KH Shabri Lubis Serukan Persatuan untuk Pembebasan Al-Aqsha
KH Shabri Lubis
Bogor (Mediaislam.id) – Ketua Pecinta Al-Aqsha, KH Ahmad Shabri Lubis, menyerukan agar umat Islam tidak menjadikan Hari Masjid Sedunia sekadar seremoni tahunan. Lima puluh tujuh tahun setelah pembakaran Masjid Al-Aqsha pada 21 Agustus 1969, ia menegaskan bahwa perjuangan membebaskan Al-Quds harus dibangun di atas ilmu, kerja kelembagaan, dan istiqamah, bukan hanya ledakan emosi sesaat.
Seruan itu disampaikan pada Jumat (21/8/2026), bertepatan dengan Hari Masjid Sedunia yang diperingati setiap 21 Agustus untuk mengenang tragedi pembakaran Masjid Al-Aqsha oleh kelompok ekstremis Zionis.
“Hari ini kita berdiri tepat lima puluh tujuh tahun setelah sebuah hari yang tidak boleh kita lupakan,” tegas Kiai Shabri.
Ia mengajak umat Islam mengingat kembali detik-detik kelam ketika asap hitam membumbung dari kompleks Masjid Al-Aqsha. Warga Al-Quds saat itu berlarian membentuk rantai manusia, mengangkut air dengan tangan mereka sendiri demi menyelamatkan masjid suci tersebut.
Namun ketika api berhasil dipadamkan, dunia Islam kehilangan salah satu warisan teragungnya: Mimbar Nuruddin Zanki.
Mimbar itu bukan sekadar tempat khutbah. Ia dipesan Sultan Nuruddin Zanki pada 1168 Masehi, dikerjakan lima pengrajin dengan teknik luar biasa tanpa paku maupun lem, menggunakan kayu pinus, ebony, mutiara, dan gading.
Yang paling menggetarkan, kata Kiai Shabri, mimbar tersebut dibuat 19 tahun sebelum Al-Quds dibebaskan. “Nuruddin Zanki membuat mimbar untuk masjid yang belum bisa ia masuki. Ia menyiapkan perabot kemenangan yang belum terjadi, dan beliau sendiri wafat sebelum melihatnya,” ujarnya.
Barulah setelah Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds pada 1187, mimbar itu dipasang dan menjadi tempat dikumandangkannya khutbah pembebasan Yerusalem.
Mimbar tersebut bertahan melewati Perang Salib, Dinasti Mamluk, Kesultanan Utsmaniyah hingga dua Perang Dunia, namun habis dilalap api hanya dalam satu hari.
Dari tragedi itu, Kiai Shabri menegaskan bahwa pelajaran terbesar bukan sekadar mengenang kebakaran, melainkan meneladani cara para pendahulu membangun kemenangan.
Menurutnya, Nuruddin Zanki mengajarkan bahwa seorang pejuang tidak selalu menikmati hasil perjuangannya sendiri. “Kerjakan bagianmu, meski buahnya baru dipetik cucumu.”
Ia kemudian mengkritik kecenderungan umat yang mudah tersulut emosi, tetapi cepat melupakan Al-Aqsha ketika pemberitaan mereda.
Kiai Shabri mengungkapkan bahwa kajian akademik terhadap 154 dokumen arsip mencatat reaksi dunia Islam pasca pembakaran sebagai “kemarahan yang bersifat sementara.”
“Demonstrasi meletus di banyak negeri, tetapi beberapa pekan kemudian semuanya mereda,” katanya.
Sebaliknya, satu bulan setelah tragedi itu, 25 negara Muslim berkumpul di Rabat, Maroko, termasuk Indonesia. Dari pertemuan itulah lahir cikal bakal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang hingga kini menjadi forum resmi terbesar dunia Islam.
“Kemarahan di jalan habis dalam beberapa pekan. Tetapi kemarahan yang diubah menjadi kerja kelembagaan masih hidup lima puluh tujuh tahun kemudian,” tegasnya.
Ketua Umum Persaudaraan Islam (Persada) 212 itu menilai persoalan terbesar umat hari ini bukan kurangnya simpati, melainkan minimnya penguasaan fakta tentang Al-Aqsha.
Ia mengingatkan bahwa Al-Aqsha bukan hanya bangunan berkubah emas yang sering muncul di media, melainkan seluruh kompleks suci yang memiliki sejarah, hukum internasional, dan status yang terdokumentasi secara resmi.
Empat pekan setelah pembakaran 1969, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan keputusan yang menyatakan Al-Aqsha terbakar di bawah pendudukan militer dan menolak perubahan status Yerusalem. Kemudian pada Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) kembali menegaskan bahwa pendudukan Israel atas Yerusalem Timur tidak sah dan harus diakhiri.
“Seorang Muslim yang menguasai fakta, mampu menyebut tanggal dan dokumennya, jauh lebih berguna bagi Al-Aqsha daripada seribu ucapan penuh emosi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena emosi mudah diabaikan, tetapi kebenaran yang terdokumentasi tidak bisa dibantah,” ujarnya.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan tidak akan terjadi hingga manusia mengubah keadaan dirinya sendiri.
Menutup pesannya, Kiai Shabri mengajak umat Islam mengubah kepedulian menjadi amal nyata. Ia menyerukan agar kaum Muslim mempelajari sejarah Al-Aqsha secara benar, mendoakan Palestina secara sungguh-sungguh, mengirimkan bantuan terbaik sebagaimana anjuran hadis tentang menghadiahkan minyak untuk menerangi Masjid Al-Aqsha, serta terus menyuarakan kebenaran mengenai kezaliman di Baitul Maqdis melalui berbagai ruang publik.
“Masjid Al-Aqsha selama berabad-abad tidak dijaga oleh kemarahan. Ia dijaga oleh orang-orang yang tekun, yang tahu apa yang mereka jaga, dan yang tidak berhenti ketika beritanya sudah tidak ramai lagi,” jelasnya.
“Semoga Allah menjadikan kita hamba yang konsisten, bukan yang bersemangat sesaat lalu padam. Semoga Allah memberi kita ilmu yang benar, karena tanpa ilmu, kepedulian kita mudah disalahgunakan. Dan semoga Allah memelihara keadilan dalam hati kita, sehingga kita melawan kezaliman tanpa menjadi zalim,” pungkas Kiai Shabri. []
