Di Masjidil Haram

 Di Masjidil Haram

Masjidil Haram di Kota Mekkah.

WAKTU telah memasuki dhuha ketika saya menyelesaikan manasik umrah dan berniat untuk iktikaf di Haram yang mulia

Kabah berada tepat di hadapan saya, sementara di sekelilingnya tampak orang-orang yang sedang tawaf, rukuk, dan sujud, serta rupa-rupa halaqah ilmu, membaca Al-Qur’an, dan lantunan doa.

Wajah-wajah yang khusyuk lagi bertobat itu tampak sangat mengharapkan rahmat Allah.

Mereka semua menjadi saksi nyata atas persaudaraan kemanusiaan, ketika perbedaan bangsa, warna kulit, serta status sosial dan ekonomi telah lebur seketika. Keimanan kepada Allah-lah yang menyatukan mereka semua.

Pada diri mereka, engkau dapat melihat kebenaran firman Allah: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbya: 92).

Lihatlah pakaian ihram ini dalam segala kesederhanaannya. Tidakkah engkau melihat adanya kemiripan antara pakaian tersebut dan kain kiswah Kabah dalam kesahajaan bentuk aslinya?

Pakaian itu merupakan dekapan yang bersahaja dan penuh kelapangan pada Baitullah yang tua, seolah-olah batu-batu Kabah adalah tubuhnya dan kain kiswah itu merupakan selendangnya.

Kedua matamu akan memandang berkeliling, membaca ayat-ayat mulia yang tertulis pada kain kiswah, lalu pandanganmu akan tertuju dan menetap pada Hajar Aswad.

Batu itu tampak bagai mata Kabah yang menyembul dari balik kain penutupnya: perak yang melingkar di sekelilingnya ibarat bagian putih mata, sedangkan batu tersebut adalah bagian hitamnya.

Seolah-olah mata ini tengah merekam foto-foto orang mukmin, sebagaimana yang termaktub di dalam firman Allah: “Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 13-16).

Mata pun menengadah dari Kabah menuju ke arah langit, memohon melalui tatapannya yang khusyuk. Sementara itu, burung-burung merpati yang jinak terbang di sekelilingnya, tampak laksana ucapan penghormatan yang penuh kebaikan.

Sesungguhnya Masjidilharam adalah tempat yang—sepanjang lintasan abad—siang dan malam, musim panas maupun musim dingin, selalu menjadi tempat membubungnya doa-doa, tempat bertemunya hati yang mendamba Tuhannya, serta tempat turunnya curahan rahmat Allah. Sungguh mulia apa yang diturunkan dari langit tersebut.

Saya beriktikaf di dalam Masjidilharam selama beberapa jam, dan seketika terlintas di depan mata saya lembaran ingatan tentang orang-orang yang saya kenal, lalu saya memohonkan ampunan serta petunjuk kepada Allah untuk mereka semua.