KH Didin: Keluarga Harus Kokoh Hadapi Ancaman Moral
Jakarta (Mediaislam.id)–Ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui kekuatan ekonomi. Keluarga juga harus memiliki ketahanan mental dan spiritual agar mampu menghadapi berbagai ancaman moral yang berkembang di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.S. dalam diskusi Komisi 1 Konferensi Keluarga Asia Pasifik 2026 di Jakarta, Sabtu (12/9/2026). Diskusi mengangkat tema “Perempuan dan Agama, Fondasi Nilai Ketahanan Keluarga.”
KH Didin mengatakan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang unggul sekaligus berakhlak mulia. Karena itu, pembangunan ketahanan keluarga harus dimulai dari fondasi agama yang kuat.
Menurut dia, keluarga perlu berpegang pada akidah, syariat, dan akhlak mulia. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya disampaikan secara lisan, tetapi perlu ditanamkan melalui pemahaman, pembiasaan, dan keteladanan orang tua.
“Keluarga harus memiliki ketahanan mental-spiritual serta waspada terhadap ancaman moral seperti LGBTQ, judi online, dan pinjol ilegal,” ujarnya.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut dapat mengganggu keutuhan keluarga apabila tidak diantisipasi sejak dini. Karena itu, orang tua perlu menjalankan fungsi pendidikan dan pengawasan secara optimal.
KH Didin juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga yang kokoh. Menurut dia, istri yang salehah merupakan salah satu pilar penting dalam pembentukan generasi yang unggul dan berakhlak.
Namun, ketahanan keluarga tidak dapat hanya dibebankan kepada perempuan. Peran ayah juga perlu diperkuat, terutama dalam pendidikan, keteladanan, perlindungan, dan pengambilan keputusan keluarga.
Dalam diskusi tersebut, Komisi 1 menemukan sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan ketahanan keluarga. Di antaranya belum maksimalnya keterlibatan ayah, rendahnya kemandirian ekonomi generasi muda, serta dampak modernisasi yang tidak terkendali terhadap karakter dan identitas keluarga.
Persoalan judi online dan pinjaman online ilegal juga menjadi perhatian karena dapat menimbulkan persoalan ekonomi sekaligus sosial di dalam keluarga.
Karena itu, KH Didin mendorong ketahanan keluarga tidak berhenti pada penguatan internal rumah tangga. Keluarga yang kokoh, menurut dia, juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Ketahanan keluarga yang kokoh melahirkan kepekaan sosial untuk saling menolong dan berkolaborasi dalam kebajikan bagi masyarakat dan bangsa,” katanya.
Komisi 1 kemudian merekomendasikan penguatan peran ayah, peningkatan kemandirian ekonomi keluarga, pembentukan pusat konseling berbasis komunitas, serta penguatan materi ketahanan keluarga dalam majelis taklim dan khutbah Jumat.
Komisi juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, untuk memperkuat ketahanan keluarga di kawasan Asia Pasifik.*
