Soal Pengiriman TNI ke Gaza, MUI Ingatkan Pemerintah Waspadai Jebakan Agenda Amerika
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim
Jakarta (Mediaislam.id)–Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, memperingatkan pemerintah untuk berhati-hati terkait rencana pengiriman 5.000 hingga 8.000 personel TNI ke Gaza. Ia menilai misi yang berjalan di bawah kerangka International Stabilization Force (ISF) tersebut berisiko tinggi menjadi alat kepentingan hegemonik Amerika Serikat dan Israel.
Sudarnoto menyoroti gencarnya pemberitaan media Israel yang menyebut Indonesia sebagai negara pertama yang akan menerjunkan pasukan di Gaza. Meski TNI AD dikabarkan telah melakukan berbagai persiapan, ia mencurigai adanya agenda terselubung di balik pembentukan ISF yang diduga berada di bawah kendali Amerika Serikat.
Menurut Sudarnoto, misi ISF mengarah pada penciptaan keamanan regional pascakonflik yang sejalan dengan program demiliterisasi di Gaza. Ia menegaskan bahwa dalam logika ISF, stabilitas hanya bisa dicapai jika senjata kelompok perlawanan, termasuk Hamas, dilucuti.
”Logikanya jelas, selama ada Hamas yang bersenjata, keamanan wilayah dianggap tidak akan terwujud. Karena itu, Hamas harus dilucuti senjatanya, bukan tentara Israel. Ini adalah misi yang sangat berbahaya,” ujar Sudarnoto dalam keterangannya, Selasa (10/2).
Lebih lanjut, Sudarnoto menyoroti status legalitas ISF yang dinilai belum menjadi entitas resmi tunggal di bawah mandat langsung Dewan Keamanan PBB, tidak seperti pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon atau UNDOF di Dataran Tinggi Golan.
Sudarnoto memperingatkan bahwa tanpa mandat internasional yang murni, Indonesia berisiko terjebak dalam agenda untuk menundukkan Palestina. “Jangan sampai kita terperangkap dalam agenda Amerika dan Israel. Jika tidak dipertimbangkan matang, pasukan kita berisiko berhadapan langsung dengan Hamas di lapangan,” tambahnya.
Sudarnoto menegaskan bahwa konfrontasi antara tentara Indonesia dengan kelompok perlawanan Palestina akan menjadi bencana diplomatik. Hal ini dianggap dapat menghancurkan reputasi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pembela gigih kemerdekaan Palestina.
”ISF bukanlah instrumen perdamaian atau kemerdekaan Palestina. Padahal, perjuangan kita adalah menghapuskan penjajahan Israel. Sangat rasional bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kembali pengiriman tentara dalam kerangka ISF ini demi menjaga marwah bangsa dan keselamatan para prajurit,” tutup Sudarnoto.*
