Perempuan dalam Kehidupan Rasulullah Saw

 Perempuan dalam Kehidupan Rasulullah Saw

Ilustrasi: Muslimah.

“BERWASIAT baiklah kalian terhadap perempuan.” Ini adalah wasiat yang digunakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wassalam untuk menutup risalahnya pada khotbah terakhir yang beliau sampaikan sebelum berpulang ke hadirat Tuhannya.

Khotbah tersebut disampaikan dalam Haji Wada (Haji Perpisahan), yang dinamakan demikian karena menjadi haji terakhir yang beliau laksanakan bersama kaum muslim. Dalam khotbah ini, Nabi yang Mulia menjelaskan “garis-garis besar” dari risalahnya, di mana salah satu isi utamanya adalah wasiat untuk memperlakukan perempuan dengan baik.

Sebagaimana hal itu menjadi penutup risalahnya, demikian pula halnya dengan permulaan risalah tersebut. Pembebasan kaum perempuan dan pengangkatan derajat mereka merupakan salah satu fondasi utama dari tegaknya risalah Islam.

Islam telah mengharamkan tradisi jahiliah yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan secara resmi menetapkan hak-hak bagi mereka yang belum pernah ada sebelumnya. Oleh karena itu, sudah sangat alami jika perempuan memiliki pengaruh yang jelas dalam kehidupan Rasulullah, baik secara privat maupun publik, dan begitu pula sebaliknya.

Beliau Shalallahu alaihi wassalam tumbuh besar sebagai seorang anak yatim karena ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan ke dunia. Kondisi tersebut membuat kasih sayang dan asuhan tulus dari sang ibu menjadi hal terbesar yang menenteramkan jiwa beliau.

Dari dekapan asuhan sang ibu, beliau kemudian beralih ke dalam pengasuhan para ibu susuan yang mencurahkan seluruh kasih sayang dan cinta kepadanya. Sosok pertama yang mengasuh beliau setelah wafatnya sang ibu kandung, Aminah, adalah Ummu Aiman.

Di antara para pengasuh tersebut terdapat pula Halimah as-Sa’diyah, yang merawat beliau selama empat tahun hingga ia dipandang bagaikan ibu kedua. Rasulullah yang Mulia Shalallahu alaihi wassalam selalu memuliakan Halimah setiap kali ia datang berkunjung dan beliau akan menggelar rida (kain penutup pundak) miliknya agar sang ibu susuan dapat duduk di sampingnya.

Sebagaimana perempuan memiliki pengaruh khusus pada masa kanak-kanak beliau, mereka pun memiliki pengaruh yang sama besar pada masa mudanya. Tidak diragukan lagi bahwa pernikahan beliau dengan Khadijah binti Khuwailid merupakan peristiwa paling penting dalam garis hidupnya kala itu.

Melalui pernikahan ini, beliau mendapatkan ketenteraman dari seorang istri sekaligus pendamping setia yang selalu mendahulukannya di atas kepentingan dirinya sendiri. Khadijah juga mempersiapkan segala sarana ketenangan bagi beliau melalui curahan cinta, keikhlasan, kearifan, serta dukungan hartanya.

Ketika Allah memilih beliau untuk menyampaikan risalah-Nya, Khadijah ra menjadi orang pertama yang برiman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia juga menjadi orang pertama yang membenarkan seluruh wahyu yang beliau bawa, serta senantiasa berdiri di samping beliau untuk memberikan semangat dan memperkuat perjuangannya.

Pada hari hijrah yang agung, kaum Quraisy terus memburu Nabi beserta sahabatnya, as-Siddiq (Abu Bakar). Mereka bahkan memerintahkan para penunggang kuda dan pemuda terbaiknya untuk menangkap keduanya atau menghalangi mereka keluar dari Makkah.

Dalam waktu-waktu yang penuh tekanan dan sulit tersebut, muncul seorang gadis pemberani yang rela mempertaruhkan nyawanya demi mempermudah hijrah mereka. Gadis ini secara sembunyi-sembunyi mengantarkan makanan kepada keduanya saat berada di dalam Gua Tsur dan menyampaikan kabar terkait pergerakan kaum Quraisy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 − one =