Takwa Harus Tampak dalam Sikap Seorang Muslim
Ustaz H Afrizal Sofyan SPdI MAg
Aceh Besar (Mediaislam.id)–Takwa bukan hanya tampak dalam ibadah-ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, namun takwa juga harus tampak dalam sikap hidup seorang muslim di tengah masyarakat. Orang yang bertakwa adalah orang yang peduli terhadap kebaikan bersama, yang memperjuangkan keadilan dan yang berusaha mencegah berbagai bentuk kemungkaran. Oleh karena itu, orang yang benar-benar bertakwa tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kesholehan dalam tatanan sosial.
Dalam pandangan Allah, kualitas manusia tidak diukur dari strata sosial dengan segala macam atribut yang melekat pada dirinya seperti kedudukan, jabatan, gelar, kekayaan, dan keturunan. Namun, kualitas manusia hanya dipandang dari tingkat ketakwaannya (QS Al- Hujurat: 13). Orang-orang yang paling bertakwalah yang mulia.
Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar, Ustaz H Afrizal Sofyan SPdI MAg, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Nurul Jadid, Lampeuneuen, Kecamatab Darul Imarah, Aceh Besar, 10 April 2026 bertepatan 21 Syawal 1447 Hijriah.
Ia menjelaskan, ketika ketaqwaan ditinjau dari aspek sosial, maka orang yang yang bertaqwa memiliki dua tingkatan, pertama level rendah dan level tinggi yang sempurna yang diharapkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Orang yang bertaqwa dilevel rendah adalah dengan tidak menyakiti orang lain.
Hal ini sesuai dengan hadist imam Ahmad dari sahabat Abu Hurairah RA ketika Rasulullah saw ditanya “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang rajin shalat malam, puasa di siang hari, banyak beramal dan bersedekah, tetapi ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk penghuni neraka.” Mereka berkata lagi, “Ada wanita lain yang hanya mengerjakan shalat wajib, bersedekah sedikit, dan tidak menyakiti siapa pun, ” Beliau bersabda, “ Dia termasuk penghuni surga.”
Hadis ini menunjukkan, ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan sedekah adalah hak Allah Swt dan menyakiti orang lain adalah pelanggaran terhadap hak manusia dan kezaliman terhadap manusia dan bisa menggugurkan pahala ibadah jika tidak diampuni. Di samping itu, Rasulullah saw juga menegaskan bahwa dosa sosial bisa lebih berbahaya daripada kekurangan ibadah sunnah.
Menurut Ustaz Afrizal, hadist ini juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan sosial (taqwa sosial). Taqwa bukan hanya menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga menjaga hubungan dengan manusia (keluarga, kerabat, tetangga dan masyarakat). Hal ini dapat dipahami, ibadah ritual (shalat, zakat, puasa, haji dan lainnya) memiliki fungsi ganda yaitu mendekatkan diri kepada Allah (spiritual) dan merawat hubungan sesama manusia (sosial).
“Adapun orang yang bertaqwa dilevel tinggi dan sempurna adalah orang yang bertaqwa yang selalu memperhatikan dan membantu orang lain yang membutuhkan baik dalam bentuk materi maupun non-materi,” ungkap Direktur pendidikan di Dayah Oemar Diyan ini.
Untuk hal ini, Allah Swt merincikan dalam al Qur’an pada surat ali Imran ayat 134 yang berbunyi,” (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Ia mengharapkan, seluruh umat Islam menjadi hamba-hamba Allah Swt yang betul-betul bertaqwa dalam makna yang sesungguhnya yaitu taqwa secara vertikal dan taqwa secara sosial dalam kehidupan dalam dunia modern yang penuh tantangan saat ini, dimana semangat hedonisme semakin berkembang, individualistis semakin ditonjolkan kepedulian sosial cendrung diabaikan, maka kepedulian sosial perlu terus dikampanyekan, digalakkan dan ditingkatkan.
“Apalagi di Aceh yang bersyariat, yang kepedulian sosial erat kaitannya dengan ketaqwaan dan bagian dari kekuatan Iman setiap muslim,” pungkas Dewan Pengawas Syariah Rumah Sakit Ibnu Sina Indrapuri ini.*
