar pada 2020, ketika pandemi Covid-19 memberikan tantangan besar bagi lembaga filantropi dalam menghimpun dan menyalurkan dana kebaikan.

Sri mengatakan, IFI tetap menyelenggarakan IFA di tengah pandemi. Bahkan, pada saat itu, sejumlah penghargaan tetap diberikan kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi dalam gerakan kebaikan.

“Pandemi kita tetap melakukan. Waktu itu masih kita berikan, bahkan Life Achievement waktu itu ayahanda dari Gus Ipang Wahid, Gus Sholah, dan Gus Ipang Wahid sendiri yang menerima,” katanya.

Penyelenggaraan IFA kemudian dilanjutkan secara konsisten setiap tahun. Menurut Sri, perkembangan IFA terlihat dari bertambahnya kategori penghargaan. Pada awal penyelenggaraan, IFA hanya memiliki sekitar 20 kategori. Kini, jumlah tersebut berkembang menjadi 48 kategori.

“Kenapa begitu banyak? Karena ternyata Indonesia memang sangat luar biasa dalam hal keaktifan dan kreativitas-kreativitas fundraising,” ujarnya.

Sri menilai kreativitas menjadi salah satu kebutuhan penting bagi lembaga filantropi dan fundraiser di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari karakter masyarakat Indonesia yang majemuk, tantangan regulasi, serta semakin banyaknya lembaga yang bergerak di bidang filantropi.

“Di negara kita dengan kemajemukan, tantangan regulasi, serta banyaknya lembaga-lembaga yang hadir, mau tidak mau lembaga-lembaga dan fundraiser-nya, amilnya, dituntut untuk kreatif,” kata Sri.

Ia mengatakan pertumbuhan lembaga filantropi di Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang positif. Karena itu, penguatan tata kelola, kapasitas, dan kolaborasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga filantropi.

Melalui tema Resilient Giving, IFA 2026 ingin mendorong gerakan kedermawanan agar mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi ekonomi dan dinamika geopolitik.

“Di tengah indis economy, di tengah isu gonjang-ganjing geopolitik dan sebagainya, kita mengangkat tema Resilient Giving. Mudah-mudahan kita sama-sama dalam mode bertahan, bertahan saling menguatkan dan saling berkolaborasi sehingga kita tetap bisa produktif dan bisa memberikan hasil maksimal buat seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Lebih dari sekadar penghargaan, IFA 2026 diarahkan menjadi ruang pertemuan bagi berbagai aktor dalam ekosistem filantropi. Lembaga zakat, lembaga kemanusiaan, korporasi, komunitas, media, fundraiser, relawan, hingga individu dapat berbagi pengalaman, praktik baik, inovasi, dan membangun kolaborasi.

IFI juga membuka peluang kerja sama dan sponsorship dalam penyelenggaraan IFA 2026. Lembaga filantropi, lembaga zakat, lembaga kemanusiaan, korporasi, komunitas, media, dan berbagai pihak lainnya diajak berpartisipasi dalam penguatan ekosistem fundraising Indonesia.

“Indonesia membutuhkan kebaikan yang tidak mudah berhenti: giving that lasts, giving that empowers, and giving that builds resilience,” ujar Sri.

Melalui IFA 2026, IFI berharap praktik fundraising dan filantropi di Indonesia semakin profesional, inovatif, transparan, akuntabel, dan kolaboratif sehingga mampu memberikan dampak yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − two =