Hari Raya dalam Islam

 Hari Raya dalam Islam

Jamaah shalat Idulfitri di Jl Matraman, Jaktim. [foto: Republika]

ISLAM memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hari raya. Pertama, karena hari raya telah ada di dalam masyarakat kuno; kedua, karena hari raya merupakan suatu keniscayaan bagi setiap umat agar memiliki waktu untuk bergembira dan beristirahat dari keletihan bekerja.

Hari raya setiap umat pun selalu berkaitan dengan agama mereka atau peristiwa-peristiwa penting yang memberikan dampak besar dalam kehidupan mereka.

Namun, Islam tidak membiarkan umat Islam merayakan hari-hari yang biasa mereka rayakan sebelum datangnya Islam. Islam justru menetapkan dua hari raya yang berkaitan dengan dua ibadah paling utama dalam Islam, yaitu “Idulfitri” dan “Iduladha”.

Idulfitri dirayakan setelah umat Islam menyelesaikan ibadah saum (puasa) dan bergembira dengan berbuka. Sementara itu, Iduladha dirayakan setelah para jemaah haji menunaikan rukun paling utama, yaitu wukuf di Arafah, di tempat yang paling suci dan tanah yang paling sakral.

Pada malam kedua hari raya tersebut, umat Islam mengumandangkan takbir, berdoa kepada Tuhan mereka, memohon ampunan, dan bersedekah kepada orang-orang fakir.

Kumandang takbir pada Idulfitri dimulai sejak terlihatnya hilal (bulan sabit) hingga orang-orang beranjak ke tempat salat dan sampai imam naik ke atas mimbar. Hal ini berdasarkan firman Allah Taala: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-Nya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Termasuk bagian dari sunah adalah menampakkan kegembiraan, saling mendoakan kebaikan, dan saling mengasihi pada hari-hari raya.

Dahulu, ketika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saling bertemu pada hari raya, sebagian dari mereka akan mengucapkan kepada sebagian yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka” (Semoga Allah menerima amalan dari kami dan darimu).

Allah menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk mengekspresikan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah atas nikmat penunaian kewajiban saum. Sebagaimana Allah mengaitkan saum dengan Idulfitri, Allah juga mengaitkan haji dengan Iduladha.

Di dalam saum terdapat rasa lapar, penahanan diri, dan pencegahan jiwa dari hal-hal yang biasa dikonsumsi berupa makanan dan minuman. Maka dari itu, ketika jiwa telah patuh pada perintah Allah dan menunaikan kewajiban saum secara sempurna, ia akan bergembira pada hari raya karena telah menunaikan rukun Islam yang agung.

Kegembiraan tersebut merupakan bentuk kemenangan melawan hawa nafsu, sekaligus wujud ketaatan kepada Allah dengan menunaikan apa yang telah Dia syariatkan.

Di antara bentuk kegembiraan pada Idulfitri adalah menghadirkan rasa suka cita kepada orang-orang fakir dan miskin dengan memberikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat Id.

Sementara itu, pada Iduladha terdapat momentum untuk berserikat bersama para jemaah haji dalam merayakan kebahagiaan atas nikmat Allah. Allah Subhanahu wa Taala telah memanggil mereka untuk melaksanakan haji di Baitullahil-Haram, lalu mereka pun bergegas memenuhi seruan yang mulia ini.

Mereka pergi dengan meninggalkan keluarga serta tanah air, sekaligus mengorbankan tenaga dan harta di jalan tersebut. Oleh karena itu, hari-hari raya Islam merupakan hari kegembiraan yang menyeluruh sehingga sudah sepatutnya kebahagiaan ini merata kepada seluruh anggota masyarakat Muslim, baik kaya maupun fakir, tua maupun muda.

Dengan demikian, hari raya dalam pandangan Islam menjelma menjadi momen-momen bagi seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, peluang untuk menebar kebaikan, serta sarana yang membantu memperkuat hubungan antarmanusia.

Pada momen inilah potret kerja sama dan solidaritas sosial tampak dalam bentuknya yang paling sempurna, di mana masyarakat saling bertukar ucapan selamat dan melakukan kunjungan.

Selain itu, mereka juga mengenakan perhiasan dan pakaian baru mereka yang indah, serta menyantap makanan-makanan baik yang telah dianugerahkan oleh Tuhan mereka. Melalui jalan tersebut, manusia dapat terhubung dengan Tuhannya melalui jalur ibadah, sekaligus terhubung dengan sesamanya melalui jalur cinta dan persaudaraan.[]

Ahmad Muhammad Jamal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 7 =