Kongres Umat Islam Bahas Isu AI hingga LGBTQ
Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan saat diwawancara wartawan usai pembukaan KUII VIII di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Jakarta (Mediaislam.id)–Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menyatakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII akan membahas berbagai isu strategis nasional, mulai dari tata kelola program pemerintah, penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) LGBTQ, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hal itu disampaikan Buya Amirsyah kepada wartawan usai pembukaan KUII VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurut Buya Amirsyah, kongres akan memberikan perhatian pada tata kelola berbagai program pemerintah agar terhindar dari penyalahgunaan anggaran negara. Di antaranya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.
“Turunannya antara lain soal korupsi, soal tata kelola MBG, tata kelola Koperasi Merah Putih. Nanti yang secara mendalam akan dibahas dalam kongres ini,” kata Buya Amirsyah.
Ia mengatakan, hasil pembahasan kongres akan dirumuskan menjadi rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan dalam memperbaiki tata kelola program-program tersebut.
“Intinya, ide dan gagasan ini kita tidak mau bermasalah, baik tata kelola maupun penyalahgunaan dari uang rakyat. Jadi uang rakyat itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, baik soal MBG maupun Koperasi Merah Putih,” ujarnya.
Selain itu, MUI juga menaruh perhatian pada isu LGBT melalui penyusunan RUU LGBTQ. Amirsyah menyebut naskah akademik beserta draf RUU telah selesai disusun oleh tim.
“RUU LGBTQ, baik naskah akademiknya maupun RUU-nya sudah selesai dibahas. Dalam kongres ini kita akan minta semacam pengesahan di publik, setelah itu nanti akan disampaikan kepada pemerintah, MPR, dan DPR. Kita minta untuk dibahas karena ini merupakan bagian dari ancaman nonmiliter sesuai Perpres 111,” katanya.
Di bidang teknologi, Buya Amirsyah mengingatkan agar perkembangan AI tidak dijadikan satu-satunya rujukan dalam kehidupan masyarakat. Menurut dia, AI harus tetap berada di bawah kendali manusia sehingga memberikan manfaat tanpa menimbulkan dampak negatif.
“Soal AI, kita jangan menjadikannya semata-mata rujukan. Umat dan bangsa ini harus mengendalikan AI sebagai bagian dari teknologi. Secara positif bisa dimanfaatkan, tetapi aspek-aspek negatifnya harus dihindari dan *dicegah,” ujarnya.*
