Sejarah yang Bekerja: Maulid Tidak Boleh Berhenti Menjadi Nostalgia

 Sejarah yang Bekerja: Maulid Tidak Boleh Berhenti Menjadi Nostalgia

Oleh:

Dr. Salahuddin El Ayyubi, Lc., M.A.

 

SETIAP kali hilal Rabi’ul Awal tiba, denyut kehidupan umat selalu berubah. Masjid-masjid dipenuhi lantunan shalawat, majelis ilmu kembali membuka lembaran Sirah Nabawiyah, dan seluruh kaum muslimin di penjuru nusantara merayakan kelahiran manusia yang paling dicintai Allah, Nabi Muhammad SAW. Ada yang membacakan Barzanji, ada yang mengaji Syamail Muhammadiyah, ada pula yang menghidupkan malam-malam Maulid dengan ceramah dan doa. Barangkali ini lah yang disebut dengan hubungan cinta umat dengan Nabi mereka sebagai bagian dari kesempurnaan iman. “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia” (HR. al-Bukhari dan Muslim), demikin Rasulullah SAW bersabda.

Namun, ada pertanyaan mengapa Allah mengabadikan kehidupan Rasulullah SAW begitu rinci? Bukankah sudah cukup agama ini datang dalam bentuk dogmatik? Bukankah Al-Qur’an telah menjadi petunjuk yang sempurna? Mengapa kehidupan seorang manusia mulai dari cara beliau berdagang, mendidik keluarga, bermusyawarah, memimpin perang, membangun pasar, menyelesaikan konflik, hingga memperlakukan tetangga, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agama?

Jawabannya terletak pada cara pandang kita terhadap teks sejarah. Selama ini kita terbiasa membaca Sirah sebatas sebagai kisah (qashash), padahal Allah menghendaki kita membacanya sebagai metode (manhaj).

 

Dari Kisah Menuju ‘Ibrah Peradaban

Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, beliau hanya mengatakan, “Kana khuluquhu al-Qur’an” “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

Jawaban ini sering direduksi sebagai pujian terhadap kelembutan akhlak Rasulullah SAW. Padahal maknanya jauh lebih luas yaitu Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an yang hidup. Melalui diri Rasulullah SAW nilai-nilai Al-Qur’an bertransformasi menjadi keluarga yang harmonis, pasar yang jujur, masyarakat yang saling menolong, dan kepemimpinan yang amanah dan melayani.

Tragedi pembacaan kita hari ini adalah kecenderungan menjebak Sirah dalam perangkap kronologis. Kita fasih menghafal urutan tahun: Tahun Gajah, turunnya wahyu di Gua Hira, fase Makkah, peristiwa Hijrah, Perang Badar, Hudaibiyah, hingga Fathu Makkah. Namun, kita kerap alpa mengajukan pertanyaan metodologis di balik setiap peristiwa: Mengapa Rasulullah SAW memilih rute tindakan tersebut? Mengapa beliau menahan diri dari kekerasan fisik selama belasan tahun di Makkah? Mengapa beliau mendahulukan penataan modal sosial (ukhuwah) sebelum membangun kekuatan politik di Madinah? Dan mengapa beliau mendirikan pasar sebelum memperluas wilayah?

Al-Qur’an menegaskan bahwa pada kisah kenabian terdapat ‘ibrah bagi orang-orang yang berakal (QS. Yusuf: 111). Dalam tradisi keilmuan Islam, ‘ibrah melampaui makna cerita biasa; ia adalah kapasitas intelektual untuk “menyeberang” (al-‘ubūr) dari fakta sejarah menuju prinsip universal, dan dari peristiwa menuju metodologi berpikir.

Peristiwa Hijrah misalnya, bukan sekadar pelarian fisik dari Makkah ke Madinah tetapi rekayasa transformasi sosial terencana yang melibatkan visi, manajemen risiko, pemetaan jaringan kepercayaan, hingga momentum eksekusi yang presisi. Begitu pula saat beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sebenarnya itu adalah rekayasa modal sosial (social capital) sebagai sebuah prasyarat pembangunan yang baru dirumuskan ilmuwan modern puluhan abad kemudian. Demikian pula dengan Pasar Madinah, itu bukan sekedar tempat transaksi ekonomi tetapi itu adalah reformasi ekonomi.

 

Epistemologi Kenabian: Melahirkan Cara Berpikir dan Hukum

Para ulama klasik tidak pernah berhenti pada pembacaan Sirah yang romantis nostalgia, tetapi secara cermat membaca pola keputusan Nabi SAW yang akhirnya melahirkan tradisi intelektual Islam yang megah.

Imam Asy-Syafi’i misalnya, merumuskan Ushul Fiqh bukan untuk menumpuk dalil-dalil, melainkan menyusun metodologi agar umat mampu memahami bagaimana wahyu diterapkan saat realitas zaman terus berubah. Imam Asy-Syathibi mengkristalisasikan konsep Maqāṣid al-Syarī’ah (menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta) benang merah dari seluruh kebijakan Rasulullah SAW untuk menghadirkan kemaslahatan. Berbagai kaidah fikih fundamental seperti Dar’u al-mafāsid muqaddam ‘alā jalb al-maṣāliḥ (mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengejar kemaslahatan) tidak lahir dari ruang hampa atau imajinasi para ulama tetapi mengekstraksinya dari al-Qur’an dan sunnah yang hidup dalam sirah nabawiyah.

