Kelaparan Memburuk Akibat Blokade Israel, Warga Gaza Gelar Aksi Protes
Warga Palestina di Gaza menggelar aksi demonstrasi. [Anadolu]
Istanbul (Mediaislam.id) – Puluhan pengungsi warga Palestina di Gaza menggelar aksi protes massal pada Minggu untuk menuntut dibukanya kembali perbatasan dan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa pembatasan di tengah krisis kelaparan yang semakin memburuk akibat blokade keji Israel.
Para demonstran membawa bendera Palestina dan poster yang mengecam keras memburuknya kondisi hidup serta kelangkaan pangan yang akut di Jalur Gaza.
Mereka juga menuntut akses tanpa hambatan apa pun terhadap pasokan makanan dan obat-obatan bagi warga sipil.
Koordinator dan juru bicara komite suku dan masyarakat di Kamp Pengungsi Al-Bureij, Ali Al-Shashniya, mengatakan bahwa warga Gaza menghadapi kondisi kemanusiaan yang semakin sulit akibat blokade berkepanjangan dan kelangkaan pangan.
Menurut beliau, ribuan keluarga dan pengungsi kini sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Ia memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan dapat semakin memburuk apabila pembatasan zalim terhadap pengiriman bantuan terus berlanjut.
Pengungsi asal Gaza utara, Hassan Rayyan, mengatakan bahwa ribuan keluarga telah kehilangan rumah dan sumber penghasilan selama perang antara Israel dan Hamas.
“Kami ingin hidup dengan bermartabat. Kami kehilangan rumah dan kondisi kemanusiaan kami menjadi sangat sulit,” katanya kepada Anadolu.
Sejumlah demonstran tampak membawa panci kosong sebagai simbol nyata dari memburuknya krisis pangan yang dihadapi oleh keluarga Palestina di Gaza.
Aksi protes tersebut berlangsung di tengah masih adanya pembatasan ketat akses bantuan dan keterlambatan pelaksanaan poin-poin penting gencatan senjata, termasuk pembukaan kembali perlintasan Gaza.
Menurut Program Pangan Dunia (World Food Programme atau WFP), sekitar 1,6 juta warga Gaza atau 77 persen populasi kini menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang sangat parah.
Jumlah yang memprihatinkan tersebut mencakup lebih dari 100.000 anak-anak serta 37.000 perempuan hamil dan menyusui.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa lebih dari 880 orang gugur dan lebih dari 2.645 lainnya terluka dalam serangan brutal Israel sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Perjanjian tersebut sejatinya dimaksudkan untuk menghentikan perang brutal Israel di Gaza yang selama dua tahun telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil sejak Oktober 2023.[Anadolu]
