AMAN Indonesia Perkuat Peran Perempuan dalam Membangun Desa Damai Berkelanjutan
Jakarta (Mediaislam.id)–Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Dwi Rubiyanti Kholifah, menegaskan bahwa desa merupakan lokus utama dalam membangun perdamaian, ketahanan sosial, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam perhelatan Desa Damai Berkelanjutan (DDB) Award 2026 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Dwi, penghargaan DDB Award diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada 10 desa yang selama dua tahun terakhir menjalankan berbagai indikator Desa Damai Berkelanjutan. Program tersebut bertujuan memperkuat kapasitas desa dalam mengelola konflik, menjaga kohesi sosial, serta meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya perempuan.
“Desa adalah lokus segalanya. Krisis ada di desa, bencana ada di desa, tetapi gotong royong dan kohesi sosial juga tumbuh di desa,” ujar Dwi.
Ia menjelaskan, gagasan Desa Damai Berkelanjutan berakar dari pengalaman panjang AMAN Indonesia sejak 2007 melalui program Sekolah Perempuan Perdamaian. Program itu dirancang untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan keterampilan resolusi konflik di tingkat masyarakat.

Dwi menilai kemampuan menyelesaikan konflik selama ini kerap dianggap hanya dimiliki kelompok elite. Padahal, masyarakat desa juga dapat mengembangkan kemampuan tersebut untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial, termasuk konflik berbasis perbedaan agama, reintegrasi mantan narapidana terorisme, hingga persoalan sosial lainnya.
Dalam perkembangannya, Sekolah Perempuan Perdamaian tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga berkembang menjadi organisasi yang bertujuan memperkuat kepemimpinan perempuan di desa.
“Perempuan adalah aktor perdamaian dan keamanan. Ketika perempuan bergerak, perubahan di desa juga bergerak,” katanya.
Program Desa Damai Berkelanjutan mengintegrasikan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) dan agenda Women, Peace and Security (WPS). Melalui pendekatan tersebut, AMAN Indonesia mengembangkan 10 indikator utama, antara lain perlindungan perempuan dan anak, sistem penanganan konflik dan kekerasan, penguatan ekonomi berbasis koperasi, pendidikan kritis perempuan, forum aspirasi perempuan, paguyuban lintas kelompok, pelestarian budaya lokal, forum anak dan orang muda, sistem informasi desa, serta ketangguhan bencana dan adaptasi perubahan iklim.
Dwi menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dijaga. Karena itu, program DDB juga mendorong pembentukan ruang dialog lintas kelompok serta pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari upaya mencegah berkembangnya paham ekstremisme.
“Indonesia tanpa keberagaman bukan Indonesia. Keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan desa damai merupakan proses jangka panjang yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, AMAN Indonesia mendorong desa-desa mitra untuk terus memperkuat sistem deteksi dini terhadap berbagai bentuk kekerasan dan konflik sosial.
“Kalau kita tidak menormalkan kekerasan, insya Allah perdamaian akan terwujud. Tetapi jika kekerasan dianggap biasa, itu menjadi benih-benih konflik yang lebih besar,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dwi juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta UN Women yang selama ini menjadi mitra AMAN Indonesia dalam mengembangkan agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan.
Ia mengungkapkan bahwa pada 26 Juni mendatang dirinya akan menyampaikan pengalaman Indonesia di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya terkait peran organisasi perempuan dalam pencegahan ekstremisme dan pembangunan perdamaian di tingkat akar rumput.
“Saya akan membawa pembelajaran dari AMAN dan jaringan masyarakat sipil Indonesia untuk menunjukkan bahwa organisasi masyarakat sipil memiliki kontribusi penting dalam upaya pencegahan ekstremisme dan tidak bisa dikesampingkan dalam strategi penanggulangan terorisme,” ujarnya*.
