Final Piala Dunia dan Cara Kita Mengukur Pembangunan

 Final Piala Dunia dan Cara Kita Mengukur Pembangunan

Oleh:

Dr. Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA || Dosen dan Penelitian CIBEST IPB University

SENIN dinihari besok, jutaan pasang mata akan tertuju pada satu laga krusial yaitu final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina. Di atas lapangan hijau, benturan taktik selama 90 menit akan menentukan satu hal yakni siapa yang paling berhak mengangkat trofi kemenangan. Namun di luar stadion, tanpa kita sadari pertandingan ini sedang mempertontonkan sesuatu yang jauh lebih besar dan fundamental ketimbang sekadar urusan sepak bola.

Beberapa hari terakhir, jagat maya media sosial riuh oleh polarisasi perdebatan yang menarik. Banyak orang tidak lagi menentukan keberpihakan mereka kualitas mengolah bola, sejarah prestasi, atau fanatisme figur megabintang. Nama-nama besar seperti Messi atau Lamine Yamal bukan lagi alasan utama, tetapi justru yang ramai dibicarakan adalah isu geopolitik yang sensitif yaitu Palestina dan Israel.

Sebagian menyatakan dukungan penuh kepada Spanyol karena mengapresiasi keberanian politik pemerintahnya yang vokal menyuarakan pengakuan terhadap hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina. Sebaliknya, Argentina dikaitkan dengan sikap politik pemerintahnya yang lebih dekat merapat kepada Israel. Tentu saja, simplikasi semacam ini tidak selalu mampu menggambarkan kompleksitas hubungan internasional yang sebenarnya terjadi. Jauh melampaui urusan benar atau salahnya persepsi tersebut, ada satu fenomena yang jauh lebih menarik untuk dibedah yaitu mengapa manusia modern hari ini lebih menjatuhkan pilihan pada sebuah tim sepak bola berdasarkan sistem nilai moral yang mereka yakini?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya ia sedang menunjukkan perubahan besar dalam cara manusia modern mengambil keputusan. Dahulu, orang mendukung sebuah tim karena gaya bermainnya. Ada yang jatuh cinta pada tiki-taka Spanyol, ada yang mengagumi determinasi Jerman, ada yang mengidolakan Argentina karena Maradona atau Messi.

Hari ini ruang tersebut telah pengaruhi oleh pertimbangan rasa keadilan, empati, dan solidaritas. Lapangan hijau mendadak bermutasi menjadi ruang publik tempat manusia mengekspresikan nilai-nilai yang mereka yakini. Fenomena ini sejatinya sedang memberikan sinyal kuat tentang bagaimana cara kita hari ini menguji ulang cara manusia menentukan ukuran keberhasilan.

 

Reduksionisme Kuantitatif dan Jebakan Berhala PDB

Kita ternyata tidak pernah hidup tanpa ukuran. Trofi menjadi ukuran kemenangan, nilai rapor menjadi ukuran kecerdasan, jumlah pengikut di media sosial menjadi ukuran popularitas, gaji menjadi ukuran kesuksesan, termasuk cara kita mengukur keberhasilan pembangunan. Selama lebih dari setengah abad, dunia mengukur keberhasilan pembangunan sebuah negara dengan alat ukur yang bernama Produk Domestik Bruto (PDB). Logikanya mudah dicerna yaitu jika kurva ekonomi tumbuh, negara dianggap berhasil. Jika grafik investasi meningkat, pembangunan dinilai sukses. Jika produksi naik, semua orang merasa optimistis.

Metrik linier ini ini memang telah berjasa membantu banyak negara merancang kebijakan ekonomi makro mereka. Namun, kehidupan ternyata lebih rumit daripada deretan angka-angka statistik, dan akhirnya semakin banyak pertanyaan yang mulai menggugat. Mengapa ada negara yang PDB-nya terus meningkat tetapi jurang ketimpangan justru kian menganga lebar? Mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi sering kali berjalan berdampingan dengan kerusakan ekologis yang masif? Mengapa masyarakat bisa semakin makmur secara materi, tetapi justru semakin kehilangan modal sosial dan rasa saling percaya?

Rentetan pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan gelombang diskursus alternatif seperti Beyond GDP, Human Development Index (HDI), Genuine Progress Indicator, dan berbagai ukuran pembangunan lainnya. Menariknya, hampir semua perdebatan itu sebenarnya sedang mengajukan satu pertanyaan filosofis yang sama yaitu Apa sesungguhnya indikator yang paling layak dijadikan ukuran keberhasilan sebuah pembangunan?

 

Epistemologi Mizan: Menundukkan Instrumen di Bawah Tujuan

Di tengah kebuntuan metrik sekuler itulah, khazanah intelektual Islam menawarkan satu kompas epistemik sekaligus konsep teologis yang presisi yaitu mizan. Allah SWT berfirman: “Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan mizan, agar kamu jangan melampaui batas tentang mizan.” (QS. Ar-Rahman: 7–9).

