Al-Aqsha Tanpa Takbir, Keheningan Idulfitri Guncang Yerusalem

 Al-Aqsha Tanpa Takbir, Keheningan Idulfitri Guncang Yerusalem

Ilustrasi: Kompleks Masjid Al Aqsha. [Anadolu]

Yerusalem (Mediaislam.id) – Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, suara takbir Idulfitri tidak menggema dari halaman Masjid Al-Aqsha. Di tempat yang biasanya dipenuhi jutaan doa dan langkah kaki jamaah, yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam.

Bagi warga Palestina, keheningan itu bukan sekadar absennya suara—melainkan simbol dari sesuatu yang lebih dalam: pembatasan, kehilangan, dan kekhawatiran akan masa depan hak beribadah mereka.

Hari Raya yang Dihalangi

Tidak terdengarnya takbir bukanlah kebetulan. Itu adalah konsekuensi dari pembatasan ketat yang diberlakukan oleh otoritas pendudukan, yang mencegah ribuan jamaah melaksanakan salat Id di salah satu situs suci paling penting dalam Islam.

Penutupan Masjid Al-Aqsha selama momen keagamaan paling sakral ini memicu pertanyaan serius tentang kebebasan beribadah dan perlindungan hak asasi manusia.

Bagi warga Yerusalem, ini adalah pengalaman yang mengguncang secara emosional dan spiritual.

Penutupan Berkepanjangan

Menurut sumber di Yerusalem, penutupan Masjid Al-Aqsha telah berlangsung sejak 28 Februari, mencakup sebagian besar bulan Ramadan, termasuk sepuluh hari terakhir yang biasanya dipenuhi ibadah intens.

Penutupan tersebut juga mencakup larangan total pelaksanaan salat Idulfitri di dalam kompleks masjid.

Langkah ini dilakukan dengan alasan keadaan darurat terkait perkembangan regional, namun banyak warga Palestina melihatnya sebagai upaya sistematis untuk mengubah realitas di lapangan.

Salat di Gerbang: Simbol Keteguhan

Meski akses ke dalam masjid ditutup, warga Palestina tidak sepenuhnya menghentikan ibadah mereka.

Di sekitar gerbang, terutama di kawasan Bab al-Asbat, jamaah tetap melaksanakan salat Isya dan Tarawih. Rekaman yang beredar menunjukkan barisan jamaah yang berdiri di luar, sebagai bentuk keterikatan yang tidak terputus dengan Al-Aqsha.

Namun, upaya tersebut tidak luput dari tekanan. Pasukan pendudukan dilaporkan membubarkan jamaah dan bahkan menyingkirkan salah satu penjaga masjid—langkah yang dipandang sebagai eskalasi lebih lanjut terhadap ekspresi keagamaan.

Seruan untuk Mendekat, Bukan Menjauh

Dengan dilarangnya salat Id di dalam masjid, khatib Al-Aqsha menyerukan kepada warga Yerusalem, wilayah Palestina di Israel, dan Tepi Barat untuk melaksanakan salat di titik terdekat dari kompleks masjid.

Seruan ini bukan hanya soal ibadah, tetapi juga pernyataan simbolis: bahwa hubungan dengan Al-Aqsha tidak dapat diputus oleh pembatasan fisik.

Kemarahan dan Kekecewaan Global

Keputusan melarang salat Id memicu gelombang kemarahan di media sosial dan di kalangan aktivis internasional. Banyak yang menilai langkah tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang menargetkan situs suci Islam serta melanggar kebebasan beragama.

Sejumlah pengamat dan organisasi hak asasi manusia menilai tindakan ini berpotensi melanggar hukum internasional yang menjamin hak beribadah tanpa gangguan.

Namun, di tengah kecaman tersebut, banyak warga Palestina mempertanyakan efektivitas respons global yang dinilai belum mampu mengubah realitas di lapangan.

Bukan Sekadar Insiden Sementara

Fakhri Abu Diab, peneliti yang mengkhususkan diri pada isu Yerusalem, menilai bahwa penutupan ini bukanlah langkah sementara.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi kehadiran warga Palestina di dalam Masjid Al-Aqsha dan melemahkan hubungan spiritual mereka dengan tempat suci tersebut.

Ia memperingatkan bahwa tidak adanya tindakan nyata dari komunitas internasional dapat membuka jalan bagi pengulangan kebijakan serupa di masa depan.

Keheningan yang Berbicara

Bagi mereka yang menyaksikan langsung, Idulfitri tahun ini adalah yang paling sulit.

Halaman masjid yang biasanya dipenuhi jamaah kini kosong—sebuah pemandangan yang tidak hanya asing, tetapi juga menyakitkan.

Keheningan di Al-Aqsha pada hari raya bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah pesan yang menggema lebih keras dari takbir: tentang pembatasan, tentang perjuangan, dan tentang harapan yang terus bertahan.

Di tengah sorotan dunia, pertanyaan besar tetap menggantung—apakah keheningan ini akan menjadi awal dari perubahan, atau justru pertanda normalisasi dari pembatasan yang semakin dalam?

sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × one =