Menggali Hikmah di Balik Talbiyah
Ilustrasi: Jemaah haji menaiki Bukit Jabal Rahmah saat Wukuf di Arafah.
Kalimah Talbiyah lazimnya dilafadzkan oleh para jamaah yang ber-haji atau ber-umrah saat memasang niat di Miqat.
Labbaiykallahumma labbaiyk, labbaiyka la syariika laka labbaiyk, innal hamda wanni’mata laka wal mulk. La Syariika Lak.
Hakikat Talbiyah
Talbiyah adalah lambang Tauhid, Syi’ar Agama dan tanda bukti taqwa kepada Allah. “Demikianlah, dan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah) Allah maka yang demikian itu timbul dari hati yang taqwa.” (QS.22 : 32)
Rasulullah Saw menyebut Talbiyah dengan sebutan Kalimah Tauhid. Dituturkan oleh Sahabat Jabir bin Abdullah ketika menjelaskan tentang Sifat Haji dan Umrah Rasulullah: “Lalu Beliau mengucapkan kalimah Tauhid (yakni Talbiyah)” (HR.Bukhari No.1218).
Kalimah Tauhid dalam lafadz Talbiyah adalah La Syariika Lak yang artinya tiada sekutu bagi-Mu.
Bahwa tiada sesuatupun yang bersanding dengan-Mu di hati kami dalam ibadah dan doa, dalam nusuk dan menyembelih, dan dalam seluruh hidup kami hingga datang kematian, karena semuanya berada dalam genggaman dan pengaruh Kuasa-Mu, ya Allah.
Kalimah Tauhid adalah kalimah pembebasan. “Tiada tuhan selain Allah.” Bahwa manusia harus bebas dan merdeka dari segala belenggu dan ikatan yang mempengaruhi hidupnya.
Kalimah Talbiyah ini hendaknya dihayati dengan sepenuh hati, dirasakan dan diresapi sedalam- dalamnya saat diucapkan.
Bahwa ia sesungguhnya sedang berupaya membebaskan diri dari segala bentuk ikatan dan belenggu yang berpengaruh dalam jiwa, rasa dan pikirannya, saat Talbiyah dilantungkan.
Jiwanya hanya tertuju kepada Yang Maha Esa, Allah Jalla Jalaaluh, mengharapkan ridha-Nya. Dari lubuk hati yang dalam tertumpu harapan hanya kepada Allah agar seluruh ibadahnya diterima disisi-Nya.
Pikirannya lepas dan bebas dari segala pengaruh duniawi, dari pengaruh harta dan anak, tahta dan wibawa, jabatan, dan keilmuan. Yang berpengaruh dalam dirinya saat itu hanyalah Allah.
Terbayang dalam pikirannya, betapa hina dan lemahnya hamba ini di hadapan Allah, tubuh yang lemah ini hanya berbalut dua potong kain ihram, mudah dilucuti dan ditanggalkan, tak ada sesuatu yang harus dibanggakan dalam hidup ini.
Apakah ada kekuasaan miliknya yang perlu dibanggakan? maka Fir’aun adalah manusia paling berkuasa di bumi yang menobatkan dirinya sebagai Tuhan, saat itu lenyap ditelan badai laut dan kekuasaannya tak dapat menolongnya sedikitpun.
Apakah ada kekayaan harta miliknya yang perlu dibanggakan, maka Qarun dan harta kekayaannya tidak mampu menyelamatkan dirinya ketika datang azab Allah dengan dibenamkan dalam perut bumi.
Apakah ada ilmu miliknya yang perlu dibanggakan, maka disana masih ada orang yang lebih berilmu membuat Nabi Musa As terhina dihadapan Nabi Khidhir. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an (S. Al- Kahfi [18 ]: 65-82). “Dan Allah Mahaluas ilmu-Nya: “Dan diatas orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu”. (QS. 12 : 76)
Maka kalimah Talbiyah mengikis sifat angkuh, sombong dan takabur yang dapat mengundang malapetaka dalam hidup ini, seperti yang terjadi pada diri Iblis la’natullah ‘alaih. Sifat takabbur membuat seseorang mudah meremehkan orang lain, dan enggan mendengar dan menerima kebenaran yang datang orang lain.
Lalu muncul di benak ini sebuah pertanyaan yang mengusik. Mengapa kaum wanita diperintahkan untuk berbusana bebas dan rapi dalam ihram, berbeda dengan pria?
Allah SWT seperti memberi isyarat, agar kaum wanita harus diberi perlindungan dan ditempatkan pada posisi yang terhormat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Karena dari rahim perempuan-lah lahir para pemimpin dan tokoh, para syuhada dan pahlawan, para pendidik dan pemikir. Mereka tidak mungkin lahir dari rahim wanita jalanan yang bejat moral dan rendah akhlaknya.
Seorang ibu adalah madrasatul uula, sekolah pertama sebelum ada PAUD, TK, dan SD, karena itu kaum wanita calon ibu rumah tangga patut memperoleh penghormatan dan perlindungan dalam ajaran Islam.
Kapan Talbiyah Diucapkan
Kalimah Talbiyah ini diucapkan bersamaan dengan betikan suara hati dan jalinan niat. “Naawai-tul ‘Umrata Lillahi Ta’ala.” Aku berniat umrah karena Allah.
Dan pada detik yang sama, bibirpun bergerak mengucapkan: “Allahumma Umratan la riya’an fiiha wa la sum’atan” Ya Allah aku berniat Umrah karena Engkau, tidak karena riya’ dan sum’ah, tidak untuk dilihat dan didengar oleh orang. (HR.Ibnu Majah No. 2890)
Begitulah saat Rasulullah Saw memasang niat, hati terdorong ikhlas, bersamaan dengan itu bibirpun bergerak mengucapkan Talbiyah. Labbaiyka Umratan, Labbaiyka Allahumma labbaiyk, Labbaiyka la syariika laka labbaiyk, innal hamda wanni’mata laka wal mulk, la syariika lak.
Menurut para Ulama, Talbiyah hendaknya diucapkan dengan suara nyaring bagi laki-laki dan dengan suara rendah bagi perempuan, suaranya cukup didengar sendiri di telinga atau oleh orang yang berada disampingnya.
Rasulullah saw bersabda: “Datang kepadaku Malaikat Jibril as seraya berkata: Wahai Muhammad, suruhlah Sahabat-Sahabatmu mengeraskan (meninggikan) suara mereka dalam bertalbiyah. (HR.An-Nasa’i No.2753, Tirmidzi , Abu Daud , Ibnu Majah).
Dan Talbiyah baru berhenti dilantungkan setelah thawaf dimulai, ditandai dengan ucapan takbir, Bismillahi Allahu Akbar.
Makna Talbiyah
Bagi orang Arab, menjawab panggilan seseorang dengan lafadz *Labbaiyk* menunjukan keseriusan, kesungguhan, penuh keramah tamahan, dan kesiapan untuk segera memenuhi panggilannya.
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani pensyarah Shahih Bukhari, menjelaskan bahwa akar kata Talbiyah mempunyai banyak arti.
1. Labbaika artinya, dengan segera kami penuhi panggilan-Mu, kami sambut seruan-Mu dan kami laksanakan perintah-Mu.
2. Labbaiyka artinya, kami siap merapat dan menuju kesana dan hanya tertuju kepada-Mu.
3. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu demgan senang hati dan penuh rasa cinta. Tidak didasari oleh rasa takut atau mengharapkan sesuatu dari-Mu.
4. Labbaiyka artinya, kami siap dengan sepenuh hati untuk tunduk patuh, taat dan merapat menjalankan perintah-Mu.
5. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu dengan hati yg bersih dan ikhlas, tanpa ada perasaan ragu-ragu dan berat hati.
6. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu sebagai jawaban atas seruan N.Ibrahim as. (Fathul Baari 3/478)
Hal ini berarti bahwa seorang yang melantungkan kalimah Talbiyah, pada hakikatnya dia sedang memperlihatkan keseriusan, kesungguhan, dan semangat yang tinggi memenuhi panggilan Allah, menyambut seruan-Nya untuk menjalankan ibadah umrah dan haji.
Dan dengan segala keikhlasan hati, penuh cinta kasih dan kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan Allah SWT serta berjanji untuk patuh, tunduk dan taat menjalankan segala perintah-Nya kapanpun dan dimanapun dia berada.
Pertemuan itu ditandai dengan kunjungan ke Rumah-Nya atau Ziarah ke Baitullah dan dengan harapan agar dikabulkan segala permohonannya dan diterima amal ibadahnya.
Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya menyatakan bahwa perbuatan seorang mukmin tidak akan diterima oleh Allah kecuali setelah tepenuhi dua syarat pokok. Yang pertama ikhlas dan yang kedua shawaab (benar). Ikhlas artinya amalan itu dilakukan dengan hati bersih tanpa ada maksud dan tujuan lain dibalik itu.
Dan shawaab adalah ittiba’ atau mutaaba’ah yakni selalu mengikuti ketentuan syariat Allah dan tuntunan Rasulullah saw.
Siapa yang kehilangan ikhlas, ia adalah munafiq dan siapa yang kehilangan ittiba’ atau mutaaba’ah ia adalah orang yang tersesat lagi dungu. (Tafsir S.An-Nisa [4] : 124)
Syukur, Sabar dan Tawakkal
Tauhidullah atau mengesakan Allah menuntut setiap muslim untuk menghindari diri dari segala bentuk syirik sekecil apapun. Karena Rasulullah sangat khawatir akan umatnya tertimpa syirik kecil yaitu riya.
Kalimah Talbiyah yang terdiri dari al-hamda, an-ni’mata, al-mulk juga mengajarkan kepada kita untuk senatiasa bersyukur, sabar, dan tawakkal.
Lafadz innal hamda, mengingatkan kita akan segala nikmat anugerah Allah yang tak putus-putusnya kita peroleh dalam hidup ini, harus dibarengi dengan puji syukur tak henti-hentinya selama hayat masih dikandung badan.
Lafadz an- ni’mata dalam Talbiyah, juga menyadarkan kepada kita bahwa nikmat sehat, usia bertambah, harta, tahta, jabatan, rasa senang dan bahagia, dsb. adalah bagian dari ujian hidup yang wajib kita syukuri.
Sebaliknya bila ujian itu datang dalam bentuk musibah, kesulitan dan derita, segera kita introspeksi diri, evaluasi dan atasi semua itu dengan sikap sabar.
Lafadz al-mulk dalam Talbiyah juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa tawakkal kepada Allah. Karena Dia Maalikul Mulk, Rajadiraja.
Katakanlah, wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan itu dari tangan siapa saja yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS.3 : 26).
Mari kita biasakan diri untuk selalu bertawakkal kepada Allah. Kita serahkan segala urusan kita kepada-Nya , karena Dia Mahatahu dan Maha Mengatur.
Namun usaha, ikhtiar dan doa tidak boleh dilalaikan, karena tawakkal bukan fatalisme, pasrah dan menerima.
Usaha, ikhtiar dan doa terus dilakukan, tawakkal kepada Allah tidak boleh ditinggalkan. “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawkkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.3 :159).
Wallahu a’lam.
KH Muhammad Abbas Aula
Pimpinan Ponpes Quran wal Hadis Bogor