Selama ini kita sering mempersempit makna mizan sebatas alat timbangan fisik, padahal cakupan maknanya jauh melompat ke wilayah filosofis. Mizan bukan sekadar instrumen untuk menghitung kuantitas objektif, tetapi ia adalah prinsip keadilan transendental yang bertugas mengawal manusia agar tidak keliru dalam menentukan apa yang semestinya layak diukur.

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi sesungguhnya dapat berakibat fatal pada arah peradaban. PDB adalah ukuran, namun Mizan datang menguji apakah ukuran itu sudah berkeadilan? Peringkat sekolah adalah ukuran, namun Mizan menggugat apakah angka-angka itu benar-benar mencerminkan matangnya proses pendidikan? Laba perusahaan adalah ukuran, namun Mizan bertanya apakah keuntungan itu diperoleh tanpa menindas marwah manusia dan menghancurkan ekosistem alam? Pertumbuhan ekonomi adalah ukuran, namun Mizan menuntut jawaban apakah pertumbuhan itu menghadirkan keadilan atau justru mengawetkan kemiskinan struktural? Mizan menegaskan satu postulat hukum bahwa setiap indikator dan ukuran wajib tunduk mutlak di bawah substansi tujuan (maqashid) dan bukan sebaliknya.

Otokritik ini pula yang semestinya disuntikkan ke dalam jantung ekosistem ekonomi syariah hari ini. Selama ini keberhasilan ekonomi syariah sering diukur dari besarnya aset perbankan syariah, perluasan pangsa pasar keuangan, akumulasi jumlah lembaga finansial, hingga total nilai transaksi industri halal global.

Semua indikator itu tentu saja penting sebagai sarana, namun jika seluruh kemegahan angka-angka tersebut tersebut tidak bermuara pada berkurangnya ketimpangan sosial, lumpuhnya praktik kezaliman, menguatnya keadilan, bertumbuhnya sektor usaha produktif masyarakat bawah, serta tegaknya amanah dalam kehidupan ekonomi, maka kita patut bertanya apakah kita sedang bersungguh-sungguh membangun sistem ekonomi yang benar-benar syariah, atau jangan-jangan kita sekadar sedang mendirikan sebuah industri kapitalistik baru yang diberi stempel dan label syariah?

Mizan mengingatkan dengan keras bahwa kemenangan tidak pernah berdiri sendiri tanpa memikul dan membawa pertanyaan lain: untuk apa kemenangan itu dicapai, dan dengan cara apa ia dimenangkan?

 

Peradaban Runtuh Ketika Kehilangan Kompas Mizan

Barangkali, di sinilah letak akar persoalan dari seluruh kebijakan pembangunan kita selama ini. Bukan karena kita defisit indikator ekonomi, justru kita memiliki terlalu banyak indikator administratif. Tetapi yang sering hilang dari benak para pembuat kebijakan adalah keberanian untuk bertanya: Apa sebenarnya hakekat tujuan dibalik seluruh tumpukan angka-angka tersebut?

Ketika pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan akhir, manusia akan menjadi makhluk permisif terhadap pengrusakan lingkungan. Ketika akumulasi laba disembah sebagai tujuan, modal kepercayaan bisa hilang. Ketika elektabilitas dijadikan berhala politik, kebijakan publik akan dengan mudah bermutasi menjadi panggung pencitraan. Ketika peringkat internasional diagungkan, pendidikan kehilangan ruh kemanusiaannya. Kita lupa bahwa seluruh angka-angka itu hanyalah instrumen (wasilah), dan instrumen tidak boleh mengkudeta posisi tujuan (maqashid).

Karena itu, pelajaran terbesar dari laga final Piala Dunia Senin dinihari besok sama sekali bukan tentang siapa negara yang sukses membawa pulang trofi emas ke negaranya, tetapi yang jauh lebih menarik adalah apa yang sedang terjadi di dalam diri para penontonnya. Mereka tidak sedang memilih tim yang paling kuat, tetapi memilih nilai apa yang menurut mereka layak diperjuangkan. Jika dalam sepak bola manusia ternyata tidak hanya mengejar kemenangan, mengapa dalam pembangunan kita justru sering terjebak mengejar angka semata?

Mungkin sudah saatnya kita membalik arah pertanyaan pembangunan kita. Bukan lagi “Berapa persen ekonomi kita berhasil tumbuh?”, tetapi, “apakah pertumbuhan ekonomi itu telah membentuk watak manusia yang seperti apa?” Bukan lagi, “Berapa belas triliun investasi asing yang berhasil masuk?” melainkan, “Apakah investasi itu memperkuat ketahanan institusi keluarga, merawa kohesi masyarakat, dan menjaga kelestarian bumi yang akan kita wariskan kepada anak cucu nanti?”

Wallahu a’lam bis Shawwab.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 2 =