Kedubes Qatar di Indonesia Ajak Dunia Bersatu Lindungi Pendidikan di Zona Konflik
Jakarta (Mediaislam.id)–Kedutaan Besar Negara Qatar di Indonesia menyerukan penguatan upaya global untuk melindungi pendidikan dari serangan di tengah konflik dan krisis. Seruan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan yang diperingati setiap 9 September.
Dalam momentum tersebut, Kedutaan Besar Qatar di Indonesia turut bergabung dalam kampanye global #UniteToProtect. Kampanye ini menekankan pentingnya memastikan siswa, guru, sekolah, universitas, dan ruang belajar tetap aman serta dapat diakses, termasuk di wilayah yang terdampak perang dan konflik.
“Tahun ini, peringatan tersebut mengangkat tema Human Resilience: Can Education Survive Attack? atau ketangguhan manusia: dapatkah pendidikan bertahan dari serangan?” demikian keterangan Kedutaan Besar Qatar di Indonesia, Rabu (9/9/2026).
Tema tersebut menandai pergeseran perhatian dari sekadar mencegah serangan terhadap institusi pendidikan menuju penguatan ketangguhan sistem pendidikan agar mampu bertahan, beradaptasi, pulih, dan menjamin keberlanjutan pembelajaran selama maupun setelah konflik.
Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan kesiapsiagaan, antara lain melalui sistem peringatan dini, penyediaan infrastruktur pendidikan alternatif, solusi pembelajaran jarak jauh, serta rencana kontingensi dan keberlanjutan pembelajaran.
Kedutaan Besar Qatar menilai siswa, guru, keluarga, dan masyarakat lokal memiliki peran penting dalam menemukan solusi inovatif agar pendidikan tetap berlangsung meskipun terjadi konflik, pengungsian, maupun serangan terhadap sekolah.
Pemanfaatan teknologi, platform pembelajaran digital, dan pendidikan jarak jauh juga dinilai semakin penting ketika ruang belajar mengalami kerusakan, diduduki, atau tidak dapat diakses akibat konflik.
“Pada saat yang sama, penguatan ketangguhan pendidikan harus disertai dengan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, upaya mencari keadilan, serta pertanggungjawaban terhadap pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pendidikan,” demikian pernyataan tersebut.
Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan ditetapkan melalui resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipelopori Qatar dan Sheikha Moza bint Nasser, Ketua Education Above All Foundation. Resolusi tersebut didukung 62 negara dan menetapkan 9 September sebagai hari internasional untuk meningkatkan perhatian terhadap ancaman terhadap pendidikan di wilayah konflik.
Qatar menyatakan terus mendukung berbagai upaya internasional untuk melindungi hak atas pendidikan dan memperkuat ketangguhan sistem pendidikan melalui berbagai inisiatif dan kemitraan internasional.
Salah satunya dilakukan melalui Education Above All Foundation, lembaga yang didirikan pada 2012 atas inisiatif Sheikha Moza bint Nasser. Lembaga tersebut berfokus menyediakan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda yang kurang beruntung, termasuk mereka yang terdampak krisis dan konflik di berbagai belahan dunia.
Amir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani sebelumnya menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi kemajuan masyarakat dan upaya menghadapi berbagai kesulitan.
“Pendidikan bukan sekadar hak asasi manusia, melainkan pilar fundamental bagi kemajuan masyarakat dan mengatasi kesulitan,” ujar Sheikh Tamim dalam pidatonya saat peluncuran inisiatif Qatar dan dukungan terhadap resolusi PBB mengenai perlindungan pendidikan di Doha pada 9 September 2020.
Dalam momentum peringatan tahun ini, Kedutaan Besar Qatar di Indonesia mengajak pemerintah, organisasi internasional dan kemanusiaan, mitra pembangunan, masyarakat sipil, generasi muda, pendidik, serta komunitas lokal untuk memperkuat kerja sama melindungi pendidikan dari serangan.
Upaya tersebut mencakup dukungan terhadap siswa dan guru yang terdampak konflik, penguatan ketangguhan sistem pendidikan, menjamin keberlanjutan pembelajaran, serta memperkuat akuntabilitas atas berbagai pelanggaran terhadap pendidikan.
Kedutaan Qatar mengajak seluruh pihak menjadikan momentum 9 September sebagai pengingat bahwa pendidikan harus tetap aman dan dapat diakses, termasuk bagi anak-anak yang hidup di tengah konflik dan krisis.*
