Ketua PBNU: Kunjungan ke Tiga Kedubes untuk Dorong Perdamaian Timteng

 Ketua PBNU: Kunjungan ke Tiga Kedubes untuk Dorong Perdamaian Timteng

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes AS Peter M. Haymond di kediaman duta besar, Jakarta, Rabu (01/04/2026).

Jakarta (Mediaislam.id) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla mengklaim, kunjungan PBNU ke tiga kedutaan besar yakni Kedubes Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat, beberapa pekan terakhir untuk mendorong perdamaian di Timur Tengah (Timteng).

Ulil menjelaskan, pihaknya melakukan kunjungan ke kedutaan besar untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menggali informasi resmi mengenai situasi konflik.

“PBNU sebagai lembaga melakukan diplomasi yang sifatnya tadi itu, diplomasi yang soft yang dilakukan oleh Gus Yahya bersama teman-teman dari PBNU,” kata Ulil dalam diskusi sekaligus peringatan Harlah Lakpesdam PBNU di Jakarta, Selasa (07/04/2026) seperti dilansir ANTARA.

PBNU menyesalkan adanya framing negatif di media sosial terkait kunjungan tersebut. Salah satu isu yang beredar adalah tudingan bahwa PBNU menerima mandat dari pihak tertentu dalam menyampaikan sikap terkait konflik.

“Nah framing-framing ini beredar di media sosial, saya sudah memberikan klarifikasi, ya tetapi namanya black campaign tentu saja masih berkembang sampai sekarang,” ujarnya.

Ulil menegaskan posisi PBNU jelas menghendaki agar konflik segera diakhiri melalui jalur diplomasi. Menurutnya, perang membawa dampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga masyarakat global termasuk Indonesia.

Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Indonesia yang menahan kenaikan harga minyak di tengah tekanan global, meski berdampak pada peningkatan beban subsidi negara.

“Kita hari-hari ini mungkin masih merasa tanda kutip sedikit beruntung, karena pemerintah kita berhasil menahan kenaikan harga minyak. Walaupun itu tentu dengan sangat berat sekali beban fiskalnya karena akan menambah beban subsidi yang sangat besar sekali,” kata Ulil.

Di sisi lain, Ulil menilai konflik di kawasan tidak akan berlangsung lama. Ia menyoroti kesiapan Iran dalam menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan, namun di sisi lain menilai Amerika Serikat dan Israel memiliki keterbatasan, terutama dari tekanan domestik.

Ia juga menyinggung dinamika politik di Amerika Serikat, termasuk penurunan tingkat popularitas Donald Trump menjelang pemilu.

“Saya melihat konflik ini tidak akan berlangsung lama. Akan ada upaya untuk segera mengakhirinya tanpa kehilangan muka,” kata Ulil.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =