ADI Kota Bogor dan Ponpes Riyadhul Huda Gelar Seminar Bahaya Narkoba dan LGBT
Bogor (Mediaislam.id) — Di Pesantren Riyadhul Huda, Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor menggelar seminar bertema “Pubertas dan Penjagaan Diri dalam Islam” pada Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang diikuti para santri dengan antusias tersebut menghadirkan dokter Ferdinand Rabain sebagai pemateri utama.
Dalam pemaparannya, Ferdinand menjelaskan bahwa masa pubertas merupakan fase penting yang harus dipahami oleh setiap remaja muslim karena menjadi titik awal seseorang memasuki masa baligh dan terbebani kewajiban syariat.
“Setelah baligh, seluruh hukum Islam berlaku bagi seorang muslim. Ia menjadi mukallaf yang wajib menjalankan shalat, puasa, menjaga aurat, dan berbagai kewajiban agama lainnya,” ujarnya.
Pada awal penyampaian materi, Ferdinand menyoroti pentingnya pemahaman yang benar mengenai pubertas serta bahaya penyimpangan seksual di kalangan remaja. Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong munculnya perilaku menyimpang adalah ketidaktahuan terhadap fungsi tubuh dan organ reproduksi.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuat akses terhadap konten pornografi semakin mudah dibandingkan masa lalu. Jika pada dekade 1980-an akses pornografi masih terbatas melalui media fisik seperti DVD, saat ini berbagai konten tersebut dapat diakses dengan mudah melalui HP.
“Banyak masalah bermula dari ketidaktahuan. Karena itu ilmu menjadi benteng utama agar seseorang mampu menjaga dirinya,” katanya.
Ferdinand juga menjelaskan bahwa Allah telah menerangkan proses perkembangan manusia melalui berbagai ayat Al-Qur’an, salah satunya Surat Ar-Rum ayat 54 yang menjelaskan siklus kehidupan sebagai tahapan kehidupan manusia dari keadaan lemah, kemudian kuat, lalu kembali lemah pada masa tua.
Ia mengingatkan bahwa Nabi Adam alaihissalam sebagai manusia yang pertama kali melakukan dosa ketika memakan buah yang dilarang Allah. Namun setelah bertaubat, Allah menerima taubatnya dan mempertemukan kembali Nabi Adam dengan Siti Hawa. Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya kembali kepada petunjuk Allah ketika melakukan kesalahan.
Dalam sesi pembahasan biologis, peserta mendapatkan penjelasan mengenai hormon yang berperan dalam masa pubertas. Ferdinand menerangkan bahwa hormon testosteron pada laki-laki dan progesteron pada perempuan memiliki fungsi penting dalam pembentukan tubuh serta pematangan organ reproduksi.
“Hormon-hormon ini merupakan bagian dari mekanisme yang Allah ciptakan untuk mempersiapkan manusia memasuki masa dewasa dan melanjutkan keturunan,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa testis berfungsi memproduksi sperma dan hormon testosteron, sedangkan ovarium menghasilkan hormon reproduksi yang berperan dalam siklus menstruasi dan kematangan reproduksi perempuan.
Pada kesempatan tersebut, Ferdinand juga memaparkan tanda-tanda baligh menurut syariat Islam. Pada laki-laki, baligh ditandai dengan mimpi basah atau keluarnya mani. Adapun pada perempuan, baligh ditandai dengan datangnya menstruasi.
Selain itu, ia menjelaskan berbagai perubahan fisik yang terjadi selama pubertas. Pada laki-laki berusia sekitar 9 hingga 15 tahun terjadi pembesaran testis dan penis, munculnya mimpi basah, tumbuh jakun, perubahan suara, pertumbuhan rambut di wajah dan tubuh, peningkatan massa otot, munculnya jerawat, bau badan, serta perubahan emosional akibat pengaruh hormon.
Sementara pada perempuan usia 8 hingga 13 tahun terjadi pertumbuhan payudara, pelebaran pinggul, perubahan organ reproduksi, munculnya menstruasi, keputihan normal, jerawat, serta perubahan fisik dan emosional lainnya.
Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai perubahan tersebut akan membantu remaja menjalani masa transisi menuju kedewasaan secara sehat dan positif. “Kita harus memahami fungsi organ seksual agar tidak salah dalam menyikapi perubahan yang terjadi pada diri kita,” ujarnya.
Dalam pembahasan mengenai kesehatan reproduksi, Ferdinand menerangkan fungsi berbagai organ reproduksi laki-laki, seperti testis yang memproduksi sperma dan testosteron, skrotum yang menjaga suhu testis, serta penis yang berfungsi sebagai saluran keluarnya urine dan cairan reproduksi.
Ia juga menjelaskan proses ereksi dan ejakulasi sebagai bagian dari mekanisme biologis yang terjadi pada laki-laki ketika memasuki masa pubertas.
Selain membahas aspek biologis, seminar tersebut juga menekankan pentingnya menjaga diri dari pergaulan yang dapat mengarah kepada penyimpangan seksual. Ferdinand mengingatkan para santri agar menjaga pandangan, menjaga pergaulan, serta menghindari segala hal yang dapat membangkitkan syahwat di luar batas yang dibenarkan syariat.
Ia mencontohkan pentingnya menjaga adab tidur, menjaga batas pergaulan sesama jenis, serta menghindari kebiasaan yang dapat memicu rangsangan seksual.
“Jika kita menjaga alat kelamin, maka Allah akan menjaga jiwa kita. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan seseorang, semakin rusak pula jiwanya,” tegasnya.
Ferdinand juga mengingatkan pentingnya jihad melawan hawa nafsu. Menurutnya, pengendalian diri merupakan salah satu bentuk perjuangan besar yang harus dilakukan setiap muslim dalam menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah.
Dalam kajiannya, ia mengajak para santri untuk terus menuntut ilmu dan mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa dengan pemahaman agama yang benar.
“Kalau ingin maju, maka harus berilmu. Ilmu akan menjadi pelindung bagi diri kita dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujarnya.
Seminar berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara peserta dan pemateri. Para santri tampak antusias mengikuti pembahasan mengenai pubertas, kesehatan reproduksi, serta pentingnya menjaga diri sesuai tuntunan Islam.
Dalam sesi berikutnya, Ferdinand membahas kisah kaum Nabi Luth alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an, di antaranya pada Surat Al-A’raf ayat 80–81 serta Surat Al-Ankabut ayat 29–30. Ia menjelaskan bahwa perbuatan homoseksual pertama kali dinisbatkan kepada kaum Nabi Luth dan menjadi salah satu penyimpangan yang dilarang dalam ajaran Islam.
Menurut pemateri, memahami persoalan tersebut perlu dilakukan secara hati-hati dan tidak boleh disertai sikap mudah menuduh seseorang hanya berdasarkan dugaan. Ia mengingatkan para santri agar tidak langsung menyimpulkan seseorang sebagai pelaku LGBT hanya karena memiliki teman dekat atau hubungan pertemanan yang erat.
Dalam paparannya, Ferdinand menyebut sejumlah perilaku yang perlu mendapat perhatian dan pembinaan, seperti hubungan pertemanan yang terlalu eksklusif, kecemburuan berlebihan terhadap teman, kebiasaan berduaan di tempat sepi, serta pelanggaran batasan fisik seperti kontak fisik yang intens, saling berpelukan, atau berbagi tempat tidur tanpa kebutuhan yang jelas.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga adab pergaulan, menjaga privasi, serta menghindari situasi yang dapat menimbulkan fitnah. Menurutnya, pengawasan dan pembinaan dari orang tua maupun lembaga pendidikan perlu dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana dan penuh tanggung jawab.
“Jika menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jangan langsung membuat kesimpulan sepihak. Berikan bimbingan, libatkan orang tua, dan lakukan pembinaan terlebih dahulu,” ujarnya.
Ferdinand menambahkan bahwa Islam membuka pintu taubat bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri. Ia mengingatkan bahwa kerahasiaan dan kehormatan seseorang harus tetap dijaga agar tidak merusak masa depannya.
Pembahasan ditutup dengan mengajak para santri untuk memperkuat keimanan, menjaga pergaulan, serta memanfaatkan lingkungan pesantren sebagai sarana pembentukan karakter dan akhlak yang baik. (zak)