Oleh itu, mengurung sirah hanya sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah SAW adalah sebuah kerugian intelektual. Generasi sahabat menjadikan sirah sebagai panduan kerja, para tabi’in menjadikan sirah sebagai sumber ijtihad, para ulama menerjemahkannya menjadi metodologi dalam berbagai disiplin ilmu agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Maka pertanyaan kita hari ini adalah sistem berpikir apa yang berhasil kita lahirkan dari pembacaan Sirah hari ini?

Dunia saat ini terjebak pada dua kondisi yang saling bertolak belakang. Negara-negara berlomba mempercanggih birokrasi, memperbesar rasio investasi, dan mempercepat adopsi teknologi. Namun di saat yang sama, korupsi tetap merajalela di balik sistem pengawasan yang paling ketat, ketimpangan semakin lebar di tengah tingginya pertumbuhan ekonomi, dan krisis keluarga justru muncul ketika kemakmuran materi dirasa semakin besar.

Mengapa demikian? Mungkin kita khilaf karena memulainya dari sistem dan lupa memulainya dari manusia. Beliau membangun manusia yang amanah sebelum mendirikan pemerintahan, beliau mendidik pedagang yang jujur sebelum membangun pasar, beliau membangun masyarakat yang saling percaya sebelum membangun negara yang kuat.

Berbagai ikhtiar strategis bangsa ini mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatan kualitas generasi, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai penggerak ekonomi perdesaan, pembenahan sistem hukum dan peradilan, reformasi pendidikan, hingga akselerasi ekonomi syariah sebagai alternatif tatanan yang lebih berkeadilan patut didukung dan diapresiasi. Tetapi Rasulullah SAW mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, megahnya kelembagaan, canggihnya teknologi, atau sempurnanya regulasi, melainkan oleh kualitas manusia yang menjalankannya.

MBG membutuhkan pengelola yang amanah agar setiap rupiah benar-benar berubah menjadi gizi bagi anak-anak bangsa; koperasi hanya akan hidup apabila dibangun di atas kejujuran dan saling percaya; pengadilan hanya akan menghadirkan keadilan apabila dijalankan oleh hakim yang berintegritas; pendidikan hanya akan melahirkan peradaban apabila membentuk manusia yang berkarakter; demikian pula ekonomi syariah tidak akan cukup hanya dengan memperbanyak bank, akad, atau industri halal apabila nilai-nilai amanah dan keadilan tidak hidup pada para pelakunya.

 

Maulid: Dari Nostalgia Menuju Peradaban

Kita tidak usah berdebat lagi soal bagaimana cara terbaik merayakan maulid. Silahkan memperingatinya dengan pembacaan sirah, membaca barzanji, shalawat, pengajian, atau bahkan ada yang memilih tidak merayakannya sama sekali. Tetapi yang harus jawab adalah sejauh mana metodologi kenabian (manhaj nabawī) kembali bekerja dan mendikte keputusan-keputusan strategis kita hari ini.

Bangsa Indonesia tidak kekurangan regulasi, tidak miskin sumber daya alam, dan tidak kekurangan lembaga. Masalah terbesar pembangunan kita hari ini adalah krisis integritas manusia. kita masih terus bergulat dengan persoalan yang sama yaitu korupsi, ketimpangan, rendahnya kepercayaan publik, melemahnya etika, serta berbagai penyimpangan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah aturan.

Rasulullah SAW memahami hal itu sejak awal. Sehingga beliau tidak memulai dakwah dengan mendirikan negara, tidak memulai perubahan dengan menyusun birokrasi, tidak memulai pembangunan dengan membangun pasar, tetapi beliau memulainya dengan membangun manusia. Tiga belas tahun di Makkah, beliau menanamkan tauhid, amanah, kesabaran, keberanian, dan tanggung jawab. Barulah setelah fondasi manusia itu kokoh, lahirlah masyarakat Madinah yang mampu menopang institusi-institusi besar.

Sistem dan kelembagaan hanyalah alat menuju tujuan akhir yaitu lahirnya masyarakat yang lebih adil, masyarakat yang lebih jujur, masyarakat yang lebih amanah, masyarakat yang lebih peduli kepada kaum lemah.

Itulah mengapa para ulama tidak pernah memisahkan ilmu dari kehidupan. Ushul fiqh tidak lahir agar umat sekadar pandai berdebat, maqashid al-syari’ah tidak dirumuskan agar memenuhi rak-rak perpustakaan, tetapi seluruh khazanah intelektual Islam lahir menjaga agar metodologi Rasulullah SAW tetap dapat menjawab persoalan zaman yang terus berubah.

Zaman boleh berganti, teknologi boleh berubah, bentuk negara boleh berkembang, tetapi nilai-nilai yang membangun peradaban tidak pernah akan berubah. Kejujuran tetap menjadi fondasi ekonomi, amanah tetap menjadi fondasi kepemimpinan, ilmu tetap menjadi fondasi kemajuan, keadilan tetap menjadi fondasi negara, dan kasih sayang tetap menjadi fondasi keluarga.

Maulid bukanlah peringatan tentang masa lalu, sebaliknya maulid adalah undangan tahunan untuk mengevaluasi masa depan. Rasulullah SAW tidak ingin mewariskan umat yang pandai menceritakan kisah saja, tetapi beliau berharap lahir generasi yang mampu melanjutkan pekerjaan yang telah dimulainya. Setiap Rabi’ul Awal, kita seakan diajak Allah untuk bertanya kepada diri sendiri, “apakah Sirah hanya tinggal di buku-buku, ataukah ia telah hidup kembali dalam keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari?”

Wallahu a’lam bis shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 17 =