Delapan Negara Arab dan Islam Kecam Keras Kebrutalan Israel terhadap Aktivis Flotilla
Ilustrasi: Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir mengejek aktivis Sumud Flotilla yang mereka culik. [X]
Kairo (Mediaislam.id) – Menteri luar negeri dari delapan negara Arab dan Islam pada Minggu (24/5) mengecam keras perlakuan biadab Pejabat Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, terhadap para aktivis kemanusiaan yang ditahan dari armada bantuan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
Perlakuan keji Israel terhadap para aktivis kemanusiaan tersebut dinilai sebagai tindakan yang “mengerikan, merendahkan martabat, dan tidak dapat diterima.”
Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri dari Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turkiye, Arab Saudi, dan Qatar menyatakan bahwa penghinaan publik yang sengaja dilakukan Ben-Gvir terhadap para tahanan merupakan serangan memalukan terhadap martabat manusia dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Mereka juga mengecam keras hasutan serta kekerasan yang “ilegal dan ekstremis” oleh Ben-Gvir serta pejabat Israel lainnya terhadap warga Palestina di wilayah Palestina yang diduduki.
Menurut mereka, tindakan provokatif itu memicu kebencian dan ekstremisme serta menghambat segala upaya mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan solusi dua negara.
Para diplomat tersebut menuntut pertanggungjawaban penuh atas tindakan hukum Ben-Gvir dan menyerukan langkah konkret dunia internasional untuk menghentikan provokasi, hasutan, serta pelanggaran berulang yang dilakukannya.
Ratusan anggota armada bantuan tujuan Gaza tersebut dibawa secara paksa ke Pelabuhan Ashdod, Israel, pada Rabu (20/5), setelah Ben-Gvir merilis video yang memperlihatkan sebagian dari mereka diborgol dan dipaksa menunduk diiringi lagu kebangsaan Israel.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla mengatakan bahwa kapal-kapal angkatan laut Israel mencegat seluruh kapal dalam konvoi kemanusiaan tersebut di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza.
Israel pada Kamis (21/5) akhirnya mengatakan bahwa seluruh aktivis dari armada bantuan itu telah dideportasi setelah perlakuan buruk Ben-Gvir terhadap mereka memicu kemarahan besar dari dunia internasional.[]
Sumber: Xinhua
