Imam Syafi’i: Kisah Pengembaraan Ilmu dan Jejak Intelektualnya
Ilustrasi [AI]
IMAM ABU Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Qurasyi adalah salah satu pemikir besar dunia sekaligus satu dari empat imam mazhab di kalangan ahli fikih muslim. Beliau lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah dan tumbuh besar sebagai anak yatim dalam asuhan ibunya.
Saat menginjak usia dua tahun, beliau dibawa pindah ke Makkah untuk dibesarkan dan mulai menuntut ilmu di sana. Beliau telah berhasil menghafal Al-Qur’an sejak berumur tujuh tahun serta mendalami ilmu bahasa dan syair.
Setelah itu, beliau memfokuskan perhatiannya untuk mempelajari ilmu fikih dan hadis secara mendalam. Beliau pun berhasil menyerap porsi terbesar dari berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga kedudukannya mengungguli para ulama pada zamannya.
Beliau mengambil pemahaman fikih berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dari para ulama wilayah Hijaz. Beliau bahkan menghafal kitab Al-Muwatta karya Imam Malik sebelum melakukan perjalanan langsung ke Madinah untuk mendengarkan hadis serta menyerap fikih darinya.
Kemudian beliau melanjutkan riwayat pengembaraan ilmiahnya ke Irak untuk mengambil metodologi pemikiran serta sudut pandang fikih dari kalangan Ahlu Ar-Ra’yi. Sebagai sosok yang cerdas dan memiliki argumen yang kuat, penduduk Makkah menjuluki beliau dengan gelar Nashirul Hadits (Pembela Sunnah).
Julukan tersebut disematkan karena beliau mampu meyakinkan kalangan Ahlu Ar-Ra’yi mengenai kewajiban mutlak untuk mengikuti tuntunan sunnah Rasulullah. Selain itu, beliau juga merincikan kepada masyarakat luas mengenai metode-metode yang benar dalam memahami kandungan Al-Qur’anul Karim.
Setelah duduk langsung di majelis ilmu beliau, Imam Ahmad bin Hanbal menjadi salah satu ulama yang sangat mengagumi kapasitas ilmiahnya. Kekaguman tersebut diungkapkan oleh Imam Ahmad lewat pernyataannya bahwa beliau belum pernah melihat orang yang lebih paham tentang isi kitab Allah daripada pemuda ini.
Imam Ahmad juga menegaskan bahwa andaikata tidak ada Imam asy-Syafi’i, niscaya umat tidak akan pernah mengerti cara memahami fikih hadis dengan benar. Beliau juga menambahkan sebuah ungkapan bahwa tidak ada seorang pun pemilik tinta dan kertas melainkan berutang budi besar atas keluasan ilmu Imam asy-Syafii.
Di sisi lain, Imam asy-Syafi’i juga mengakui keahlian serta otoritas keilmuan yang dimiliki oleh Imam Ahmad bin Hanbal beserta para sahabatnya dalam bidang sains hadis. Pengakuan ini dibuktikan melalui perkataan beliau kepada Imam Ahmad bahwa jemaah mereka jauh lebih mengetahui kredibilitas kesahihan sebuah riwayat khabar.
Oleh karena itu, Imam asy-Syafi’i meminta agar segera diberi tahu jika ada informasi mengenai keberadaan sebuah hadis sahih agar beliau bisa langsung merujuk kepadanya.
Imam asy-Syafi’i tercatat telah mendampingi Imam Malik selama sembilan tahun untuk menyerap seluruh khazanah fikih penduduk Madinah secara maksimal. Di samping itu, beliau juga aktif melakukan perjalanan berkala ke berbagai penjuru negeri Arab untuk mengobservasi kondisi sosial masyarakat.
Melalui perjalanan tersebut, beliau mengambil banyak pelajaran berharga selayaknya seorang pengembara yang peka terhadap kondisi riil serta urusan komunitas sosial. Dari waktu ke waktu, beliau juga rutin kembali ke Makkah untuk mengunjungi sang ibu sekaligus meminta nasihat-nasihat bijak darinya.
Ketika Imam Malik wafat pada tahun 179 Hijriah, Imam asy-Syafi’i memutuskan untuk kembali menetap di Makkah dalam beberapa waktu. Tidak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan dinas untuk mengemban suatu tugas di wilayah Najran sebelum akhirnya bertolak menuju Irak.
Pada tahun 199 Hijriah, pengembaraan ilmiah beliau akhirnya berlabuh di Mesir yang posisinya sangat strategis di tengah dunia Islam. Wilayah Mesir saat itu menjadi titik temu keilmuan antara kawasan Timur, Barat, hingga wilayah Andalusia karena menjadi basis tempat tinggal para murid Imam Malik.
Imam asy-Syafi’i memilih untuk menetap di Fusthat dan mulai aktif menyampaikan kuliah-kuliah ilmiahnya di masjid jami setempat. Berkat kemampuannya yang sangat memukau dalam menyusun argumen retorika, para ulama sezaman menjuluki beliau dengan sebutan Khatibul Ulama (Oratornya Para Ulama).
Imam kita, asy-Syafi’i, berhasil meninggalkan warisan mazhab fikih yang sangat besar dan dihormati oleh seluruh lapisan umat Islam di dunia. Beliau juga meninggalkan banyak karya tulis monumental yang bernilai tinggi, seperti kitab Al-Umm sebanyak tujuh jilid yang memuat intisari pemikiran fikihnya.
Karya agung lainnya yang beliau wariskan meliputi kitab Al-Musnad dalam bidang hadis, Ahkamul Qur’an, serta kitab Ar-Risalah di bidang usul fikih. Imam asy-Syafii wafat di tanah Mesir pada tahun 204 Hijriah dalam usia yang relatif muda, yaitu 54 tahun.
Ketika salah seorang ulama ditanya mengenai rahasia kesuksesan Imam asy-Syafii dalam menyusun kitab sebanyak itu di usia pendek, ia memberikan sebuah jawaban ilmiah. Ulama tersebut menjelaskan bahwa Allah sengaja memadukan ketajaman akal yang luar biasa pada dirinya sebagai kompensasi atas usianya yang singkat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa meridai Imam asy-Syafi’i atas seluruh dedikasi yang telah beliau berikan sepanjang hidupnya. Semoga umat manusia dapat terus mengambil manfaat dari keluasan ilmu, keluhuran akhlak, ketulusan niat, serta kokohnya prinsip beragama yang beliau contohkan.[]
Sumber: Asy-Syafii, karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad Abu Zahrah — (Dengan Adaptasi)
