Resmi Ditugaskan Maju Caketum PBNU, Ini Profil Pengasuh Ponpes Tebuireng Gus Kikin
Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Surabaya (Mediaislam.id) — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur secara resmi menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Jombang akhir Agustus mendatang.
Keputusan strategis tersebut lahir melalui serangkaian rapat pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jatim. Keputusan ini juga mendapat dukungan bulat dari 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur.
Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Abdul Matin, menegaskan bahwa pencalonan Gus Kikin merupakan amanat organisasi, bukan inisiatif pribadi.
“Alhamdulillah seluruh PCNU se-Jawa Timur sepakat berada dalam satu barisan untuk mengusung Kiai Abdul Hakim Mahfudz sebagai calon ketua umum PBNU,” ujar Abdul Matin di Surabaya seperti dikutip dari Beritasatu.com, Selasa (21/7/2026).
Penugasan ini didasari oleh latar belakang kepemimpinan, integritas, serta rekam jejak Gus Kikin yang dinilai lengkap. Penilaian mencakup nasab keulamaan, pengalaman manajerial organisasi, kepemimpinan pesantren, hingga kemandirian ekonomi.
Nasab Kuat dan Trah Pendiri NU
Dikutip dari NU Online, Gus Kikin yang lahir pada Ahad, 17 Agustus 1958, merupakan putra dari pasangan Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Dari jalur ibu, nasabnya bersambung langsung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang diperistri oleh ahli falak terkemuka asal Gresik, KH Ma’shum Ali.
Sementara dari jalur ayah, nasabnya bersambung ke KH Anwar Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Dari garis keturunan ini, Gus Kikin juga terhitung sebagai adik sepupu dari Rais PWNU Jatim, KH Anwar Manshur (Pengasuh PP Hidayatul Mubtadiin Lirboyo).
Pernikahannya dengan Nyai Hj Lelly Lailyah dikaruniai dua orang anak, yaitu Ning Dewi Adzroti dan Gus Yusuf Adnan.
Latar Belakang Pendidikan dan Kepemimpinan Pesantren
Masa muda Gus Kikin diwarnai perpaduan pendidikan formal dan spiritual pesantren. Setelah menempuh pendidikan di MI, SMPN 1, dan SMAN 2 Jombang, ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta serta meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka.
Selain pendidikan formal, ia menimba ilmu agama dengan nyantri di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang (didirikan ayahnya) dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang (didirikan kakeknya).
Pada tahun 2020, Gus Kikin dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8, meneruskan perjuangan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Penunjukan ini sejatinya telah dipersiapkan oleh Gus Sholah sejak 2016 melalui musyawarah keluarga besar keturunan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng terus berkembang pesat hingga memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia.
Pengalaman Organisasi, BUMN, dan Dunia Usaha
Di lingkungan jam’iyah Nahdlatul Ulama, kiprah Gus Kikin sangat matang. Ia pernah menjabat Wakil Ketua PWNU Jatim (2008–2022), Penjabat (Pj) Ketua PWNU Jatim, hingga menjabat Ketua PWNU Jatim masa khidmat 2024–2029.
Di tingkat pusat, ia dipercaya sebagai Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022.
Keunggulan lain dari Gus Kikin adalah profesionalismenya di dunia usaha dan BUMN. Ia pernah berkarier di BUMN pelayaran PT Djakarta Lloyd (1980–1992) dengan menduduki posisi Kepala Cabang Cilegon hingga Pimpinan Harian Cabang Medan.
Pada 1997, ia mendirikan BBS Group yang bergerak di berbagai sektor usaha, serta pernah mengemban amanat sebagai Ketua Bidang Energi Kadin Jatim (2000–2013).
Membawa NU Kembali ke Qanun Asasi
PWNU Jatim menilai komitmen dan kemandirian ekonomi yang dimiliki Gus Kikin menjadi modal vital untuk memimpin PBNU. Ia diyakini mampu menjaga independensi organisasi dari intervensi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Selain itu, Gus Kikin mengusung visi untuk mengembalikan arah jam’iyah agar tetap berpedoman teguh pada Qanun Asasi yang dirumuskan Mbah Hasyim Asy’ari. Ia juga bertekad memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah nahdliyah, serta membangun tata kelola PBNU yang lebih teduh dan modern. []
Sumber: Suara Jatim Post, Beritasatu.com, NU Online.
